Cara Pensiunan Dokter Ini Tangani Pasien Virus Corona Bikin Dunia Terharu

Your Story | Rabu, 5 Februari 2020 17:36
Cara Pensiunan Dokter Ini Tangani Pasien Virus Corona Bikin Dunia Terharu

Reporter : Sugiono

Dokter berusia 86 tahun seharusnya menikmati masa pensiun. Namun dia tinggalkan masa tua karena prihatin dengan korban virus corona.

Dream - Penyebaran virus corona yang sangat cepat membuat publik cemas sekaligus prihatin dengan nasib penduduk di Wuhan, provinsi Hubei, China. Mereka tergerak untuk sebisa mungkin membantu para korban dengan daya yang dimiliki.

Keprihatinan juga dirasakan seorang pensiunan dokter yang sudah berusia 86 tahun. Dia dipuji sebagai pahlawan setelah terpanggil untuk turun kembali mengenakan pakaian dokternya untuk merawat pasien yang terjangkit virus corona baru atau 2019-nCoV.

Profesor Dong dari Wuhan, yang merupakan pusat penyebaran virus 2019-nCoV, 'turun gunung' setelah mendengar pengelola rumah sakit kewalahan menangani pasien terjangkit virus 2019-nCoV. Setiap hari jumlah korban terinfeksi virus yang belum ditemukan penangkalnya ini terus saja bertambah.

Netizen semakin salut dan hormat kepada Profesor Dong karena yang sudah pensiun selama bertahun-tahun itu merawat pasien dari kursi roda. Usia senja membuatnya tidak bisa berdiri dan berjalan lagi.

Profesor Dong adalah satu di antara warga Wuhan yang secara sukarela membantu pasien virus 2019-nCoV. Para relawan ini siap mempertaruhkan nyawa karena kemungkinan tertular virus yang mematikan itu.

Seperti diketahui sebelumnya, virus 2019-nCoV menyebar dengan cepat ke seluruh kota Wuhan hingga menyebabkan banyak orang, termasuk para turis, tertular.

2 dari 6 halaman

Tak Lelah Meski Bekerja Pakai Kursi Roda

Akibat jumlah orang yang terinfeksi semakin bertambah banyak, tenaga medis di rumah sakit Wuhan semakin tertekan karena merawat terlalu banyak pasien.

Begitu banyaknya orang yang terinfeksi virus membuat rumah sakit Wuhan cepat penuh sehingga beberapa pasien bahkan harus berbagi tempat tidur.

Meski mendengar bahwa beberapa dokter juga terinfeksi dan yang lain pingsan karena kelelahan, Profesor Dong memutuskan untuk membantu. Dia pergi ke Rumah Sakit Anak Wuhan tempat dia biasa melayani pasiennya dulu selama beberapa dekade.

Meskipun sambil duduk di kursi roda, dokter tanpa tanda jasa ini tak kenal lelah merawat pasien-pasien mudanya. Di saat krisis virus seperti ini, bantuan Profesor Dong sangat penting dan berharga.

Sejak Wuhan mengumumkan isolasi total terhadap kota itu pada hari Kamis, 23 Januari 2020, Profesor Dong yang baik hati ini telah merawat lebih dari 30 pasien sehari.

Sumber: The Summit Express

3 dari 6 halaman

10 Hari Bekerja Tanpa Henti Cegah Virus Corona Menyebar, Staf Medis Meninggal

Dream - Wabah virus corona baru atau disebut juga virus 2019-nCoV yang pusat penyebarannya di Wuhan telah menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dan 24.505 orang terinfeksi.

Virus corona yang bisa menyebar antar manusia ini membuat para staf medis yang bertugas memulihkan para penderita terkena imbasnya.

Baru-baru ini seorang staf medis yang bekerja di garis depan dalam menangani virus 2019-nCoV ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya.

Jasad staf medis ini ditemukan teman-temannya sudah dalam kondisi tidak bernyawa yang bermaksud menjemputnya untuk bekerja.

Staf medis berjenis kelamina pria yang masih berusia 28 tahun itu diduga mengalami kelelahan setelah bekerja tanpa istirahat karena menangani korban yang terpapar virus 2019-nCoV.

Pria yang diidentifikasi bernama Song Yingjie ini adalah wakil kepala farmasi di sebuah pusat kesehatan di daerah Henshang.

Song sudah bekerja di pusat kesehatan tersebut sejak April 2016. Dia bergabung dengan tim medis yang ditempatkan di Yuelin Expressway.

Selama bergabung dengan tim penanganan virus 2019-nCoV, dia bersikeras untuk bekerja setiap hari. Song mulai bekerja dari 25 Januari, yang merupakan hari pertama Tahun Baru China.

Song bertanggung jawab atas distribusi pasokan obat-obatan kepada rekan-rekannya. Song bekerja keras selama 10 hari dan sembilan malam saat negara itu berjuang untuk mencegah virus Wuhan.

Pada 3 Februari, Song akhirnya bisa menyelesaikan tugasnya pada jam 12 pagi waktu setempat dan kembali ke kamar kosnya untuk istirahat.

Sedihnya, rekan-rekannya menemukan dia meninggal di kamar kosnya. Song diduga meninggal akibat serangan jantung mendadak yang disebabkan oleh kelelahan. Pihak berwenang masih menyelidiki kasus ini.

(Sah, Sumber: World of Buzz)

4 dari 6 halaman

Penularan Virus Corona Lebih Cepat Dibanding Flu Burung

Dream - Virus Corona Wuhan (2019-nCoV) telah menyebar ke 25 negara di dunia. Hingga hari ini, 4 Februari 2020 terdapat 20.626 kasus dengan kematian mencapai angka 426 orang.

Laju penularan virus Corona dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan virus flu burung. Penularan juga akan sangat berisiko jika melakukan kontak langsung dengan orang yang terjangkit virus.

" Laju transmisi penularannya berskala 1:2, 1 orang yang terindikasi berpotensi menularkan 2 orang lainnya dan berpangkat, jadi jika ada 2 orang yang terindikasi, maka akan berpotensi menular ke 4 orang lainnya dan seterusnya," ujar dr. Raden Rara Diah, spesialis paru di acara Media Briefing Virus Corona Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok, pada hari Selasa, 4 Februari 2020.

Dokter yang juga menjalani praktik di RS Pondok Indah dan RS Persahabatan tersebut juga mensosialisasikan alur deteksi virus corona yang telah ditetapkan oleh WHO (World Health Organization) di seluruh dunia.

" Yang pertama itu kan sudah dipasang thermal scanner di bandara-bandara" , ujarnya.

Thermal Scanner mampu merekam suhu berbagai objek yang melintasi perangkatnya dengan warna-warna yang berbeda. Apabila ada seseorang yang demam, akan muncul warna kuning, oranye atau merah yang berarti memiliki suhu tubuh tinggi.

 

5 dari 6 halaman

Riwayat Perjalanan ke China

Bukan hanya suhu tubuh, riwayat perjalanan juga sangat penting untuk dilihat. Jangan mengabaikan jika demam muncul setelah melakukan perjalanan ke negara yang terdapat kasus corona.

 Wabah Virus Corona, Malindo Air Batalkan Penerbangan ke Wuhan© MEN

" Orang yang dengan riwayat perjalanan ke China, dia tidak ada sakit tetapi ia melapor ke fasilitas kesehatan, kita akan melakukan pemeriksaan dan akan diminta pemantauan dengan cara diisolasi terlebih dahulu" , kata dr. Diah.

Orang yang diisolasi diharuskan berada di rumah dan tidak boleh berpergian. Pengawasan juga akan dilakukan oleh dinas kesehatan baik lewat telepon atau pun secara langsung dan dipantau gejala serta perkembangannya secara berkelanjutan.

6 dari 6 halaman

Pentingnya Edukasi

" Akan diberi edukasi jika ada gejala yang memberat misalkan jadi batuk, jadi sesak, maka dimungkinkan ia harus ke rumah sakit rujukan" , ungkap dr. Diah.

 Istana: Virus Corona Belum Masuk Indonesia© MEN

Jika sudah memiliki gejala, orang yang terindikasi akan langsung diantar oleh petugas kesehatan dengan ambulance karena tidak bisa diantar oleh sembarang orang demi menghindari perpindahan virusnya. Para petugas kesehatan yang menangani juga akan menggunakan pakaian khusus.

Laporan: Raissa Anjanique Nathania

Video Polisi Tes Kandungan Sabu Cair dalam Mainan Anak-anak
Join Dream.co.id