Tahan Tertawa dengan Tersenyum Tak Batalkan Sholat?

Your Story | Sabtu, 22 Juni 2019 18:30
Tahan Tertawa dengan Tersenyum Tak Batalkan Sholat?

Reporter : Ahmad Baiquni

Senyum dan tertawa punya dampak berbeda pada sholat kita.

Dream - Senyum adalah tanda yang terjadi pada manusia setiap kali mengetahui atau mendengar kabar baik. Apalagi jika peristiwa yang dijumpai tergolong lucu.

Kapan saja ada kabar lucu, ujung mulut bisa langsung merekah. Secercah senyum pun terbentuk.

Tidak jarang senyum muncul ketika seseorang sedang sholat. Sebabnya, ada kejadian lucu di dekat orang sholat itu.

Jika tersenyum ketika sedang sholat apakah jadi batal?

 

2 dari 6 halaman

Hukum Tersenyum Saat Sholat

Dikutip dari Bincang Syariah, Syeikh Abu Bakar Syatha dalam I'anatut Thalibin menjelaskan sholat memiliki syarat yang apabila dilanggar bisa membatalkannya.

Namun demikian, syarat itu tidak termasuk tersenyum. Sehingga, tersenyum tidak membuat sholat jadi batal.

Berbeda dengan tertawa, apalagi yang terbahak dan mengeluarkan suara. Tertawa bisa membatalkan sholat.

" Termasuk hal yang membatalkan sholat adalah tertawa (yang mengeluarkan suara, seperti tertawa terbahak-bahak). Namun tersenyum bukan termasuk yang membatalkan sholat, karena senyum itu tak mengeluarkan suara dan huruf-huruf."

 

3 dari 6 halaman

Pernah Terjadi Para Rasulullah SAW

Menurut Syeik Abu Bakar Syatha, Rasulullah Muhammad SAW pernah tersenyum ketika sedang sholat. Hal ini tercantum dalam hadis riwayat Daruquthni dari Jabir RA.

" Diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah SAW itu pernah sholat Asar kemudian tersenyum. Setelah selesai sholat, kemudian beliau yang tersenyum saat sholat itu ditanyakan kepadanya, 'Rasul, mengapa engkau tersenyum padahal sedang sholat?' Rasulullah SAW menjawab, 'Malaikat Mikail lewat. Di sayapnya terdapat debut, dan ia tertawa padaku, aku pun tersenyum padanya. Ia kembali mencari kaum."

Sumber: bincangsyariah.com

4 dari 6 halaman

Syarat Jarak Tidak Tercukupi, Bolehkah Menjamak Sholat?

Dream - Umat Islam yang sedang dalam perjalanan mendapatkan keringanan dari syariat. Keringanan atau rukhshah itu berupa dibolehkannya melaksanakan sholat fardlu dengan cara menjamak.

Namun demikian, para ulama menetapkan syarat dibolehkannya menjamak sholat. Salah satunya yaitu jarak perjalanan yang mencapai dua marhalah.

Sedangkan definisi mengenai dua marhalah sendiri berbeda-beda. Ada yang menyebut dua marhalah itu sepanjang 16 farsakh atau 48 mil, 4 barid, 2 hari, atau 86 kilometer.

Tetapi, apabila berperjalanan kurang dari dua marhalah, apakah dibolehkan untuk menjamak sholat?

5 dari 6 halaman

Kriteria Dua Marhalah Menurut Ulama

Dikutip dari NU Online, para ulama berbeda pandangan mengenai jarak nyata dari dua marhalah. Sebagian ulama menyatakan dua marhalah itu setara jarak 80,64 kilometer, sebagian lainnya menyatakan 88,74 kilometer.

Ulama Mazhab Hanafiyah punya kriteria berbeda, menyatakan dua marhalah setara dengan 96 kilometer. Sedangkan jumhur (mayoritas) ulama menetapkan 119,9 kilometer.

Di Indonesia sendiri, masalah ini pernah dibahas dalam Konferensi Besar ke-1 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada 1960 di Jakarta. Konferensi yang diikuti para kiai ini mencoba memecahkan persoalan mengenai syarat jamak sholat.

Dalam konferensi tersebut disepakati tidak ada pendapat dari ulama yang membolehkan qashar sholat jika berperjalanan kurang dari dua marhalah.

Tetapi, melaksanakan jamak sholat saat di rumah atau sebelum berangkat pergi, terdapat pendapat yang membolehkan selama terdapat uzur dan tidak menjadi kebiasaan.

6 dari 6 halaman

Jamak di Rumah, Boleh?

Hasil pembahasan tersebut mendasarkan pada pendapat dari sejumlah ulama. Salah satunya yaitu Imam An Nawawi yang dituangkan dalam kitab Syarh Shahih Muslim.

" Sejumlah imam berpendapat tentang kebolehan menjamak sholat di rumah karena hajat bagi orang yang tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Itu adalah pendapat Ibnu Sirin, Asyhab murid Imam Malik. Al Khaththabi menghikayatkan pendapat ini dari Al Qaffal, Al Syasyi Al Kabir murid As Syafi'i, dari Abu Ishaq Al Marwazi dari sekelompok ulama ahli hadis. Pendapat itu dipilih pula oleh Ibnul Mundzir."

Uraian di atas menunjukkan jamak dan qashar merupakan dua amalan berbeda. Jamak sholat jika dalam perjalanan kurang dari dua marhalah masih dibolehkan selama terdapat hajat serta tidak menjadi kebiasaan, sementara qashar tidak boleh.

Meski boleh menjamak sholat ketika dalam perjalanan kurang dari dua marhalah bahkan sebelum berangkat pergi, sangat diajurkan untuk tidak menjadikan rukhshah ini sebagai kebiasaan. Sebabnya, kebolehan yang ada hanya bersifat pengecualian.

(ism, Sumber: NU Online)

Terkait
Bukan Pertama Kali, Ini Deretan Kebrutalan Anjing Milik Bima Aryo
Join Dream.co.id