Perjalanan Sejarah Penterjemahan Alquran di Indonesia

Your Story | Rabu, 10 Juli 2019 18:00
Perjalanan Sejarah Penterjemahan Alquran di Indonesia

Reporter : Ahmad Baiquni

Jejak penterjemahan Alquran di Nusantara terlacak pertama kali terjadi pada abad ke-17.

Dream - Alquran memiliki kedudukan sangat penting dalam kerangka keimanan umat Islam. Kitab suci tersebut diturunkan untuk menjadi pegangan sekaligus petunjuk bagi Muslim.

Diturunkan dalam bahasa Arab membuat orang Islam di luar Arab, khususnya Indonesia, harus belajar memahami artinya. Tidak sedikit dari umat Islam di Idonesia yang akhirnya memanfaatkan terjemahan agar dapat menangkap maksud dari setiap ayat.

Dikutip dari Bincang Syariah, keberadaan Alquran terjemahan sebagai sumber rujukan tidaklah sepenuhnya salah. Karena terjemahan Alquran disusun dan dikaji oleh para ulama Indonesia untuk memudahkan umat Islam menangkap makna dari tiap-tiap ayat.

Proses penterjemahan Alquran di Indonesia memiliki sejarah cukup panjang. Sebelum ada Alquran terjemahan yang disusun Departemen Agama, sudah banyak ulama yang membuat Alquran terjemahan sejak abad ke-17.

Tetapi, terjemahan tersebut merupakan versi dari masing-masing ulama yang tentu berbeda antara satu dengan lainnya. Contohnya seperti Syeikh 'Abdu Ar Raud As Sinkili dengan kitabnya Turjuman Al Mustafid.

Kitab ini disebut sejumlah pakar sebagai Alquran terjemahan pertama meski tidak semuanya sepakat. Sebab, kitab tersebut juga memuat tafsir dari pengarangnya.

2 dari 6 halaman

Sempat Diharamkan Ulama

Meski demikian, penyusunan Alquran terjemahan sempat mengalami penolakan dari sejumlah ulama. Salah satu ulama Nusantara mengharamkan penterjemahan Alquran adalah Sayyid Usman bin Yahya yang kondang dengan julukan 'Mufti Betawi' di awal abad ke-20.

Namun begitu, semangat penyusunan Alquran terjemahan tidak surut. Muncul sejumlah tokoh yang tercatat pernah menyusun terjemahan Alquran pasca-kemerdekaan, salah satunya adlah Prof. Muhammad Yunus.

3 dari 6 halaman

Mushaf Terjemahan Resmi Pemerintah Indonesia

Alquran terjemahan secara resmi dirilis Departemen Agama pada 1965. Sejak saat itu, mushaf terjemahan itu terus dipakai banyak pihak.

Terjemahan Alquran tersebut baru direvisi pada 1990. Projek revisi tersebut menghasilkan Alquran terjemahan setebal 1294 halaman yang dilengkapi catatan kaki dan penjelasan seputar ilmu-ilmu Alquran dan sejarah penterjemahan di dunia.

Revisi baru dilakukan kembali pada 2002. Di tahun itu, terjadi penghapusan catatan kaki sehingga mushaf Alquran terjemahan menjadi lebih tipis yaitu 960 halaman. Mushaf revisi tersebut digunakan hingga saat ini.

Baru pada tahun ini, Kementerian Agama lewat Lajnah Pentashih Mushaf Alquran berencana kembali meluncurkan revisi terjemahan Alquran. Peluncuran dilaksanakan setelah terjadi pembahasan yang melibatkan para ulama Alquran serta pakar Bahasa Indonesia.

Sumber: Bincangsyariah.com

4 dari 6 halaman

Menag: Terjemahan Tak Sepenuhnya Gambarkan Maksud Alquran

Dream - Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, mengingatkan masyarakat mengenai pemahaman Alquran melalui terjemahan. Sebab, terjemahan Alquran, tetap bukanlah Alquran itu sendiri.

" Terjemahan tidak dapat sepenuhnya menggambarkan maksud Alquran," kata Lukman, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Selasa 9 Juli 2019.

Menurut Lukman, bahasa-bahasa yang ada di dunia terlalu miskin untuk bisa menerjemahkan maksud Alquran sesuai yang dikehendaki Allah SWT.

" Terjemahan Alquran hanyalah sarana untuk memahami makna kata-kata, kalimat dan ayat Alquran. Itu pun masih harus diuji dan diperluas lagi pemahamannya melalui buku-buku tafsir," ucap dia.

Ijtimak Ulama Alquran berlangsung sejak 8 hingga 10 Juli ini diikuti 110 peserta yang terdiri dari ulama, akademisi, dan pemerhati kajian tafsir dan ilmu Alquran dari berbagai unsur. Ijtimak Ulama Alquran ini akan diawali dengan Seminar Penerjemahan Alquran.

Seminar akan mendiskusikan kajian seputar penerjemahan Alquran dan hal-hal yang terkait dengan upaya penerjemahannya.

Tampil sebagai narasumber, antara lain, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, Ph.D, Dr. TGH Zainul Majdi, MA, Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum, dan Prof. Dr. Said Agil al-munawwar.

5 dari 6 halaman

Kemenag Uji Sahih Terjemahan Alquran

Dream - Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama akan menyelenggarakan Ijtimak Ulama Alquran Tingkat Nasional. Kepala LPMQ, Muchlis M Hanafi mengatakan, ijtimak yang digelar di Bandung, 8 hingga 10 Juli 2019, ini mengusung tema “ Uji Sahih Terjemahan Al-Qur’an Edisi Penyempurnaan”.

Muchlis mengatakan, ada dua agenda besar yang akan dibahas pada Ijtimak Ulama Al-Qu'ran Tingkat Nasional. Dia menyebut, agenda pertama yaitu seminar penerjemahan Alquran. Seminar ini didiskusikan kajian seputar penerjemahan Alquran dan upaya penerjemahan Alquran.

Sejumlah narasumber yang akan hadir yaitu, Thomas Djamaluddin, Zainul Majdi, Dadang Sunendar, dan Said Agil al-Munawwar.

“ Agenda kedua adalah pembahasan terjemahan Alquran Kementerian Agama Edisi Penyempurnaan juz 21 hingga juz 30. Ini merupakan kelanjutan dari Mukernas Ulama Alquran tahun 2018 yang telah membahas juz 1 hingga juz 20,” kata Muchlis melalui keterangan tertulisnya, Selasa, 2 Juli 2019.

Muchlis menyebut, penyempurnaan terjemah Alquran merupakan rekomendasi dari Mukernas Ulama Alquran 2015.

6 dari 6 halaman

Apa yang Disempurnakan?

Pelaksanaan penyempurnaan terjemah ini, kata Muchlis, dilakukan melalui lima rangkaian kegiatan. Pertama, konsultasi publik ke komunitas-komunitas tertentu, mulai dari perguruan tinggi, MUI, dan pesantren untuk menjaring masukan dan saran konstruktif untuk penyempurnaan terjemahan Alquran.

Kedua, konsultasi publik secara daring melalui portal konsultasi publik. Ketiga, penelitian lapangan terkait penggunaan terjemahan Alquran di masyarakat.

Keempat, sidang reguler anggota tim pakar kajian. Kelima, uji publik atau uji sahih hasil kajian dan penyempurnaan terjemahan Alquran melalui forum ilmiah yang dihadiri para ulama dan pakar Alquran dari pelbagai provinsi di Indonesia.

“ Ada beberapa aspek yang disempurnakan, di antaranya aspek bahasa, substansi atau makna, dan konsistensi,” ucap dia.

Ijtimak Ulama Al-Qur’an Tingkat Nasional akan diikuti 110 peserta, diantaranya para ulama, akademisi, dan pemerhati kajian tafsir dan ilmu Alquran dari unsur Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, Dosen Perguruan Tinggi Islam, Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren, Asosiasi Ilmu Al-Qu'ran, dan Pusat Studi Al-Qur'an.

“ Ijtimak Ulama Al-Qur’an Tingkat Nasional ini diharapkan menjadi sarana uji publik atau uji sahih terjemah Alquran edisi penyempurnaan. Kegiatan ini juga diharapkan menghasilkan rekomendasi sebagai panduan dan bahan pertimbangan untuk kajian Alquran di masa yang akan datang,” ujar dia.

Terkait
Terima Kritik Pedas, Nada Zaqiyyah: Ternyata Adik Kelas Aku Sendiri
Join Dream.co.id