Cara Rasul Berinteraksi dengan Penderita Penyakit Menular

Your Story | Jumat, 31 Januari 2020 20:00
Cara Rasul Berinteraksi dengan Penderita Penyakit Menular

Reporter : Ahmad Baiquni

Wabah penyakit menular sudah dikenal sejak dulu.

Dream - Wabah virus corona yang muncul pertama kali di Wuhan, Hubei, China menimbulkan ketakutan di banyak negara. WHO sendiri telah menetapkan wabah virus ini dalam status darurat dunia.

Salah satu pertimbangan yang digunakan yaitu sebaran virus ini yang cukup luas. Muncul kekhawatiran dari WHO apabila virus ini menyebar ke negara-negara dengan sistem manajemen kesehatan yang masih lemah.

Virus corona menyebar dengan cepat tanpa terdeteksi. Virus ini dapat menular ke orang lain di saat penularnya belum merasakan tanda-tanda terinfeksi.

Penyakit menular sebenarnya bukan hal baru dalam peradaban manusia. Meski begitu, penyakit tersebut tetap menjadi sumber ketakutan sejak dulu hingga saat ini.

Bahkan di saat Rasulullah Muhammad SAW masih hidup, wabah penyakit menular sudah ada. Saat itu, penyakit menular yang sangat ditakuti adalah kusta atau lepra.

Kusta sudah dikenal sejak sebelum Masehi. Peradaban kuno menyebut penyakit ini merupakan kutukan dari dewa.

 

2 dari 5 halaman

Kusta Sebagai Penyakit Menular

Kusta di masa Rasulullah tetap dianggap mengerikan. Tetapi, Rasulullah memandang wabah ini semata sebagai penyakit menular yang berbahaya. 

Rasulullah sampai mengajarkan doa untuk terlindung dari penyakit menular. Doa tersebut tercantum dalam hadis riwayat Imam Abu Daud dari Anas Radliyallahu 'Anhu, yang diartikan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut:

Ya Allah, aku berlindung padamu dari belang, gila, kusta, dan penyakit-penyakit buruk.

Dalam hadis tersebut, Rasulullah menyebut kusta dengan 'judzam' yang jika diterjemahkan berarti 'memotong' atau 'terpotong'. Ini mengambarkan kondisi yang dialami penderita kusta akut, jari-jarinya sampai terputus di setiap ruasnya.

Rasulullah pun sampai mengingatkan umat Islam untuk berhati-hati terhadap penyakit kusta. Pesan itu tertuang dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari.

Menghindarlah kamu dari orang yang terkena judzam (kusta), sebagaimana engkau lari dari singa yang buas.

 

3 dari 5 halaman

Perlakuan Rasulullah Kepada Penderita Kusta

Tetapi, Rasulullah ternyata juga pernah berinteraksi dengan penderita penyakit menular. Bahkan sampai makan bersama orang tersebut, seperti terekam dalam riwayat Imam Tirmidzi.

" Sesungguhnya Rasulullah SAW memegang tangan seorang penderita kusta, kemudian memasukannya bersama tangan Beliau ke dalam piring. Kemudian Beliau mengatakan, 'Makanlah dengan nama Allah, dengan percaya serta tawakal kepada-Nya'."

Dua hadis ini di atas bagaimana Rasulullah bersikap terhadap penyakit kusta. Memang, Rasulullah bersabda agar kita menjauhi penyakit kusta, dalam artian menghindar agar tidak tertular.

Tetapi, terhadap penderitanya, Rasulullah mencontohkan agar tidak mendiskriminasi mereka. Hal ini ditunjukkan dengan cara Rasulullah memegang tangan penderita kusta dan memasukkan ke dalam piring berisi makanan yang lalu dimakan bersama.

Sumber: NU Online

4 dari 5 halaman

Tata Cara Penggunaan 'Syafakallah' dan 'Syafakillah' Untuk Orang Sakit

Dream - Salah satu adab yang diajarkan Islam adalah menjenguk orang sakit. Adab ini merupakan bagian dari silaturahmi untuk mempererat ukhuwah.

Ketika menjenguk orang sakit, kita dianjurkan untuk mendoakannya. Doa kita bisa menjadi penghibur bagi mereka yang tengah dilanda sakit.

Seringkali kita mendengar orang mengucap 'syafakallah', ada pula 'syafakillah'. Kata ini merupakan doa agar si sakit segera diberikan kesembuhan oleh Allah.

Dua kata ini memiliki makna yang sama. Jika diterjemahkan artinya adalah 'Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadamu.'

Karena artinya sama, banyak orang mengira cukup mengucap 'syafakallah' untuk semua orang sakit. Buat yang meyakini kata 'syafakillah' lebih tepat, maka lafal itu yang selalu diucapkan.

Sebenarnya, dua lafal tersebut tidak bisa digunakan secara sembarangan. Karena peruntukannya berbeda.

 

5 dari 5 halaman

Ini Cara Pemakaiannya

Dikutip dari Salamadian, jika mengikuti kaidah Nahwu Sharaf, maka diketahui tata cara penggunakaan lafal doa untuk orang sakit yang tepat.

Kata Syafakallah digunakan untuk pria sakit jumlahnya satu orang. Artinya yaitu 'Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada kamu (pria).'

Syafakillah adalah lafal untuk satu orang wanita yang sakit. Arti lafal ini adalah 'Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada kamu (wanita).'

Ada juga Syafakumullah untuk pria sakit yang jumlahnya lebih dari dua orang. Artinya 'Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada kalian (pria).'

Syafahullah, lafal untuk pria sakit yang jauh. Artinya 'Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada dia (pria)'.

Jika wanita sakit di tempat jauh, maka lafalnya Syafahallah. Artinya 'Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada dia (wanita).'

Juga ada Syafahumullah untuk pria sakit banyak. Arti lafal ini adalah 'Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada mereka (pria)."

Sedangkan wanita sakit banyak jumlahnya digunakan lafal Syafahunnallah. Artinya 'Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada mereka (wanita)."

Join Dream.co.id