Pengangon Sapi dari Kampung Lulus Memuaskan di Universitas Inggris

Your Story | Jumat, 23 Agustus 2019 10:01
Pengangon Sapi dari Kampung Lulus Memuaskan di Universitas Inggris

Reporter : Sugiono

Dia pernah dikeluarkan dari sekolah karena nilai ujiannya tidak memenuhi standar. Namun dia kuliah dan lulus dengan nilai bagus dari universitas di Inggris.

Dream - Jangan meremehkan orang dari penampilan saja. Coba tengok pemuda kampung dari Kelantan, Malaysia ini.

Dia dikeluarkan dari sekolah karena nilai ujiannya tidak memenuhi standar. Namun pengalaman pahit itu tak membuatnya patah semangat. Dia memutuskan kuliah dan lulus dari universitas di Inggris.

Tidak hanya itu saja. Dia rela bekerja menjadi cleaning service agar bisa membiayai perjalanan orang tuanya ke Inggris untuk menghadiri acara wisudanya.

Padahal, saat masih di kampung, pemuda tersebut hanya penggembala sapi dengan nilai raport yang tak terlalu istimewa.

2 dari 6 halaman

Nilai Ujian Jelek, Dikeluarkan dari Sekolah

Dalam sebuah wawancara dengan laman Facebook Humans of Kuala Lumpur, Mohammad Afiq Ismail menceritakan kisahnya dikeluarkan dari sekolah tetapi menjadi lulusan dari universitas ternama di Inggris.

Afiq mengakui nilai ujiannya jelek hingga akhirnya dikeluarkan dari sekolah sebelumnya. Tapi sekarang, dia adalah orang pertama dari kampungnya yang mampu kuliah di University of Essex di Inggris.

" Saya bahkan lulus dari University of Essex dengan predikat First Class Honors di bidang Akuntansi dan Keuangan," katanya bangga.

Saat masih di Kelantan, nilainya tidak memenuhi standar sehingga dia harus keluar dari sekolah tersebut.

 Afiq dengan kambing-kambingnya.

Beruntung dia memiliki seorang ibu yang tak pernah putus asa. Afiq bisa masuk ke sekolah menengah kejuruan akuntansi yang bagus.

Meski banyak teman yang meremehkannya, Afiq tidak menyerah dan bekerja keras untuk belajar akuntansi.

3 dari 6 halaman

Dapat Beasiswa ke Inggris

Nilai Afiq sangat bagus saat mengikuti ujian akhir di sekolah kejuruan tersebut.

" Alhamdulillah, saya mendapat nilai 10A dan 1B untuk SPM dan ditawari beasiswa JPA untuk belajar di Inggris. Namun, tidak semuanya berjalan lancar," katanya mengenang.

Satu hari, Afiq tiba-tiba ingin pulang dan membantu pekerjaan orang tuanya di kampung. Dia kasihan dengan orang tuanya yang harus mengeluarkan uang demi kuliah. Tapi, ayahnya justru menolak ide tersebut.

Sang ayah ingin Afiq tetap melanjutkan program beasiswa yang ditawarkan. Ayahnya sangat yakin karena dia tahu Afiq bisa memiliki peluang yang lebih baik dalam hidupnya jika dia meneruskan kuliah.

4 dari 6 halaman

Bekerja Jadi Cleaning Service

Ketika Afiq berangkat ke Inggris dan diterima kuliah di University of Essex, ayahnya menyembelih sapi dan mengundang orang kampung sebagai rasa syukur.

Sebagai anak kampung, Afiq ingin meniru etos kerja ayahnya yang penuh dedikasi dan keyakinan dalam menjalankan pekerjaan.

Karena itu, Afiq memutuskan untuk bekerja paruh waktu sebagai Premise Asistant di bawah Serikat Mahasiswa untuk mendapatkan uang tambahan.

Namun, istilah Premise Asistant itu hanyalah cara keren untuk mengatakan 'cleaning service'.

Afiq memulai aktivitas setelah sholat Subuh. Dia akan bersepeda ke kampus dan mulai bekerja jam 5 pagi.

" Saya mengepel lantai, menata kursi, membersihkan meja dan kemudian toilet. Pekerjaan ini bahkan lebih ringan daripada di kampung yang harus kepanasan dan mengangkat barang berat," katanya.

5 dari 6 halaman

Penghasilan Rp1,7 Juta Per Minggu

Dengan bekerja sebagai cleaning service, Afiq mendapatkan penghasilan 100 poundsterling atau Rp1,7 juta per minggu.

Afiq bekerja tiga hari seminggu. Sehari dia bekerja 5-6 jam, dengan bayaran 7,50 poundsterling atau Rp129 ribu per jam. Dia baru pulang dari kerja sekitar jam 11 siang.

" Orang-orang di Inggris berbeda. Mereka tidak menganggap cleaning service sebagai pekerjaan rendah. Mereka sangat hormat dengan petugas cleaning service," kata Afiq.

Afiq menambahkan dia sebenarnya suka bekerja sebagai cleaning service karena dapat berkonsentrasi pada tugasnya dan tidak harus berinteraksi dengan orang lain.

6 dari 6 halaman

Belikan Tiket Pesawat untuk Orang Tua

Dengan penghasilannya itu, Afiq membeli hal-hal yang tidak pernah terbeli ketika dia masih di kampung.

Namun, Afiq masih ingat untuk menyimpan sebagian uangnya untuk tiket pesawat orangtuanya ke Inggris.

Afiq mengatakan dia mengeluarkan uang sekitar 2.000 poundsterling atau Rp34,5 juta untuk tiket pesawat kedua orangtuanya.

Menurut Afiq, ini adalah pertama kalinya orangtuanya naik pesawat terbang. Dan itu adalah penerbangan pertama bagi mereka ke luar negeri.

" Keberadaan mereka saat mendampingi acara wisuda sangat berarti bagi saya. Saya tidak akan seperti ini tanpa mereka," pungkas Afiq.

(Sah, Sumber: World of Buzz)

BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie
Join Dream.co.id