Hewan Menjijikkan Bagi Orang Arab Termasuk Haram, Ini Alasannya

Your Story | Minggu, 31 Maret 2019 06:01
Hewan Menjijikkan Bagi Orang Arab Termasuk Haram, Ini Alasannya

Reporter : Ahmad Baiquni

Ada beberapa alasan mengapa orang Arab jadi patokan.

Dream - Makanan dalam Islam terikat hukum halal dan haram. Ada yang secara jelas disebutkan apa saja makanan haram, namun ada pula yang tidak.

Sebagai contoh, hewan yang secara jelas diharamkan yaitu babi, berkuku tajam atau bertaring, melata. Selain itu, masih hewan yang diharamkan namun tidak disebutkan jenisnya.

Terkait jenis kedua, terkadang masyarakat kerap mengonsumsinya. Padahal, sebenarnya memakan hewan itu adalah haram.

Syariat hanya menyebut pengharaman didasarkan pada alasan menjijikkan atau tidak. Nah, kadar menjijikkan yang digunakan dalam fikih adalah standar orang Arab.

Tentu, setiap masyarakat punya patokan mengenai menjijikkan masing-masing dan jelas berbeda. Tetapi, mengapa standar orang Arab yang dipakai?

 

2 dari 3 halaman

Kaum Pertama Mendapat Syariat

Dikutip dari NU Online, sejumlah kitab rujukan menyebutkan sebab orang Arab dipakai sebagai patokan dalam menetapkan kebaikan maupun keburukan suatu hewan adalah, karena mereka yang pertama kali mendapatkan tuntutan syariat.

Rasulullah Muhammad SAW diutus untuk berdakwah di tengah-tengah orang Arab. Bahkan Alquran diturunkan dalam bahasa mereka agar mudah dipahami.

Syeikh Musthofa Dib Ad Dimsyiqi dalam kitabnya At Tahdzib fi Adillati Matni Al Ghayah wa At Taqrib menjelaskan demikian.

" Setiap hewan yang dianggap menjijikkan menurut orang Arab maka dihukumi haram kecuali hewan-hewan yang dijelaskan oleh syara' tentang kehalalannya. Kebiasaan orang Arab dijadikan pijakan tak lain disebabkan mereka adalah orang-orang yang pertama kali mendapatkan khitab (tuntutan agama) oleh syara' dan kepada merekalah Nabi Muhammad (pertama kali) diutus dan Alquran turun."

 

3 dari 3 halaman

Kemustahilan Kesamaan Cara Pandang

Alasan lainnya, yaitu kemustahilan sepakatnya penilaian semua watak manusia. Jika didasarkan pandangan masing-masing orang, status hukum sesuatu menjadi relatif.

Sehingga, harus ada dasar dalam menetapkan hukum. Dalam hal ini, orang Arab yang dijadikan patokan. Hal ini seperti penjelasan Syeikh Sulaiman Al Bujairimi dalam kitabnya Hasyiyah Al Bujairimi Ala Khatib.

" Halal bagi manusia segala hewan yang dianggap bagus, maksudnya dianggap bagus menurut sebagian orang yaitu orang Arab, bukan dianggap bagus oleh semua orang, sebab mustahil sepakatnya semua watak manusia dalam menentukan bagus atau menjijikkannya hewan."

(ism, Sumber: NU Online)

Terkait
BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie
Join Dream.co.id