Pakai Jas Hujan dari Kantong Sampah Buatan Ayah, Gadis Menangis Sepanjang Jalan

Your Story | Minggu, 19 Juli 2020 14:01
Pakai Jas Hujan dari Kantong Sampah Buatan Ayah, Gadis Menangis Sepanjang Jalan

Reporter : Sugiono

Dia teringat pengorbanan ayahnya yang banting tulang demi membiayai dirinya dan kelima saudaranya.

Dream - Melalui sebuah postingan di Twitter, gadis Malaysia Siti Murnie berbagi kisah saat membantu ekonomi keluarga. Dia harus menerobos hujan untuk mengantarkan pesanan ke pelanggan ayahnya.

Dalam postingan tersebut, dia juga mengunggah dua foto dirinya mengenakan 'jas hujan spesial' buatan ayahnya yang berjualan makanan di warung.

" Abah membuatkan jas hujan dari kantong sampah plastik buat aku karena harus mengirim makanan ke pelanggan. Selama dalam perjalanan, aku merasa sedih dan meneteskan air mata.

" Semoga semua rasa sakit dan hujan panas yang aku lalui sejauh ini akan berbuah suatu hari nanti. Aku mencintai Abah di dunia dan akhirat," tulis Siti.

2 dari 6 halaman

Jas Hujan Spesial Buatan Ayah

Postingan Siti itu mengundang sedih dan simpati dari netizen hingga menjadi viral setelah di-retweet lebih dari 5 ribu kali.

Gadis bernama lengkap Siti Murnie Mohd Fauzi itu mengatakan di hari itu dia tak menyangka hujan turun dengan lebat. Padahal dia perlu mengantarkan pesanan ke salah seorang pelanggan warung ayahnya

Waktu itu Siti tidak menemukan jas hujan tapi dia tetap nekat mau mengantarkan pesanan meski hujan turun dengan lebat.

3 dari 6 halaman

Sedih dan Menangis Teringat Pengorbanan Ayah

Ayahnya merasa khawatir karena putrinya pasti akan basah kuyup karena kehujanan.

" Abah bilang 'Nanti basahlah'. Tapi aku bilang tak mengapa sebab aku memakai jaket yang tebal. Tiba-tiba Abah minta diambilkan kantong sampah plastik dan membuat jas hujan darurat.

" Selama dalam perjalanan, aku sangat sedih dan menangis sebab teringat pengorbanan Abah selama ini dalam membesarkan kami enam bersaudara," kata Siti.

4 dari 6 halaman

Sudah Biasa Membantu Jaga Warung Sejak SD

Menurut gadis 20 tahun ini, dia banyak membantu ayahnya, Mohd Fauzi Kandar, 56 tahun, lantaran kondisi kesehatannya saat ini tidak begitu baik.

" Aku sudah biasa menolong Abah, bahkan sejak kelas 3 SD. Tapi sejak lulus pelatihan industri bulan lalu, aku lebih banyak luangkan waktu membantu Abah di warung kami, Warisan Aneka Sup dan Soto di Kampung Ulu Pulai, Gelang Patah, Johor.

" Lagipula Abah sekarang ada kencing manis dan perlu jalani dialisis tiga kali seminggu. Jadi sekarang Abah serahkan 100 persen urusan warung kepada aku sebab hanya aku yang ada. Kakak-kakak sudah menikah," ujar lulusan diploma Pengurusan Perniagaan ini.

5 dari 6 halaman

Awalnya Merasa Sedih dan Keberatan

Anak bungsu dari enam bersaudara ini berkata, meski sangat ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat sarjana, namun dia rela menepikan impiannya itu demi menunaikan keinginan ayahnya.

" Aku memang ingin mengejar impian untuk kuliah ke peringkat yang lebih tinggi tapi Abah bilang 'Tolonglah Abah di warung dulu'. Sudah lama sebenarnya Abah ungkapkan keinginan tersebut.

" Mula-mula aku memang sedikit keberatan dan sedih. Aku bahkan bertanya-tanya kenapa aku harus ikut kemauan orang lain dan tidak boleh mengejar impian sendiri?

6 dari 6 halaman

Siap Meneruskan Bisnis Warisan Keluarga

" Tapi akhirnya aku ridha dan yakin bahwa rezeki dan barokah aku ikut datang dari Allah melalui orangtua," ujarnya.

Enggan menoleh ke belakang, Siti berkata dia berjanji akan mengembangkan warung warisan ayahnya dengan membuka rencana baru dalam tempoh lima tahun akan datang.

" Melihat semangat Abah, aku berjanji ingin membantunya. Mungkin jika ada peluang dan waktu, aku akan lanjutkan kuliah juga.

" Ternyata ada hikmahnya dengan apa yang aku jalani sekarang. Aku bisa luangkan lebih banyak waktu dengan orangtua, apalagi keduanya sudah tua," pungkas Siti.

Sumber: mStar.com.my

Join Dream.co.id