Niat Puasa Syawal, Pahami Ketentuan dan Keutamaan Bila Diamalkan

Your Story | Jumat, 14 Mei 2021 06:00
Niat Puasa Syawal, Pahami Ketentuan dan Keutamaan Bila Diamalkan

Reporter : Ulyaeni Maulida

Umat Muslim dianjurkan untuk puasa Syawal selama 6 hari setelah tanggal 1 Syawal.

Dream – Bulan Syawal merupakan bulan simbol kemenangan bagi umat Muslim di seluruh dunia yang telah berperang selama sebulan penuh melawan hawa nafsunya sendiri. Syawal juga jadi perlambang manusia kembali suci seperti bayi atau kembali ke fitrah.

Nah, setelah tanggal 1 Syawal, umat Muslim disunahkan kembali untuk menjalankan ibadah puasa. Puasa sunah ini dinamakan puasa Syawal. Amalan sunah ini memiliki keutamaan dan keberkahan yang luar biasa.

Umat Muslim dianjurkan untuk puasa Syawal selama 6 hari setelah tanggal 1 Syawal, yaitu tanggal 2 hingga 7 Syawal. Namun dapat juga dilakukan secara tidak berurutan selama masih ada di bulan Syawal.

Lebih lengkapnya, simak ulasan lengkap mengenai hukum, niat, ketentuan, hingga keutamaan puasa Syawal berikut ini.  

2 dari 6 halaman

Hukum dan Niat Puasa Syawal

Hukum Puasa Syawal

Hukum puasa syawal adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“ Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun” (HR. Muslim)

 

Niat Puasa Syawal

“ Nawaitu shouma godin ‘ansittatin min syawaali sunnatan lillahi ta’aalaa.”

Artinya: “ Saya niat berpuasa sunnah enam hari di bulan Syawal karena Allah.”

3 dari 6 halaman

Waktu Puasa Syawal

 Ilustrasi Berdoa
© Ilustrasi Berdoa (Foto: Shutterstock.com)

Puasa Syawal tidak diperbolehkan dilaksanakan pada tanggal 1 Syawal. Namun Rasulullah tidak menentukan kamu akan melakukan puasa Syawal. Karena Nabi hanya menjelaskan jumlahnya yaitu 6 hari.

Selain itu, tidak diperbolehkan puasa pada hari Jumat, apabila tidak diiringi puasa pada hari Kamis dan hari Sabtu. Puasa di hari Jumat hukumnya makruh jika tidak diiringi puasa di hari Kamis atau Sabtu.

Apabila kamu menjalankan puasa Syawal dengan tidak berurutan, kamu tetaplah akan mendapat keuatamaannya. Hal ini dijelaskan oleh para ulama Mazhab Imam Syafi’I di bawah ini yang artinya:

“ Namun jika tidak berutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa Syawal, setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadan. karena seperti itu pun disebut menjalankan puasa enam hari Syawal setelah Ramadan.”

4 dari 6 halaman

Ketentuan Puasa Syawal

 

Boleh dikerjakan tidak berurutan

Ketentuan pelaksanaan 6 hari bukanlah suatu syarat mutlak. Jika kamu puasa Syawal secara tidak berurutan pun juga tidak masalah. Akan tetapi, semakin cepat kamu menjalankannya, maka akan semakin baik. Hal ini sesuai dengan firman Allah surat Al-Maidah ayat 48, yang artinya:

“ Berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”

Selain itu juga terdapat dalam firman Allah SWT., surat Al-Imron ayat 33, yang artinya:

“  Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surge yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

Selain itu, nabi Musa juga berkata, yang diabadikan dalam kitab suci Alquran surat Thaha ayat 84, yang artinya:

“  Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridla (kepadaku).”

Maka dari itu menyegerakan puasa Syawal di awal-awal bulan Syawal sangatlah baik. Namun jika kamu tidak menyegerakan juga tidak masalah, menundanya hingga pertengahan atau akhir bulan Syawal.

 

Boleh Membatalkan Puasa dengan atau Tanpa Uzur

Tata cara puasa Syawal yang perlu diketahui juga adalah dibolehkannya untuk membatalkan puasa sunah ini baik karena suatu udzur syar’i maupun tanpa udzur. Dimana seperti Syaik Aziz bin Baz menjelaskan,

“ Jika puasa tersebut adalah sunah, maka boleh membatalkannya, tidak wajib menyempurnakannya. Ia boleh membatalkannya secara mutlak. Namun yang lebih utama adalah tidak membatalkannya kecuali karena sebab yang syar’i, semisal karena oanas yang terik, atau badan yang lemas, atau ada orang yang mengundang ke pernikahan, atau hal-hal yang memaksa untuk membatalkan puasa lainnya, maka tidak mengapa”.

 

5 dari 6 halaman

Mengqadha Puasa Ramadan

Puasa sunnah yang dikaitkan dengan puasa Ramadan, puasa sunnah ini hanya boleh dikerjakan jika puasa Ramadan telah dilakukan dengan sempurna.

Kemudian, bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadan tidak dikatakan telah melaksanakan puasa Ramadan. sehingga, orang yang memiliki utang puasa Ramadan dan ingin menjalankan puasa Syawal harus mengqada’ utang puasa Ramadan terlebih dahulu, baru kemudian melaksanakan puasa Syawal.

Di bawah in adalah fatwa tentang wanita yang memiliki utang puasa Ramadhan sementara dia ingin berpuasa Syawal menurut Imam Ibnu Utsaimin:

“ Jika seorang wanita memiliki utang puasa Ramadan, maka dia tidak boleh puasa syawal kecuali setekah selesai qadha’.”

Sementara itu orang yang masih memiliki utang puasa Ramadhan dan tetap berpuasa syawal, maka ia tidak mendapat pahala puasa 6 hari di bulan syawal, kecuali setelah selesai mengqadha’. (Majmu’ Fatawa, 19/20).

 

Bagi Wanita Hendak Meminta Izin Pada Suami

Bila seorang wanita ingin mengerjakan puasa sunah, termasuk puasa Syawal maka wajib meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu atau ia mengetahui bahwa suaminya mengizinkan. Rasulullah SAW pun bersabda,

“ Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya. Dan tidak halal seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya”. (HR Bukhori no. 5195).

6 dari 6 halaman

Keutamaan Puasa Syawal

 Ilustrasi Berdoa
© Ilustrasi Berdoa (Foto: Shutterstock.com)

Berpahala setara puasa setahun

Puasa syawal ini memiliki pahala yang setara dengan puasa selama satu tahun. Keutamaan ini telah dijelaskan dalam sebuah hadist riwayat Muslim nomor 1164 yang menyebutkan bahwa, " Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh."

Penyempurna ibadah

Puasa syawal dapat menyempurnakan ibadah umat muslim. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Ibnu Rajab seperti berikut ini:

" Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan."   (Latho-if Al Ma’arif, hal. 394.)

 

Mendekatkan Diri kepada Allah

Setiap muslim yang mengerjakan puasa Syawal selama enam hari, maka mendapat tempat mulia di sisi Allah. Selain itu, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibandingkan dengan minyak kasturi.

Keutamaan ibadah puasa sunah tersebut sebagaimana yang ditegaskan dalam salah satu hadis Qudsi berikut:

" Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia (puasa) adalah untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran dengan (amalan puasa itu)." Kemudian, Rasulullah melanjutkan, " Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibandingkan wangi minyak kasturi." (HR. Muslim).

(Dilansir dari berbagai sumber)

Join Dream.co.id