Menjadi Muslim Setelah Tsunami Aceh

Your Story | Senin, 20 April 2020 06:02
Menjadi Muslim Setelah Tsunami Aceh

Reporter : Ulyaeni Maulida

Ini adalah kisah Muhammad Cheng. Dia masuk Islam setelah tsunami dahsyat menghantam kota kelahirannya di Aceh.

Dream - Aku keturunan Tiongkok. Keluargaku telah tinggal di Aceh selama tiga generasi. Kami adalah pedagang.

Nenek moyangku datang ke tempat yang paling islami di Asia Tenggara ini untuk berdagang. Mereka tetap tinggal di Aceh karena menemukan lingkungan yang kondusif.

Pemimpin yang adil dan orang-orang ramah yang tidak mengganggu kami. Keluargaku tetap mejaga tradisi Tiongkok kuno. Mereka memuliakan dan menyembah leluhur kami.

Dan aku pun melakukan hal yang sama. Sebelum membuka toko, aku biasanya memberikan persembahan kepada altar nenek moyang kami. Siang hari aku mengulangi lagi hal yang sama untuk memberikan dupa beberapa kali.

Toko-ku sangat dekat dengan masjid Masjid Agung Banda Aceh. Aku bahkan bisa mendengar panggilan untuk sholat setiap hari, tetapi tidak pernah terpikir oleh-ku untuk menjadi muslim. Tidak pernah. Sampai pagi yang fatal ini terjadi.

2 dari 7 halaman

Sama Seperti Pagi Lainnya

 Pagi Hari© Pixabay.com

 

Tanggal 26 Desember 2004, aku baru saja akan membuka toko yang berada di dekat Masjid Agung Banda Aceh. Itu adalah pagi yang biasa. Cuaca juga nampaknya terlihat bagus.

Tapi ada yang aneh. Burung-burung berhenti bernyanyi. Dan kucing yang biasanya menunggu di depan toko untuk memakan sisa makanan juga tidak ada di sana. Tapi aku tidak begitu memperhatikan keanehan ini.

Namun, tiba-tiba ada suara gemuruh yang kuat dan keras. Aku berlari keluar, " Itu pasti gempa bumi," kataku pada diri sendiri.

Orang lain juga keluar dari toko mereka, tetapi setelah beberapa menit kami semua kembali ke dalam.

3 dari 7 halaman

Lalu Tiba-tiba Tsunami Datang

 Tsunami© Pixabay.com

Namun, setelah beberapa saat orang-orang mulai berlarian dan berteriak, “ Air! Air laut datang!" Aku bingung.

Meskipun aku mengerti kata-katanya, namun aku tidak tahu apa artinya. Aku pun keluar lagi. Orang-orang histeris. Berlari menuju masjid. Teriakan dimana-mana.

Dan sedetik kemudian aku melihat air besar yang tiba-tiba datang. Aku berlari mengambil dupa. Aku ingin meminta bantuan leluhurku. Namun air laut semakin tinggi. Mengalir ke seluruh tempat.

Aku sangat takut dan berlari keatas. Aku menyaksikan tsunami dari balkon toko-ku. Aku masih tidak percaya melihat air laut sebanyak itu.

4 dari 7 halaman

Para Pria Berbaju Putih Itu Mengangkat Masjid

Kemudian aku melihat sesuatu yang sangat aneh. Ada pria jangkung yang mengenakan pakaian serba putih. Mereka membuat gerakan seperti polisi yang sedang mengarahkan lalu lintas.

Mereka berdiri diberbagai tempat didepan masjid Banda Aceh. Dan air mengikuti kemana arah mereka pergi. Namun anehnya, air itu terbelah ketika mulai mendekat masjid dan mengalir menuju sisi kanan dan kiri masjid.

Ratusan orang berlarian menuju masjid. Namun para pria berbaju putih itu tidak ikut berlari. Orang-orang yang masuk ke masjid pun aman.

Lalu tiba-tiba para pria yang berpakaian putih itu pun mengangkat masjid tersebut. Iya. Mereka mengangkatnya. Dan air mengalir dibawahnya.

Aku melihat semua itu dari balkon. Dipenuhi dengan rasa penasaran,” Apa itu tadi?”

5 dari 7 halaman

Pertama Kali Masuk ke Dalam Kompleks Masjid

 Masjid© Pixabay.com

 

Jika ada seseorang yang melihat seperti apa yang aku lihat dan bercerita tentang hal itu, aku tidak akan percaya kepadanya.

Tidak akan pernah! Tetapi kejadian itu aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. “ Tuhan melindungi masjid ini,” kataku dalam hati.

Beberapa minggu setelah bencana mengerikan itu terjadi, aku memberanikan diri untuk bercerita pada salah seorang penjaga toko muslim di sebelah tokoku.

Dia hanya menyarankan untuk datang menemui imam masjid. Lalu aku pun mengikuti sarannya dan berjalan menuju masjid dengan ragu-ragu.

Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke dalam kompleks masjid. Walaupun aku tinggal bersebelahan dengan masjid, namun inilah pertama kali dalam hidupku, aku menginjakkan kaki area masjid.

Imam yang mengenaliku dari jauh langsung keluar untuk menyambut kedatanganku. “ Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu, Paman,” dia menyapaku dengan sopan.  

" Aku perlu bicara denganmu" , jawabku.

Kemudia kami duduk. Aku pun mulai menceritakan seluruh kisahnya. Dia duduk terdiam namun air mata mengalir dari matanya.

Setelah aku selesai bercerita, kami hanya berpelukan. Pelukan alami inilah yang dipertukarkan oleh orang-orang karena mereka mengalami pengalaman mengerikan yang sama.

Imam berkata kepadaku, " Paman, apa yang kamu lihat adalah malaikat Tuhan yang mengikuti perintah-Nya. Tuhan ingin agar masjidnya tidak dihancurkan oleh tsunami. Paman, mungkin Tuhan ingin menunjukkan sesuatu untuk membuat Paman lebih dekat kepada-Nya. Karena Dia mencintaimu. Karena Dia melihat Paman adalah pria yang baik. Dia ingin memberi Paman kebahagiaan di dunia dan kelak di akhirat. Apakah Paman ingin menjadi muslim?”

6 dari 7 halaman

Bagaimana Aku Menjadi Muslim?

Aku kaget dengan pertanyaan Imam tersebut. Hal itu membuatku kebingungan.

Bagaimana seorang Tionghoa sepertiku yang memiliki kepercayaan yang kuat dapat menjadi seorang muslim? Aku pun undur diri dan berterimakasih kepadanya.

Kemudian aku kembali ke toko. Aku langsung menutup toko dan hanya duduk terdiam disudut kamar.

Berkali-kali aku teringat adegan yang terjadi saat tsunami melanda. Semuanya kembali berputar di kepalaku. Aku pun tidak membuka toko selama dua hari dan hanya duduk merenung.

7 dari 7 halaman

Akhirnya Aku Menjadi Muslim

 Muslim© Pexels.com

 

Pada hari ketiga, seseorang datang dan mengetuk pintu toko. Ternyata imam masjid yang aku temui waktu itu.

Dia datang mencariku karena khawatir melihat toko saya tutup selama beberapa hari.

“ Aku sedang berpikir Imam,” aku memberitahunya. “ Aku pikir kamu benar. Tuhan memberikanku pertanda besar. Seharusnya aku tidak menjadi bodoh seperti sekarang ini. lupakan saja. Bisakah imam memberitahu saya cara untuk menjadi muslim?” tanyaku serius.

" Paman, sangat mudah," kata Imam. " Paman hanya perlu melafalkan kalimat ini" . Dan dia memberikanku selembar kertas. Aku pun mengucapkan kalimat tersebut dan seolah-olah cahaya terang memenuhi toko-ku.

Sejak hari itu, Imam datang setiap hari untuk mengajariku tentang Islam. Dia menunjukkan kepada bagaimana berdoa dan cara membaca Al-Quran. Dan karena itu aku pun mulai bisa sholat.

Aku juga mulai sering ikut sholat berjamaah di masjid. Dan semua itu adalah hal terindah dalam hidupku. Alhamdulillah.

(Sumber: aboutislam.net)

Join Dream.co.id