4 Bahaya Menyantap Makanan Tak Halal

Your Story | Selasa, 26 November 2019 14:12
4 Bahaya Menyantap Makanan Tak Halal

Reporter : Ahmad Baiquni

Makanan tak halal bisa jadi sebab doa tak terkabul.

Dream - Segala yang ditetapkan Allah tidak pernah mengandung kesia-siaan. Baik itu perintah maupun larangan, semuanya mengandung manfaat.

Demikian pula dengan ditetapkannya makanan tak halal. Juga larangan bagi umat Islam untuk memakannya.

Istilah tak halal bisa dimaknai dua yaitu haram atau syubhat. Meski demikian, keduanya memiliki maksud sama yaitu berbahaya.

Dalam makanan yang tak halal terkandung sejumlah bahaya. Sebisa mungkin umat Islam tidak mengonsumsinya dan memilih makan yang halal.

Dikutip dari NU Online, sedikitnya ada empat bahaya yang terkandung dalam makanan tak halal jika sampai dikonsumsi. Bahaya tersebut tidak sebatas terjadi pada fisik namun hingga rohani dan kejiwaan seseorang.

 

2 dari 7 halaman

Menimbulkan Kecenderungan Suka Maksiat

Bahaya pertama, makanan tak halal melahirkan energi yang akan condong digunakan untuk maksiat. Hati dan perilaku cenderung suka pada segala hal dilarang agama.

Hal ini disinggung oleh Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin.

" Siapa saja yang makan makanan haram, maka bermaksiatlah anggota tubuhnya, mau tidak mau."

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Muhammad SAW bersabda demikian.

Tidaklah yang baik itu mendatangkan sesuatu kecuali yang baik pula.

Hadis ini menunjukkan hal baik datang dari sesuatu yang baik. Sedangkan keburukan datang dari hal-hal buruk.

Mengenai makanan tak halal, dampaknya bahkan tidak hanya pada diri orang yang mengonsumsinya. Melainkan bisa sampai ke keturunannya.

Karena itulah, tidak mengherankan para ulama menyatakan suatu amal bisa diterima karena makanan halal.

 

3 dari 7 halaman

Penyebab Doa Tak Terkabul

Bahaya kedua, makanan tak halal bisa menjadi penghalang terkabulnya doa. Hal ini seperti dipesankan Rasulullah SAW kepada sahabat Sa'd dalam riwayat yang tercantum dalam kitabm Al Mu'jam Al Ausath karya Sulaiman ibn Ahmad.

Wahai Sa‘d, perbaikilah makananmu, niscaya doamu mustajab. Demi Dzat yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang hamba yang melemparkan satu suap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak diterima amalnya selama empat puluh hari.

Bahaya ketiga yaitu sulitnya menerima ilmu Allah. Ilmu adalah cahaya yang tidak akan diberikan kepada ahli maksiat.

Makanan tak halal, maksiat dan dosa secara umum juga bisa jadi penyebab malasnya ibadah. Ini seperti dialami Imam Sufyan Al Tsauri, dijelaskan oleh Abu Nu'aim dalam kitabnya Hilatul Auliya.

" Aku terhalang menunaikan qiyamullail selama lima bulan karena satu dosa yang telah aku perbuat."

Sedangkan bahaya keempat yaitu ancaman siksa negara. Banyak dalil menjelaskan hal ini baik ayat Alquran maupun hadis Rasulullah.

Sehingga sebisa mungkin kita menghindari makanan tak halal baik itu yang jelas keharamannya maupun yang syubhat. Menghindari makanan syubhat berarti membentengi diri dari yang haram.

(ism, Sumber: NU Online)

4 dari 7 halaman

Kedudukan Permainan Catur Dalam Pandangan Ulama

Dream - Permainan catur belakangan menjadi perbincangan baik di dunia nyata maupun dunia maya. Muncul polemik seputar kedudukan catur dalam hukum Islam.

Polemik ini muncul usai tersebarnya video Ustaz Abdul Somad yang berpendapat catur adalah haram menukil pendapat salah satu imam mazhab. Pernyataan tersebut muncul lantaran ada pertanyaan mengenai catur dari salah satu peserta pengajian.

Sementara, catur sudah sangat dikenal di masyarakat. Mulai perkotaan hingga pedesaan, catur banyak dimainkan masyarakat.

Catur merupakan permainan yang sudah mendunia. Bahkan ada banyak orang yang menggeluti permainan ini dan menjadikannya sebagai profesi.

Lantas, benarkah kedudukan catur adalah haram dari sudut pandang hukum Islam?

5 dari 7 halaman

Dasar Penetapan Hukum Catur

Dikutip dari NU Online, pendapat yang mengharamkan catur banyak didasarkan pada pandangan ulama, bukan pada ayat Alquran maupun hadis Rasulullah Muhammad SAW.

Perlu diketahui, tidak ada satupun ayat Alquran yang membahas kedudukan catur. Demikian halnya dengan hadis, tidak ada satupun yang membolehkan maupun melarang permainan tersebut.

Memang ada hadis-hadis yang dipakai untuk menetapkan hukum atas permainan catur. Tetapi, para ulama klasik yang kemampuannya sangat diakui seperti Ibnu Katsir secara tegas menyatakan hadis-hadis tersebut adalah palsu.

Dasarnya, permainan catur muncul di masa sahabat, bukan di zaman Rasulullah masih hidup. Sehingga, sangat aneh jika muncul hadis yang menjelaskan hukum permainan catur.

Sehingga mengenai hukum catur, para ulama bersepakat dalam beberapa hal namun berbeda pendapat di beberapa lainnya. Ulama sepakat mengenai keharaman catur terkait adanya unsur judi atau dapat mengarahkan kepada perbuatan haram seperti meninggalkan sholat atau berbohong.

Tetapi, ulama berbeda pandangan jika catur tidak mengarahkan seseorang kepada perbuatan yang dilarang agama.

6 dari 7 halaman

Ada yang Membolehkan

Dilihat dari pandangan mazhab besar dalam hukum Islam, terdapat tiga pendapat yang bisa dijadikan hujah. Pendapat pertama menyatakan catur boleh dimainkan. Pendapat ini dipegang oleh sebagian Mazhab Hanafi, sebagian Mazhab Syafi'i serta sebagian besar sahabat dan tabi'in seperti Abu Hurairah, Said Ibnu Musayyib, Said Ibnu Jubair, Sya'bi dan Hasan Bashri.

Hal ini seperti dijelaskan oleh Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumiddin.

" Bahwa hal itu merupakan nash (dalil) atas kebolehan bermain catur."

Demikian pula penjelasan Syeikh Abdullah bin Ahmad An Nasyafi dalam Al Bahrur Raiq.

" Sesungguhnya bermain dadu membatalkan (menghilangkan) sifat adil, berbeda dengan bermain catur. Sebab, hukum bermain catur merupakan lahan ijtihad, di mana Imam Malik dan Imam Syafi’i menyatakan kebolehannya. Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Yusuf."

 

7 dari 7 halaman

Yang Memakruhkan dan Mengharamkan

Pendapat kedua menghukumi catur dengan makruh. Pendapat ini dipegang oleh sebagian ulama Mazhab Hanafi serta sebagian Mazhab Syafi'i yang lainnya. Hal ini seperti dijelaskan Imam Al Qurthubi dalam Al Jami' li Ahkamil Quran.

" Imam Abu Hanifah berkata, 'Dimakruhkan bermain catur dan dadu'."

Sedangkan pendapat ketiga menyatakan haram bermain catur. Pendapat ini dipegang Mazhab Maliki dan Mazhab Hambali, juga merupakan pandangan dari sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Salim dan Urwah.

Hal ini seperti dijelaskan oleh Imam Ibnu Rusyd dalam Al Bayan wat Tanzil.

" Imam Malik ditanya tentang hukum bermain catur, beliau menjawab, 'Tidak ada kebaikan di dalamnya. Ia termasuk hak batil'."

Demikian halnya dengan Imam Ibnu Qudamah yang merupakan ulama Mazhab Hambali. Dia menerangkan status hukum catur dalam kitabnya Al Mughni.

" Adapun bermain catur maka hukumnya seperti bermain dadu dalam keharamannya. Hanya saja, bermain dadu lebih diharamkan dibanding bermain catur. Qadhi Abul Husein menyebutkan, 'Di antara orang yang berpendapat akan keharamannya adalah Ali bin Abi Thalid, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Salim dan Urwah'."

Dari paparan tersebut, para ulama masih berbeda pendapat mengenai kedudukan catur. Catur diharamkan jika mengandung unsur judi atau kecenderungan yang mengarahkan seseorang melakukan perbuatan diharamkan, tetapi dibolehkan jika tidak membawa kepada sesuatu yang haram.

Sumber: NU Online.

Ria Irawan Larang Rano Karno Jenguk Dirinya, Kenapa?
Join Dream.co.id