Memanfaatkan Botol Bekas Minuman Haram, Bolehkah?

Your Story | Kamis, 29 Agustus 2019 20:00
Memanfaatkan Botol Bekas Minuman Haram, Bolehkah?

Reporter : Ahmad Baiquni

Minuman keras adalah benda haram dalam Islam.

Dream - Jika sedang bepergian ke beberapa daerah, kita mungkin pernah menjumpai orang menjual bahan bakar kendaraan bermotor di pinggir jalan. Barang yang dijual biasanya disebut dengan bensin eceran.

Biasanya, BBM itu ditempatkan dalam botol ukuran 1 liter. Ada juga yang berukuran 1,5 liter.

Bentuk botolnya cukup unik, dengan badan tinggi dan leher yang pendek. Banyak yang menyebutnya sebagai botol bensin.

Padahal, sebenarnya botol tersebut merupakan wadah minuman keras. Botol-botol itu dijual lagi untuk wadah BBM atau minyak tanah.

Mengingat botol tersebut dibuat untuk wadah barang haram, bolehkah memanfaatkannya kembali untuk yang lain?

 

2 dari 6 halaman

Wadah Benda Haram Juga Haram, Tapi...

Dikutip dari Bincang Syariah, sudah menjadi pemahaman bersama pada umat Islam, minuman keras merupakan barang haram. Zatnya saja dihukumi sebagai najis.

Demikian pula dengan tempat penyimpanannya. Botol atau wadah apapun untuk menyimpan benda haram seperti minuman keras juga dihukumi najis.

Namun demikian, memanfaatkan kembali botol atau wadah bekas barang haram tidaklah haram. Asalkan botol tersebut disucikan lebih dulu dengan cara dicuci untuk menghilangkan unsur najis.

 

3 dari 6 halaman

Boleh Jika Tidak Ada Wadah Lain

Bahkan botol tersebut tidak hanya boleh dipakai untuk wadah BBM ataupun minyak tanah. Digunakan untuk tempat air minum yang jelas halal juga dibolehkan selama tidak ada wadah lain.

Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah Muhammad SAW diriwayatkan Imam Abu Daud dari Abu Tsa'labah Al Kasyani.

Abu Tsa'labah berkata, " Kami bertetangga dengan Ahli Kitab, mereka menggunakan panci-panci mereka untuk memasak babi dan meminum khamr dari wadah-wadah mereka. Maka Rasulullah SAW bersabda, ' Sesungguhnya jika kalian mendapatkan selainnya, maka makan dan minumlah darinya, dan jika kalian tidak dapatkan selainnya, maka cucilah dengan air lalu makan dan minumlah darinya."

Hadis ini menunjukkan dibolehkannya memanfaatkan kembali wadah bekas benda haram seperti memasak babi atau tempat minuman keras. Syaratnya barang-barang itu dicuci lebih dulu sebelum digunakan.

(ism, Sumber: Bincang Syariah)

4 dari 6 halaman

Bawa Pulang Sisa Makanan Karena Pesan Berlebihan, Bagaimana Hukumnya?

Dream - Ada kalanya kita pergi ke restoran untuk mencicipi makanan sambil mengajak anggota keluarga mencoba suasana baru. Makan di luar juga jadi alternatif kala kita ingin mencicipi variasi menu santapan. 

Selain restoran, tempat makan yang biasanya dikunjungi khususnya masyarakat perkotaan adalah kafe. Di sini kita bisa  memesan makanan untuk mengisi perut. Ada juga yang memilih makan di warteg maupun warung kaki lima.

Mungkin kamu pernah melihat meja makan ditinggalkan orang dengan makanan tersisa cukup banyak. Padahal, makanan itu masih bisa dikonsumsi dan akan mubazir jika dibuang.

Saat melihat sisa makanan sangat banyak, biasanya kita akan membawa pulang menu yang tak habis tersebut.

Jika kita melakukannya, apakah boleh menurut Islam?

 

5 dari 6 halaman

Boleh Demi Mencegah Tabdzir

Dikutip dari Konsultasi Syariah, menyisakan makanan untuk sekadar tidak dimakan merupakan bentuk dari tabdzir atau menyia-siakan harta. Orang yang melakukannya masuk golongan yang disebut dengan mubazir.

Terkait perilaku tabdzir, Allah secara tegas melarang perilaku tabdzir ini. Bahkan dalam Surat Al Isra' ayat 27, Allah menyatakan mubazir merupakan saudara setan yang ingkar pada Tuhannya.

Sementara terkait tindakan mengambil makanan sisa di restoran yang sudah pasti dibuang, hal itu dibolehkan. Ini demi mencegah terjadinya tabdzir.

 

6 dari 6 halaman

Kaidahnya

Syeikh Al Mardawi Al Hambali dalam kitab Al Inshaf menyatakan barang-barang yang ditinggalkan oleh pemiliknya karena sudah tidak menginginkannya dapat dimiliki oleh siapapun yang menemukannya.

Pendapat senada diutarakan oleh Syeikh Al Utsaimin dalam kitab Asy Syarh Al Mumti'. Dia membagi barang temuan menjadi beberapa jenis.

" Jika yang menemukan tahu bahwa barang tersebut ditinggalkan oleh si pemilik lantaran ia sudah tidak menginginkannya lagi, maka barang tersebut menjadi milik yang menemukannya."

Sehingga, mengambil makanan sisa untuk dikonsumsi lagi tidaklah dilarang. Bahkan lebih baik lagi jika diberikan kepada orang lain maupun kepada hewan sembari berniat mencegah tabdzir.

(Sah, Sumber: Konsultasisyariah.com)

Terkait
BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie
Join Dream.co.id