Kisah Sahabat Nabi yang Pingsan Saat Puasa Ramadan Diwajibkan Pertama Kali

Your Story | Selasa, 11 Mei 2021 11:48

Reporter : Ulyaeni Maulida

Inilah kisah dari Qais bin Shirmah.

Dream – Kewajiban berpuasa di bulan Ramadan telah diberlakukan sejak jaman sebelum Nabi Muhammad SAW. Allah memerintahkan kaum jahiliah untuk melakukan ibadah puasa namun mereka menentangnya.

Kemudian di masa Rasulullah SAW pelaksanaan puasa bagi umat Islam ditandai dengan tidur sampai terbenamnya matahari. Mereka boleh makan, minum, berhubungan suami istri pada malam hari hanya sampai sebelum tidur.

Namun, ketentuan ini rupanya membuat salah seorang sahabat Nabi pingsan karena harus menahan lapar karena tertidur.

Kisah Sahabat Nabi yang Pingsan Saat Puasa Ramadan Diwajibkan Pertama Kali
Ilustrasi (Foto: Pexels)
2 dari 4 halaman

Kisah Qais bin Shirmah

 Ilustrasi
© MEN

Suatu hari salah seorang sahabat nabi, Qais bin Shirmah pulang dari sawah. Saat itu adalah bulan suci Ramadan. Seperti para lelaki lainnya, ketika matahari hampir terbenam, mereka menemui istri untuk berbuka puasa.

“ Istriku, apakah engkau memiliki makanan untuk kita berbuka?” ucap Qais pada istrinya. “ Tidak suamiku, tapi tenanglah aku akan mencarikan makanan untukmu,” Jawab sang istri.

Istri Qais pun pergi mencari makanan untuk suaminya. Tak lama kemudian, ia kembali dan menemukan suaminya tertidur pulas. Melihat pemandangan ini, sang istri terkejut iba dan kasihan.

“ Sungguh, kasian sekali engkau suamiku! engkau tertidur dan belum berbuka puasa!” tutur sang istri.

Kemudian sang istri membangunkannya, memintanya untuk makan dan tidak berpuasa dulu esok harinya. Namun Qais enggan menerima tawaran tersebut, ia tidak mau melanggar perintah Allah.

Karna sudah tertidur, maka sejak saat itu pula ia tidak boleh makan dan melanjutkan puasanya sampai matahari kembali terbenam pada keesokan harinya.

Qais tetap berpuasa dan melanjutkan aktifitasnya sebagai petani di ladang. Tiba- tiba di pertengahan hari, Qais bin Shirmah pingsan, karna kelelahan dan ditambah lagi belum makan.

3 dari 4 halaman

Perintah Berpuasa

Kejadian ini pun dilaporkan kepada Rasulullah SAW. Kemudian turunlah surat Al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi:

“ Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.”

Orang-orang Islam pun pada saat itu bergembira ria, mereka berkeyakinan jika berhubungan suami istri saja diperbolehkan, maka tentu saja makan dan minumpun juga pasti diperbolehkan. Kemudian turunlah lanjutan ayat tersebut yang menegaskan diperbolehkannya makan dan minum sampai terbitnya fajar.

“ Dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)

4 dari 4 halaman

Kisah Lainnya

 Ilustrasi Berdoa
© Foto : Shutterstock

Dalam riwayat lain diceritakan bahwa sebelum kejadian yang menimpa Qais bin Shirmah, ada kisah lain, yaitu Umar bin Khattab menggauli istrinya di malam hari setelah tertidur, maka turunlah ayat tersebut.

Berbagai kisah tersebut menghapus ketentuan puasa yang dimulai sejak tidur dan diganti dengan sejak terbitnya fajar hingga terbenam matahari.

Selain itu, kisah di atas menjadi awal mula disyariatkannya sahur bagi umat Islam, sekaligus untuk membedakan pelaksanaan puasa yang dilakukan oleh umat Yahudi dengan ditandai tidur.

(Sumber: islami.co)

 

Join Dream.co.id