Kisah Sahabat Bertemu Al Jassasah, Sang Pengawal Dajjal

Your Story | Kamis, 21 Januari 2021 11:05
Kisah Sahabat Bertemu Al Jassasah, Sang Pengawal Dajjal

Reporter : Ulyaeni Maulida

Dinamakan Al Jassasah dikarenakan binatang itu ditugaskan untuk tajasssus atau memata-matai.

Dream - Dajjal adalah bencana terbesar umat manusia di akhir zaman. Mengapa demikian? Karena Dajjal akan datang ke dunia dengan membawa berbagai macam fitnah dan akan menyesatkan manusia hingga benar-benar tersesat.

Dajjal sebenarnya sudah ada, namun hingga kini Allah belum mengizinkan Dajjal untuk muncul ke hadapan kita. Namun jika sudah waktunya nanti, Dajjal pasti akan muncul dengan membawa berbagai macam fitnah akhir zaman.

Namun, ada sebuah kisah dari para sahabat Nabi yang bertemu dengan pengawal Dajjal. Ia bernama Al Jassasah. Al-Jassasah adalah makhluk yang menjaga Dajjal waktu di dalam kurungan.

2 dari 3 halaman

Kisah Tamim Ad-Dari

 Ilustrasi© Shutterstock

 

Hal ini tertera dalam hadis tentang kisah Tamim Ad-Dari, makhluk dabbah yang berambut tebal dan kaku dan yang bisa berbicara serta dekat pula dengan adanya Dajjal.

Tamim bin Aus bin Kharijah Ad-Dari, Abu Ruqayyah adalah orang yang bertemu Dajjal. Ia merupakan salah seorang sahabat Nabi yang mulia.

Sepeninggal Khalifah Utsman bin Affan, Tamim meninggalkan kota Madinah dan menetap di Baitul Maqdis hingga meninggal di sana pada tahun 40 H.

Sebuah riwayat shahih mengenai Dajjal dalam sebuah hadits yang dikenal dikalangan ulama dengan sebutan Hadis Jassasah. Hadis ini dikisahkan seorang shahabiyah, Fathimah binti Qois.

Tamim memberitakan bahwa ia naik kapal bersama 30 orang dari kabilah Lakhm dan Judzam. Di tengah perjalanan, mereka dipermainkan badai ombak hingga berada di tengah laut selama satu bulan sampai mereka terdampar di sebuah pulau di tengah lautan tersebut. Saat tenggelam matahari mereka pun duduk di perahu-perahu kecil. Mereka, lalu memasuki pulau tersebut hingga menjumpai binatang yang berambut sangat lebat dan kaku hingga mereka tidak tahu mana kubul mana dubur karena demikian lebat bulunya.

Mereka pun berkata, “ Celaka, kamu ini apa?” Ia menjawab, “ Aku adalah Al Jassasah.” Mereka mengatakan, “ Apakah Al Jasasah itu?” Binatang itu berkata, “ Wahai kaum, pergilah engkau kepada laki-laki ini di dalam istana itu. Karena ia amat rindu dengan berita kalian.”

Fathimah berkata, “ Rasulullah SAW bersabda sambil menghentakkan tongkatnya di atas mimbar,” Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah (maksudnya kota Madinah). Bukankah aku sudah menyampaikan kepada kamu tentang hal itu?

“ Para sahabat menjawab,” Benar. “ Beliau SAW bersabda,” Saya tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Tamim Ad-Dari, karena ia bersesuaian dengan apa yang pernah aku sampaikan kepada kamu tentang dia (Dajjal) dan tentang Madinah dan Makkah. Ketahuilah, tempatnya (Dajjal) terletak di laut Syam atau laut Yaman. Ia datang dari arah timur, dari arah timur, dari arah timur. Rasulullah SAW mengisayaratkan tangannya ke arah timur. Fathimah berkata, “ Hadis ini yang saya hafal dari Rasulullah SAW.” (HR. Muslim).

 

 

3 dari 3 halaman

Al Jassasah adalah Binatang Mata-Mata

 Ilustrasi© MEN

Imam Nawawi mengatakan dinamakan Al Jassasah dikarenakan binatang itu ditugaskan untuk tajasssus atau memata-matai dan menyelidiki untuk mencari berbagai berita yang akan diberikan kepada dajjal. (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz XVII hal 104)

Ibnu Manzhur mengatakan bahwa Al-Jassasah berada di suatu pulau di tengah laut memata-matai sambil mencari berita yang akan diberikan kepada Dajjal. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis Tamim Ad-Dari, yang mengatakan, “ Saya adalah Al-Jassasah” yaitu binatang yang dilihat di suatu pulau di tengah laut. Dan dinamakan dengan nama itu dikarenakan binatang itu mencari berbagai berita untuk diberikan kepada Dajjal. (Lisanul Arab juz VI hal 38)

Penuturan Imam Nawawi dan Ibnu Manzhur di atas menurut arti bahasanya yang berarti memata-matai, mengintip atau menyelidiki. Sehingga orang yang senantiasa berusaha mencari-cari berita atau informasi disebut dengan Al Jaasuus.

Al Jaasuus juga dipakai untuk orang yang senantiasa mencari-cari aib atau cacat orang lain, sebagaimana disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Janganlah kalian saling memata-matai…”

 

(Diambil dari berbagai sumber)

Join Dream.co.id