Kisah Pilu Aktivis Kesehatan Mental Akhiri Hidup dari Trauma Masa Gadis

Your Story | Selasa, 27 Oktober 2020 18:47
Kisah Pilu Aktivis Kesehatan Mental Akhiri Hidup dari Trauma Masa Gadis

Reporter : Arini Saadah

Ia tetap membantu orang lain yang mengalami kondisi senasib, padahal dirinya juga mengalami masalah kesehatan mental yang kronis.

Dream – Caitlin O’Reilly (20) seorang aktivis kesehatan mental anak muda memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di hotel Premier Inn pada 18 Agustus 2019 lalu. Keputusan mengejutkan itu ditempuh setelah Cait, sapaannya, berjuang keras melawan kesehatan mental yang sudah diderita sejak masih remaja.

Meski masih diselimuti duka, orang tua Caitlin berusaha mengenang kepergian putri tercintanya dengan sebuah tindakan terpuji. Mereka bekerja sama dengan badan amal pemuda Stoke on Trent, Ruff dan Ruby untuk membuat berbagai kaos. Hasil penjualan kaos itu akan disumbangkan kepada kaum muda yang membutuhkan dukungan kesehatan mental.

Ayah dan ibunya berusaha melanjutkan perjuangan Caitlin semasa hidupnya untuk membantu gadis-gadis lain yang mengalami masalah kesehatan mental. Meskipun dirinya sendiri juga mengalami hal yang sama.

Hingga akhirnya Caitlin O’Reilly mengakhiri hidupnya setelah menahan gangguan kesehatan mental yang dideritanya.

2 dari 6 halaman

Alami Kekerasan Seksual Saat Remaja

Dilansir dari laman Daily Star, saat masih berusia 13 tahun, Caitlin keluar bersama teman-temannya di malam hari. Menurut Orang tuanya, saat itu pulalah ia mengalami kekerasan seksual dari seorang pria yang sudah tua.

Ibunya, Kay Speedman mengatakan putrinya sudah merasa dirinya tidak berharga setelah kejadian itu. Sejak awal remajanya Caitlin memang dirawat karena depresi akibat kekerasan seksual oleh seorang pria yang lebih tua.

Ilustrasi© Copyright unknown/via Daily Star

Cobaan berat yang dialami Caitlin membuat dirinya mengalami emosi seperti orang dewasa di usia yang masih dini. Ia merasa dirinya tidak berharga dan perasaan itu menghantuinya hingga dewasa.

“ Ketika kami mengetahui apa yang terjadi padanya ketika dia berusia 13 tahun, sejak itulah perubahan besar terjadi dalam hidup kebanyakan orang. Saat itu saya adalah seorang petugas polisi dan saya selalu waspada,” ucap Kay Speedman.

3 dari 6 halaman

Merasa Tidak Layak

Sejak kejadian yang menimpa Caitlin pada usia 13 tahun itu membuat hidupnya menjadi aneh. Tingkah lakunya juga menunjukkan keanehan yang membutuhkan perawatan kesehatan mental.

Ilustrasi© BPM Media/Daily Star

“ Dia selalu berpikir bahwa dia tidak layak hidup. Saat dia pulang dari sekolah menengah, saya pikir seseorang telah menindasnya. Dia mendapat tulisan di lengannya dengan pena hitam bertuliskan ‘tidak cukup baik’,” ungkap Kay.

“ Aku bertanya siapa yang melakukan semua itu padanya. Ia hanya menatapku dan berkata ‘itu aku’. Masalah yang kami hadapi adalah sejak ia masih berusia dini, ketika dia belum siap, dia berurusan dengan emosi orang dewasa dan tidak tahu cara mengatasainya,” lanjut Kay.

4 dari 6 halaman

Sering Menyakiti Diri Sendiri

Sang ibu memang sudah mengenal Caitlin luar-dalam. Ia selalu waspada dengan apa yang akan dilakukan olek buah hatinya itu.

Suatu ketika Kay menemukan darah di bak mandi karena Caitlin berusaha melukai dirinya sendiri. Atau suatu ketika juga ditemukan pingsan di tempat tidur.

“ Aku akan waspada ketika aku sampai di rumah aku menemukan darah di bak mandi ketika dia berusaha melukai diri sendiri atau dia akan pingsan di tempat tidur,” ucap Kay.

Meskipun demikian, Caitlin bertekad untuk membantu gadis-gadis lain yang juga berjuang untuk mengatasinya dan secara teratur begadang memelototi media sosial selama berjam-jam di malam hari untuk membantu perempuan lain.

“ Dia selalu berada di kelompok minoritas yang cukup populer. Dia tidak pernah cukup cocok atau merasa memiliki dirinya, perasaan itu hinggap hingga dewasa. Bahkan ketika dia menderita dengan trauma yang mengganggu kesehatan mentalnya sendiri, dia akan tetap memantengi media sosial berjam-jam untuk membantu anak-anak lain,” cerita Kay.

5 dari 6 halaman

Obsesi Membantu Orang Lain

Diceritakan pada malam hari Caitlin pernah mendapat sebuah pesan dari orang yang mengalami masalah kesehatan mental. Orang itu mengadu bahwa diri mereka juga telah menyakiti diri mereka sendiri dan bertanya kepada Caitlin apa yang harus mereka perbuat.

Masih menurut cerita ibunya, Caitlin akan meladeni dan duduk bersama mereka hingga dini hari untuk menenangkan mereka.

“ Dia akan duduk sampai dini hari untuk berbicara dengan mereka. Ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus melakukan sesuatu tentang hal itu dan mencari bantuan. Bahkan ia akan menghabiskan waktu berjam-jam membantu orang lain, tetapi dia tidak pernah bisa mengatasi masalah kesehatan mental dirinya,” ungkap Kay.

6 dari 6 halaman

Mengenang Kepergian Caitlin

Ilustrasi© Stoke Sentinel/Daily Star

Untuk mengenang kepergian putri mereka, Kay dan Pete, ayah Caitlin, telah bekerjasama dengan badan amal pemuda Stoke-on-Trent, Ruff and Ruby untuk membuat berbagai macam kaos atas nama Caitlin.

Semua hasil penjualan kaos akan disumbangkan ke Caitlin O’Reilly Fund yang menawarkan paket dukungan kesehatan mental dan itervensi diri kepada kaum muda yang membutuhkan. Sebab anak-anak muda rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena trauma atau kekerasan.

Kay berkata, “ sungguh luar biasa saat melihat kaos ini dipajang dan melihat bagaimana upaya tim untuk mengumpulkan semuanya, sungguh luar biasa.”

“ Kami perlu menunjukkan kepada para perempuan muda lainnya bahwa ini semua ajakan untuk mencintai diri sendiri. Kami membuat anak muda untuk berpikir bahwa mereka harus mampu beradaptasi di lingkungan daripada membuat lingkungan sendiri,” tambahnya.

“ Mudah-mudahan jika ada anak muda yang mengalami masalah seperti Caitlin, tidak akan jatuh ke dalam sengsara,” pungkasnya.

Join Dream.co.id