Kisah Khalifah Umar bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu

Your Story | Rabu, 4 November 2015 09:02
Kisah Khalifah Umar bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu

Reporter : Ahmad Baiquni

Khalifah Umar merasa bersalah lantaran telah membiarkan seorang ibu dan anaknya kelaparan.

Dream - Alkisah, tanah Arab tengah dilanda paceklik. Musim kemarau berjalan cukup panjang, membuat tanah-tanah di sana tandus.

Khalifah Umar bin Khattab kala itu tengah memimpin umat Islam menjalani tahun yang disebut Tahun Abu. Suatu malam, Khalifah Umar mengajak seorang sahabat bernama Aslam untuk mengunjungi kampung terpencil di sekitar Madinah.

Langkah Khalifah Umar terhenti di dekat sebuah tenda lusuh. Suara tangis seorang gadis kecil mengusik perhatiannya. Khalifah Umar lantas mengajak Aslam mendekati tenda itu dan memastikan apakah penghuninya butuh bantuan.

Setelah mendekat, Khalifah Umar mendapati seorang wanita dewasa tengah duduk di depan perapian. Wanita itu terlihat mengaduk-aduk bejana.

Setelah mengucapkan salam, Khalifah Umar meminta izin untuk mendekat. Usai diperbolehkan oleh wanita itu, Khalifah Umar duduk mendekat dan mulai bertanya tentang apa yang terjadi.

" Siapa yang menangis di dalam itu?" tanya Khalifah Umar.

" Anakku," jawab wanita itu dengan agak ketus.

" Kenapa anak-anakmu menangis? Apakah dia sakit?" tanya Khalifah selanjutnya.

" Tidak, mereka lapar," balas wanita itu.

Jawaban itu membuat Khalifah Umar dan Aslam tertegun. Keduanya masih terduduk di tempat semula cukup lama, sementara gadis di dalam tenda masih saja menangis dan ibunya terus saja mengaduk bejana.

Perbuatan wanita itu membuat Khalifah Umar penasaran. " Apa yang kau masak, hai ibu? Mengapa tidak juga matang masakanmu itu?" tanya Khalifah.

" Kau lihatlah sendiri!" jawab wanita itu.

Khalifah Umar dan Aslam segera melihat isi bejana tersebut. Seketika mereka kaget melihat isi bejana itu.

" Apakah kau memasak batu?" tanya Khalifah Umar dengan tercengang.

" Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum," kata wanita itu.

" Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan," ucap wanita itu.

" Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya," lanjut wanita itu.

Wanita itu tidak tahu yang ada di hadapannya adalah Khalifah Umar bin Khattab. Aslam sempat hendak menegur wanita itu. Tetapi, Khalifah Umar mencegahnya. Khalifah lantas menitikkan air mata dan segera bangkit dari tempat duduknya.

Segeralah diajaknya Aslam pergi cepat-cepat kembali ke Madinah. Sesampai di Madinah, Khalifah langsung pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum.

Tanpa mempedulikan rasa lelah, Khalifah Umar mengangkat sendiri karung gandum tersebut di punggungnya. Aslam segera mencegah.

" Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu," kata Aslam.

Kalimat Aslam tidak mampu membuat Umar tenang. Wajahnya merah padam mendengar perkataan Aslam.

" Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?" kata Umar dengan nada tinggi.

Aslam tertunduk mendengar perkataan Khalifah Umar. Sembari terseok-seok, Khalifah Umar mengangkat karung itu dan diantarkan ke tenda tempat tinggal wanita itu.

Sesampai di sana, Khalifah Umar menyuruh Aslam membantunya menyiapkan makanan. Khalifah sendiri memasak makanan yang akan disantap oleh wanita itu dan anak-anaknya.

Khalifah Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan setelah masakannya matang. Melihat mereka bisa makan, hati Khalifah Umar terasa tenang.

Makanan habis dan Khalifah Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah keesokan harinya.

" Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu," kata Khalifah Umar.

Keesokan harinya, wanita itu pergi menemui Amirul Mukminin. Betapa kagetnya si wanita itu melihat sosok Amirul Mukminin, yang tidak lain adalah orang yang telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya.

" Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum," kata wanita itu.

" Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar.

Selengkapnya, baca pada tautan ini. (Ism) 

 

2 dari 6 halaman

Ibu di Cianjur Masak Batu Demi Hilangkan Rasa Lapar Anak

Dream - Iyah, 33 tahun, asal Cianjur merupakan potret bagaimana kelompok miskin di Indonesia masih saja terabaikan. Wanita yang merupakan istri dari Andun Suherman, 45 tahun, harus membesarkan tujuh orang putrinya dalam kondisi serba kekurangan.

Bahkan, Iyah sampai memasak batu untuk mengelabui anaknya. Sebab, di rumahnya sudah tidak ada lagi persediaan makanan.

Kisah ini terjadi ketika anak Iyah yang masih kecil merengek lapar. Iyah bingung dan memutuskan memasak batu, berharap anaknya tertidur dan melupakan rasa laparnya.

Kabar tersebut lantas terdengar oleh Kapolres Cianjur AKBP Asep Guntur Rahayu. Hatinya terenyuh dan segera menemui keluarga Andun dan Iyah.

Guntur lalu memberikan sejumlah bantuan. Tidak hanya makanan, pejabat kepolisian itu juga mengusahakan agar Andun, Iyah dan ketujuh putrinya tinggal di rumah yang layak.

Selama ini, mereka tinggal di gubuk reyot yang berdiri di atas lahan milik orang. Guntur mencoba mendekati pemilik tanah hingga akhirnya sang pemilik tanah merelakan sebagian tanahnya untuk keluarga miskin tersebut.

Guntur membalas kebaikan pemilik tanah dengan menanggung seluruh biaya sertifikasi tanah tersebut. Dalam pengurusan sertifikat dan pemberian bantuan, Guntur dibantu oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Cianjur beserta sejumlah donatur.

(Ism, Sumber: akun fanpage Divisi Humas Mabes Polri.)

3 dari 6 halaman

AKBP Guntur, Kapolres Penolong Ibu Pemasak Batu

Dream - Kapolres Cianjur, Jawa Barat, Ajun Komisaris Besar Polisi Asep Guntur Rahayu terlonjak tak percaya, ketika mendengar informasi ada warga Cianjur yang anaknya kelaparan, sementara ibunya tak punya makanan apapun. Si ibu memutuskan memasak batu, berharap anaknya tertidur dan melupakan rasa laparnya.

Hati Kapolres bergetar. Terenyuh dan segera menemui keluarga itu. Ia lalu memberikan sejumlah bantuan. Tidak hanya makanan, pejabat kepolisian itu juga mengusahakan agar Andun, Iyah dan ketujuh putrinya tinggal di rumah yang layak.

Apa yang dilakukan Kapolres patut diacungi jempol. Banyak netizen menaruh simpati dan mengapresiasikan tindakannya itu.

Nah, mungkin banyak yang belum mengenal siapa sosok Asep Guntur? Pria Majalengka, 25 Juni 1974 adalah lulusan Akademi Kepolisian (1993-1996).

Asep Guntur Rahayu memiliki background penanganan kasus tindak pidana korupsi. Secara rekam jejak jabatan dan posisi, sejak 2007 hingga 2012, namanya ada dalam deretan penyidik lembaga terdepan dalam pemberantasan korupsi, yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tidak tanggung-tanggung, sejumlah kasus korupsi yang menyeret orang-orang 'besar' bisa dituntaskannya dengan mengirim para tersangka itu ke dalam jeruji besi.

Dalam catatan perjalanan karirnya sebagai salah satu penyidik KPK itu, mulai pejabat di kementrian, bupati hingga duta besar pun dibuatnya harus mempertanggungjawabkan kejahatan yang merugikan keuangan negara itu.

Salah satu kasus korupsi yang cukup menonjol dan menjadi perhatian seantero negeri yang pernah ditanganinya adalah kasus kakak-beradik Anggodo dan Anggoro Widjojo yang tersangkut kasus korupsi dengan usaha penyuapan terhadap pimpinan KPK karena keduanya tersangkut korupsi pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) di Departemen Kehutanan RI.

Selepas tugas di KPK itu, Asep mendapatkan perintah dan posisi baru. Tapi posisi itu tidaklah jauh dari tugas sebelumnya yang berkenaan dengan pengangan kasus tindak pidana korupsi, yakni sebagai Kanit II Subdit IV Dittipidkor Bareskrim Polri.

Bapak tiga anak itu kemudian dipercaya melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di Polres Cianjur. Ia menjabat sebagai Kapolres Cianjur menggantikan Dedy Kusuma Bakti pada April 2015. 

(Ism, berbagai sumber)

4 dari 6 halaman

Geger Pocong di Bantul, Polisi Turun Tangan

 

Dream - Warga Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dihebohkan temuan pocong. Pocong itu terletak di pinggir jalan dan membuat warga serta anak-anak ketakutan.

Dikutip dari akun Facebook Divisi Humas Mabes Polri, Rabu, 10 Juni 2015, para warga melaporkan temuan itu kepada petugas jaga Polsek Dlingo pada Senin, 8 Juni 2015 sekitar pukul 10.00 WIB.

Lantaran heboh, polisi segera mendatangi lokasi tergeletaknya pocong tersebut. Petugas kemudian membawa pocong tersebut ke Mapolsek dan melakukan pemeriksaan.

Hasilnya, pocong tersebut dibuat dari batang pohon pisang dibalut kain kafan. Polisi berharap masyarakat turut menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing. (Ism, Facebook Divisi Humas Mabes Polri) 

5 dari 6 halaman

Kala Mobil Gus Dur Ditilang Polisi: "Belum Tahu Dia"

 

Dream - Cerita lucu tetang sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tak akan pernah ada habisnya. Meski sudah sering dibahas, tetap saja ada cerita-cerita lucu tentang Presiden keempat RI tersebut.

Salah satunya adalah ketika mobil yang membawa Gus Dur dibuntuti mobil polisi. Bahkan sang sopir, Nurudin Hidayat sempat diberondong pertanyaan oleh polisi tersebut.

Cerita ini bermulai saat Gus Dur mendapat undangan menjadi pembicara di luar kota. Tak biasanya Gus Dur pergi tanpa pengawalan mobil patroli.

Mengemudikan dengan kecepatan tinggi, mobil Gus Dur pun disemprit polisi. Sampai akhirnya, polisi itu melihat penumpang yang tengah duduk di belakang.

Setengah terbengong, polisi itu memberanikan diri bertanya. " Itu Pak Gus Dur, ya?" tanyanya.

Si Polisi yang semula bermuka garang pun tiba-tiba berubah. Dia malah mengawal mobil Gus Dur.

Sementara Gus Dur yang sedari tadi tak tahu kejadian itu justru tenang-tenang saja. Mau tahu apa jawaban Gus Dur? Selengkapnya klik disini

Kirimkan blog atau website kamu ke komunitas@dream.co.id, 
dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog/web
3. Foto dengan ukuran high-res (tidak blur)

 

6 dari 6 halaman

Jenderal Hoegeng, Polisi Jujur Anti-Korupsi

 

Dream - Hoegeng Iman Santoso. Inilah polisi yang disebut sebagai contoh jenderal jujur yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Kapolri yang patut menjadi teladan bagi seluruh anggota Korps Bhayangkara.

Bahkan, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memiliki anekdot: hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia. Mereka yakni patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

Hoegeng lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 14 Oktober 1921. Terlahir dengan nama Iman Santoso. Semasa kecil sering dipanggil Bugel (gemuk), yang kemudian sampai dewasa lebih populer dipanggil Hoegeng. Maka, menempellah nama itu sehingga menjadi Hoegeng Iman Santoso.

Dia merupakan anak sulung pasangan Soekario Kario Hatmodjo dan Oemi Kalsoem. Sang ayah merupakan seorang Kepala Kejaksaan yang selama hayatnya tidak pernah mempunyai tanah dan rumah pribadi. Sementara sang ibu merupakan perempuan sederhana yang sering menanamkan nilai-nilai budi pekerti baik kepada Hoegeng kecil.

Selama menjabat Kapolri sejak tahun 1968 hingga 1971, Hoegeng dikenal sebagai sosok pemimpin yang bersih. Meski sudah meninggal 14 Juli 2004, kisah kejujuran Hoegeng tak luntur. Kisah Hoegeng itu ditulis dalam memoar Hoegeng, Polisi antara Idaman dan Kenyataan, karangan Ramadhan KH.

Berikut aksi Hoegeng yang mengundang kekaguman itu, sebagaimana dikutip dariMerdeka.com dan berbagai sumber lainnya. (Ism)

Wasiat Terakhir Ustaz Arifin Ilham
Join Dream.co.id