Kisah Guru Avan Mengajar Murid dari Rumah ke Rumah: Mereka Tak Punya HP dan TV

Your Story | Minggu, 19 April 2020 17:34
Kisah Guru Avan Mengajar Murid dari Rumah ke Rumah: Mereka Tak Punya HP dan TV

Reporter : Eko Huda S

"Jikapun misalnya punya, dana untuk beli kuota internet akan membebani wali murid," tambah Avan.

Dream - Sejak virus corona merebak, pemerintah mengimbau para murid untuk belajar di rumah. Para murid menerima tugas dari guru melalui smartphone. Lewat gawai pula tugas itu dikumpulkan.

Namun, tidak semua murid bisa melakukan kegiatan belajar di rumah dengan sistem demikian. Sebab, tidak semua murid dan orang tuanya memiliki smartphone maupun sarana lain untuk berinteraksi dengan para guru selama kegiatan belajar di rumah.

Simaklah pengalaman Avan Fathurrahman. Guru SD Negeri Batuputih Laok 3, Sumenep, Jawa Timur. Dia mengaku tak bisa memberikan tugas kepada sejumlah muridnya.

" Sudah beberapa minggu saya berada dalam posisi yang dilematis. Bukan masalah rindu. Tapi tentang imbauan Mas Mentri, agar bekerja dari rumah," tulis Avan di akun Facebook.

2 dari 6 halaman

Menurut Avan, pola mengajar jarak jauh melalui ponsel pintar tak mungkin dia lakukan. Sebab, tidak semua murid memiliki smartphone. Mereka juga tidak punya laptop yang tersambung dengan internet.

" Jikapun misalnya punya, dana untuk beli kuota internet akan membebani wali murid," tambah dia.

 Avan Fathurrahman© Facebook Avan Fathurrahman

Avan bercerita, beberapa minggu silam ada walimurid yang bertekad mencari pinjaman untuk membeli smartphone. Semua dilakukan karena model belajar dari rumah dilakukan melalui ponsel cerdas.

" Saya terkejut mendengar penuturannya. Lalu pelan-pelan saya bicara. Saya melarangnya," kata Avan.

3 dari 6 halaman

Dia memberikan pemahaman kepada walimurid itu bahwa belajar di rumah tidak harus menggunakan polsel pintar. Belajar di rumah bisa dilakukan dengan membaca buku-buku paket yang dipinjamkan sekolah.

" Saya bilang, bahwa sayalah yang akan berkeliling ke rumah-rumah siswa untuk mengajari," tambah dia.

Mendengar penjelasan itu, sang walimurid pun menjadi lega. Raut wajahnya menjadi gembira. " Jadi, di masa pandemik ini, saya memang harus keliling ke rumah-rumah siswa, setidaknya 3 kali dalam seminggu," kata dia.

 Avan Fathurrahman© Facebook Avan Fathurrahman

Memang tidak mudah bagi Avan. Untuk berkeliling dia harus menempuh jarak rumah antarsiswa yang lumayan jauh. Apalagi medannya juga kurang bagus. " Bahkan jika hujan, saya harus jalan kaki ke salah satu rumah siswa."

4 dari 6 halaman

Avan sadar, dengan berkeliling ke rumah para siswa itu dia melanggar imbauan pemerintah untuk tetap di rumah untuk memutur rantai penularan virus corona. Tapi, hanya itu cara yang bisa dia lakukan agar murid-muridnya tetap bisa belajar.

" Membiarkan siswa belajar sendiri di rumah tanpa saya pantau, jelas saya kurang sreg. Bukan tidak percaya pada orang tua mereka. Tapi saya tahu, bahwa sekarang mereka sibuk. Ini masa panen padi," tutur dia.

Menurut Avan, saban hari para walimurid itu harus bekerja ke sawah. Mereka bergotong-royong panen padi dari tetangga, kebiasaan yang disebut " otosan" . Sehingga para muridnya harus belajar sendiri. Bila malam, mereka ke mushola untuk mengaji.

" Maka sayalah yang harus hadir untuk mendampingi mereka begiliran meski sebentar. Menjelaskan materi, memberikan petunjuk tugas, mengoreksi tugas yang diberikan sebelumnya, termasuk memberikan apresiasi pada pekerjaan mereka," papar Avan.

5 dari 6 halaman

Dia sedikit lega setelah TVRI menyediakan tayangan edukasi untuk siswa. Dia menjelaskan kepada anak didik dan walimurid tentang tayangan pelajaran itu. Dia berpikir program TVRI itu sangat membantu.

" Tapi, lagi-lagi saya harus menelan ludah. Tiga dari lima siswa saya tidak punya televisi di rumahnya. Dan saya tidak melanjutkan kampanye nonton TV pada siswa yang lain. Biarlah," tutur Avan.

Sebelum menulis kisahnya, Avan tidak pernah memoto rumah para murid dan kegiatannya mengajar. Namun karena permintaan pengawas sekolah sebagai laporan guru, dia mulai memotret para murid dan kkegiatannya mengajar.

" Nah... Ini... Jadi saya harus banyak-banyak foto. Foto diri, foto dengan siswa, foto hasil pekerjaan siswa, juga foto pencitraan yang lain," tulis Avan sambil menambahkan emotikon tertawa.

6 dari 6 halaman

Menurut Avan, mengajar siswa secara virtual lewat ponsel cerdas, seperti dilakukan oleh banyak guru lain, memang sangat nyaman. Namun, dia tidak bisa melakukannya. Dia merasa kegiatannya mendatangi rumah-rumah murid itu telah melanggar imbauan pemerintah.

" Jadi jelas, saya belum menjadi guru yang baik. Tidak memberikan contoh yang baik bagi siswa karena melanggar imbauan pemerintah. Saya bukan tidak takut corona. Takut juga. Tapi gimana lagi?

Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua dari wabah penyakit, termasuk covid-19. Amin," pungkas Avan.

Join Dream.co.id