Kisah Dokter Arab Penolong Pasien Covid-19 di Rumah Sakit Israel

Your Story | Jumat, 1 Mei 2020 17:39
Kisah Dokter Arab Penolong Pasien Covid-19 di Rumah Sakit Israel

Reporter : Sugiono

Dia seorang dokter Arab yang memimpin unit penanggulangan wabah virus corona di Rumah Sakit Rambam, Haifa, Israel Utara.

Dream - Khitam Hussein adalah seorang dokter Arab yang memimpin unit penanggulangan wabah virus corona di Rumah Sakit Rambam, Bat Galim, Haifa, Israel Utara.

Dia bekerja di garis depan dalam melawan pandemi virus corona sejak wabah tersebut mulai merebak di Israel pada awal Februari lalu.

Sebagai kepala unit penanggulangan wabah virus corona di rumah sakit terbesar di Israel Utara, Khitam bekerja selama 12 jam setiap hari dalam beberapa bulan terakhir.

" Ini merupakan pekerjaan yang sangat sulit, tidak seperti hari-hari biasanya. Kehidupan kami benar-benar kacau," kata Khitam.

2 dari 5 halaman

Tidak Pernah Bertemu Ibu Lagi

Khitam dibesarkan di timur laut kota Israel Rameh yang sebagian besar penduduknya adalah warga Arab. Sekarang dia tinggal di kota Karmiel, hanya 30 menit berkendara dari Haifa, kota terbesar ketiga di Israel.

Atas kemauan sendiri, Khitam menjauhkan diri dari keluarga besarnya selama dua bulan terakhir. Salah satu yang dijauhinya adalah ibu kandungnya.

Khitam menjauhkan diri dari keluarga karena takut menularkan virus corona ke mereka setelah bekerja 12 jam di ruang isolasi di RS Rambam.

3 dari 5 halaman

Menjaga Agar Keluarga Tak Tertular Virus Corona

Namun Khitam masih tinggal di rumah bersama suami dan dua putrinya. Meski begitu, shift setengah hari di rumah sakit jadi beban dirinya untuk berkumpul dengan mereka.

Setibanya di rumah, Khitam segera mencuci tangan, mandi dan ganti baju sebelum menemui putrinya. Khitam mengambil setiap tindakan pencegahan sebelum dia berinteraksi dengan orang yang dicintainya.

" Saya sering pulang terlambat ketika mereka sudah tidur, tetapi kadang-kadang mereka menunggu saya. Saya tidak bisa membayangkan betapa saya merindukan mereka (ketika di rumah sakit)," kata Khitam.

4 dari 5 halaman

Sebuah Keputusan yang Sulit

Khitam menjelaskan bahwa hampir tidak mungkin baginya untuk membuat keputusan untuk melakukan hal yang sama. Tidak pulang sama sekali, dan meninggalkan suami serta anak-anaknya untuk jangka waktu yang tidak diketahui.

Karena tidak ada yang tahu kapan pandemi Covid-19 ini akan mereda dan betapa mereka sudah merindukan satu sama lain.

5 dari 5 halaman

Sedih Tinggalkan Anak yang Masih Kecil-kecil

Khitam memiliki dua anak perempuan yang masih kecil. Di usia 8 dan 10 tahun, kedua putrinya sangat membutuhkan perhatiannya.

Karena itu, Khitam terkadang merasa sedih akibat sering meninggalkan kedua putrinya untuk bekerja merawat pasien Covid-19.

" Putri bungsu saya pernah menelepon saya saat saya di rumah sakit. Dia bilang 'Aku rindu Mama, kapan Mama pulang?'. Untuk beberapa menit saya serasa mau pingsan, tapi saya berusaha menguatkan diri dan kembali bekerja," pungkas Khitam.

Sumber: Jerussalem Post

Join Dream.co.id