Kisah Pilu Bapak yang Tak Pernah Dikunjungi Anak Saat Lebaran

Your Story | Jumat, 1 Juli 2016 09:02

Reporter : Sandy Mahaputra

Tiba-tiba bapak itu mengangkat tangan dan berdoa. "Ya Allah, kau cabutlah nyawaku. Sudah tak ada gunanya lagi aku hidup..." Air matanya tumpah.

Dream - Orangtua mana yang tidak susah menghadapi kenyataan hidup yang menyedihkan ketika anak-anak yang sudah besar dan hidup di perantauan tidak lagi ingat dengan keadaan di kampung.

Padahal, sejak kecil mereka dijaga, dibelai dan dimanja. Segala keinginan mereka selalu penuhi asal anak-anak bisa hidup bahagia dan sempurna. Meskipun tidak semua orang seperti itu, tapi hal-hal semacam itu memang benar terjadi dalam masyarakat kita.

Membagikan sebuah kisah yang cukup memilukan, Aznan Abdul Latiff yang bergabung dalam program 'Sekampit Beras' yang digagas Pemuda ISMA Melaka, Malaysia baru-baru ini mengunjungi rumah seorang bapak yang mengaku hidup sendirian.

Bapak ini mengatakan memiliki banyak anak, tetapi tak seorang pun anaknya yang pernah pulang menjenguknya.

 

Kisah Pilu Bapak yang Tak Pernah Dikunjungi Anak Saat Lebaran
2 dari 4 halaman

Berlinangan Air Mata

Setiap tahun bila tiba bulan Ramadan, Aznan dan teman-temannya dari Pemuda ISMA Melaka mengirim bantuan kepada yang membutuhkan. Namun tahun ini tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini akan menjadi ingatan Aznan sampai kapanpun.

Biasanya bantuan beras dan barang kebutuhan akan diteruskan ke rumah anak yatim atau madrasah seperti yang diminta oleh yang memberi. Tapi tahun ini tidak.

Aznan pergi ke rumah-rumah orang kampung sambil membawa daftar nama penerima yang didapat dari pihak masjid. Ada 10 rumah yang dikunjungi semalam, namun Aznan mengaku mendapat berbagai kisah dan teladan.

Dan rumah pertama yang dia kunjungi akan menjadi kenangan. Ketika mengingatnya Aznan bisa berlinangan air mata.

Aznan berhenti di depan sebuah rumah yang agak tua. Terlihat seorang pemuda sedang sibuk memasukkan besi tua ke dalam kendaraannya dan juga seorang bapak yang mengawasi pemuda itu dari depan rumahnya.

Setelah mengucap salam dan bersalaman dengan pemuda dan bapak itu, Aznan menyerahkan sumbangan dan juga bubur lambuk yang diberikan masjid setelah salat Ashar tadi.

" Bapak, apa kabar? Ini ada sedikit sumbangan buat bapak," kata Aznan memulai pembicaraan.

3 dari 4 halaman

8 Anaknya Itu Tak Sekali pun Balik Tengok

Bapak itu menjawab salam dan mengambil barang yang diberikan. Kemudian ia masuk sebentar ke dalam rumah untuk mengganti pakaian karena ia hanya mengenakan sarung tanpa atasan sewaktu Aznan dan teman-temannya sampai tadi.

Kemudian bapak itu keluar. Sekali lagi Aznan menanyakan kabar pada bapak tu. " Bapak sehat? Bapak tinggal seorang diri saja kah?," kata Aznan.

" Bapak sehat. Anak ini datang dari mana?," tanya bapak tadi.

Aznan pun menjelaskan dia dari mana dan tujuannya datang. Terpancar sedikit senyuman di raut wajah tua bapak itu ketika disapa dan diajak berbicara dengan ramah oleh Aznan dan teman-temannya.

Saya terus menanyakan pertanyaan lagi, bagi memesrakan kondisi.

" Anak bapak tak balik kah?," tanya Aznan mencoba mencairkan suasana. Seketika itu juga wajah bapak itu berubah. " Anak bapak ada 8 orang. Tak seorang pun yang balik tengok bapak. Apalah nasib bapak ini," keluhnya.

Setelah terdiam, tiba-tiba bapak itu mengangkat tangan dan berdoa di depan Aznan dan teman-temannya. " Ya Allah, kau cabutlah nyawaku. Sudah tak ada gunanya lagi aku hidup. Kau matikanlah aku, Ya Allah"

4 dari 4 halaman

Cobalah Pulang di Hari Raya Demi Orangtua Kita


Terlihat genangan air mulai berkumpul di kelopak mata bapak itu. Aznan dan teman-temannya sedikit tersentak dengan apa yang mereka dengar dari mulut bapak itu. Terenyuh juga melihat kondisi bapak ketika itu.

" Kami tak bisa berkata-kata seketika. Seorang ayah begitu sedih sehingga meminta Allah mencabut nyawanya karena sudah lama anaknya tidak pulang ke rumah," kata Aznan

Aznan mencoba menghibur dan menenangkan bapak itu dengan memberi sedikit nasihat dan harapan.

" Kami tak kenal siapa bapak ini. Kami tak kenal ke-8 orang anak dari bapak ini. Kami juga tak tahu apakah harapan yang kami berikan pada bapak itu untuk menanti kepulangan anak-anaknya adalah harapan palsu atau mampu jadi kenyataan. Tapi, saya berdoa kepada Allah semoga urusan bapak ini disederhanakan. Saya berdoa agar anak-anak bapak ini pulang untuk mengunjungi ayahnya. Saya berdoa agar lebih banyak yang datang membantu bapak ini," kata Aznan.

Mungkin tak mudah bagi kita memberikan kasih sayang pada orangtua seperti yang mereka lakukan pada kita waktu kecil dulu. Mungkin juga kita tak mampu memberikan kemewahan pada mereka. Tapi yang pasti kita bisa selalu berdoa dan berbuat baik kepada mereka. Cobalah pulang di Hari Raya demi orangtua kita.

Jika sebelumnya ada masalah yang terjadi, ketahuilah, seburuk apapun dia, dia tetap ayah kita. Insan yang banyak berkorban untuk membesarkan kita dan darahnya mengalir dalam tubuh kita.

Join Dream.co.id