Keajaiban Sholawat Kiai Masduqie, Nilai Ujian 3 Jadi 8

Your Story | Senin, 16 Mei 2016 20:02
Keajaiban Sholawat Kiai Masduqie, Nilai Ujian 3 Jadi 8

Reporter : Eko Huda S

Kisah ini pernah disampaikan Almarhum Kiai Achmad Masduqie Machfudh.

Dream - Kisah ini pernah disampaikan Almarhum Kiai Achmad Masduqie Machfudh. Cerita tentang " keajaiban" sholawat yang dialami oleh Pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Nurul Huda Mergosono, Malang, Jawa Timur, itu.

Pengalaman ini terjadi pada tahun 1957. Kala itu, Masduqie muda merantau dari Jepara ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu. Kala di bangku SLTA itu, Masduqie sakit, tak bisa buang hajat beberapa hari. Tubuhnya demam.

Masduqie diyakini diganggu jin. Selera makannya melonjak. Tapi anehnya tidak bisa buang hajat. Di hari ke empat, tubuhnya pun sangat panas dan saat itu juga Beliau berpesan kepada adiknya.

" Dik, nanti kalau aku mati, tolong jangan bawa pulang jenazahku ke Jepara tetapi dikuburkan di Jogja saja," pinta Masduqie. Kiai Masduqie datang ke Jogja berniat untuk mondok. Beliau khawatir syahidnya hilang jika wafat di Jogja namun jenazahnya dimakamkan di Jepara.

Mendengar permintaan itu, sang adik semakin khawatir. Maka diajaklah sang kakak menemui seorang seorang kiai. Dan Kiai Masduqie menerima ajakan adiknya tersebut. Pergilah mereka dengan naik becak dan sampai di rumah pak kiai yang di maksud pada pukul satu malam.

Ketika Masduqie datang, pintu rumah Pak Kiai masih terbuka. Tentu tengah malam itu sang tuan rumah sudah tidak melayani tamu, karena sejak pukul 10 malam adalah waktu khusus Pak Kiai untuk ibadah kepada Allah.

Tapi, karena melihat Masduqie muda yang datang di tengah malam dengan keadaan payah, kiai pun mempersilahkan Masduqie muda beristirahat di rumah.

Masduqie muda pun tertidur di rumah kiai itu. Baru beberapa jam di rumah kiai, tepatnya pukul 3 dinihari, Masduqie terbangun karena merasa mulas ingin buang hajat. Setelah itu, rasa sakit dan panas yang dirasakan sedikit hilang.

Pada pagi harinya, Masduqie yang masih panas badannya bertemu dengan Pak Kiai. " Pak Kiai, saya sakit." Bukannya merasa iba, Pak Kiai hanya tersenyum. Dan anehnya, rasa panas yang beliau rasakan hilang seketika itu.

Pak Kiai kemudian berkata, " Mas, sampean gendeng mas."

" Kenapa gendeng, Yai?" tanya Masduqie muda.

" Iya, wong bukan penyakit dokter, sampean kok bawa ke dokter, ya uang sampean habis. Pokoknya kalau sampean kepengin sembuh, sampean tidak boleh pegang kitab apapun," jawab kiai.

Jangankan membaca, menyentuh saja tidak diperbolehkan. Padahal pada saat itu, dua bulan lagi akan ujian akhir. " Kiai, dua bulan lagi saya ujian, kok enggak boleh pegang buku," ujar Masduqie muda.

Seketika itu Pak Kiai menanggapinya dengan marah-marah, " Yang bikin kamu lulus itu gurumu? Apa bapakmu? Apa mbahmu?"

Masduqie muda menjawab, " Pada hakikatnya Allah, Yai."

" Lha iya gitu!" timpal Pak Kiai.

" Lalu bagaimana syariatnya (upaya yang dilakukan), Kiai?" tanya Masdqie muda lagi.

" Tiap hari, kamu harus baca shalawat yang banyak," jawab Pak Kiai.

Masduqie muda kembali bertanya, " Banyak itu berapa, Kiai?"

Pak Kiai pun menjawab, " Ya paling sedikit seribu, habis baca 1000 sholawat, minta ‘dengan berkat sholawat yang saya baca, saya minta lulus ujian dengan nilai bagus’."

Sejak itu, Masduqie muda tidak berani pegang kitab maupun buku, karena memang ingin sembuh. Mendengar cerita dari Masduqie muda, sang paman justru marah-marah. " Bagaimana kamu ini? Dari Jepara ke sini, kamu kok nggak belajar?" Masduqie muda tidak berani komentar apa-apa. Karena mengikuti petunjuk Pak Kiai agar tidak menyentuh kitab atau buku.

Menjelang ujian, pelajaran bahasa Jerman, bukunya ternyata diganti oleh gurunya dengan buku yang baru. Karena masih dilarang menyentuh buku, maka Masduqie tetap taat titah kiai. Tak menyentuh buku baru itu.

Setelah ujian, Masduqie muda dipanggil guru bahasa Jerman.

Pak Guru : Kamu her (mengulang ujian).

Masduqie : Berapa nilai saya pak?

Pak Guru : Tiga!

Masduqie : Iya, Pak. Kapan, Pak?

Pak Guru : Seminggu lagi

Namun setelah seminggu, Masduqie muda tidak langsung mendatangi guru bahasa Jerman, karena larangan pegang buku belum selesai. Baru setelah selesai, Masduqie muda mendatangi Pak Guru.

Masduqie : Pak, saya minta ujian, Pak.

Pak Guru : Ujian apa?

Masduqie : Ya ujian bahasa Jerman, Pak.

Pak Guru : Lha kamu bodoh apa?

Masduqie : Lho kenapa, Pak?

Dan jawaban Pak Guru sangat mengejutkan. Sholawat yang diamalkan Kiai Masduqie ternyata....

Baca kisah lengkapnya di tautan berikut ini.

Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak
Join Dream.co.id