Hukum Menjual Barang Tiruan Menurut Pandangan Ulama

Your Story | Selasa, 12 November 2019 20:00
Hukum Menjual Barang Tiruan Menurut Pandangan Ulama

Reporter : Ahmad Baiquni

Barang tiruan juga dikenal dengan istilah KW.

Dream - Bagi mereka yang terbiasa berbelanja barang, mungkin mengenal istilah KW. Istilah ini merujuk pada barang yang sifatnya tiruan.

Barang tiruan biasa mencantumkan ciri yang sama dengan aslinya. Umumnya berkaitan dengan merek, ciri, kualitas dan lain sebagainya.

Barang jenis ini diperjualbelikan dengan harga terjangkau. Jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga barang aslinya, yang telah diakui merek dan kualitasnya.

Alasan penjualan barang tiruan ini antara lain karena yang asli sulit didapat. Jikapun ada, barang asli harganya sangat mahal.

Lantas, bagaimana hukumnya menjual barang tiruan menurut aturan syariat?

 

2 dari 6 halaman

Terdapat Potensi Dharar

Dikutip dari NU Online, menjual barang tiruan adalah sah jika memenuhi syarat dan rukunnya. Meski begitu, hukumnya adalah haram dan berdosa.

Ini karena terdapat dharar atau potensi timbulnya kerugian pada pihak lain. Dalam hal ini yaitu penjual dan atau produsen barang aslinya.

Jual beli ini berjalan tanpa ada izin dari produsen. Sehingga, dalam syariat tergolong jual beli haram.

Dalam aturan syara', terdapat dua jenis jual beli yang dilarang. Keduanya disebabkan faktor internal dan eksternal.

Jual beli terlarang karena faktor internal seperti riba atau transaksi mengandung unsur gharar yang bisa menimbulkan kerusakan. Sedangkan jual beli terlarang karena faktor eksternal seperti menimbulkan kerugian bagi pihak lain.

Dua jenis jual beli ini sah jika terpenuhi syarat dan rukunnya. Tetapi, ulama menyatakan haram hukumnya.

 

3 dari 6 halaman

Penjelasan Ulama

Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid membahas persoalan ini.

" Adapun jual beli yang ada larangan syara' terhadapnya karena sebab-sebab dari luar (sebab eksternal) maka termasuk dalam jenis jual beli ini adalah jual beli yang mengandung manipulasi, pemalsuan atau tipu daya (ghasysy), dan jual beli yang mengandung dharar, yakni merugikan terhadap diri sendiri atau pihak lain... Jumhur ulama menyatakan bahwa larangan terhadap jual beli bila merupakan larangan karena substansi atau entitas obyek (barang) yang dilarang itu sendiri maka berakibat hukum fasad, yakni rusak atau tidak sahnya jual beli (batal), seperti larangan riba dan jual beli obyek gharar (ketidakjelasan, seperti jual beli ikan di dalam lautan --pen); tetapi bila larangan itu karena ada sebab dari luar (aspek eksternal), maka jual beli tersebut tidak berakibat hukum rusaknya jual beli."

Jual beli barang tiruan dapat ditinjau dari kaidah yang dikemukakan Mazhab Hambali, seperti disinggung Syeikh Wahbah Az Zuhayli dalam kitab Al Fiqhul Islami wa 'Adillatuhu.

" Prinsip dasar di dalam akad dan segala hal yang berhubungan dengannya, termasuk syarat, adalah boleh selama tidak dilarang oleh syara’ atau bertentangan dengan nash-nash syara'."

Dari paparan di atas, dapat diketahui jual beli barang tiruan bertentangan dengan ketentuan syara'. Ini karena terdapat potensi kerusakan di dalamnya yang dialami salah satu pihak sehingga sebisa mungkin harus dihindari.

Sumber: NU Online

4 dari 6 halaman

Istri Ambil Uang di Dompet Suami Tanpa Izin, Bolehkah?

Dream - Setiap suami punya kewajiban untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Mencukupi semua kebutuhan istri mulai dari makan, kebutuhan rumah tangga, dan masih banyak lagi.

Dapat dikatakan, hak istri merupakan kewajiban bagi suami. Jika tidak dipenuhi, suami telah melanggar hak istri.

Banyak yang memahami nafkah terbagi menjadi dua yaitu lahir dan batin. Nafkah lahir yaitu berupa segala kebutuhan fisik istri mulai dari makanan, kosmetik, rumah tangga dan lain-lain.

Umumnya, nafkah lahir diberikan secara rutin tiap bulan dalam bentuk uang. Jika ada pendapatan tambahan lalu diberikan suami pada istrinya, itu juga termasuk nafkah.

Tetapi, tidak sedikit cerita istri kesusahan memenuhi kebutuhannya. Penyebabnya, sang suami ternyata pelit dan hanya mau memberi sebagian uang untuk kebutuhan sebulan.

Padahal, suami punya pendapatan lebih. Bahkan di dompet terkadang tersimpan sejumlah uang.

Jika demikian, apakah istri dibolehkan mengambil uang dalam dompet suami tanpa izin?

5 dari 6 halaman

Wejangan Rasulullah

Dikutip dari Bincang Muslimah, hal semacam itu ternyata juga pernah terjadi di zaman Rasulullah Muhammad SAW. Hindun, istri dari Abu Sufyan, pernah mengadu kepada Rasulullah mengenai suaminya yang begitu pelit.

Suatu hari, Hindun butuh uang untuk mencukupi kebutuhannya. Dia pun akhirnya mengambil uang yang disimpan di saku baju Abu Sufyan tanpa sepengetahuan suaminya.

Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Aisyah RA.

Dari Aisyah RA, ia berkata, " Hindun binti 'Utbah, istri Abu Sufyan menemui Rasulullah SAW seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan seorang laki-laki yang pelit (kikir), ia tidak memberikan nafkah kepadaku yang mencukupi (kebutuhanku) dan anakku kecuali (dari) apa yang aku ambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah aku berdosa karena hal itu?' Rasulullah SAW menjawab, 'Ambillah dari hartanya dengan ma'ruf’ (semestinya) apa yang cukup buatmu dan anakmu'."

 

6 dari 6 halaman

Selama Untuk Kebutuhan Pokok dan Mendesak

Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari membolehkan istri mengambil uang suaminya tanpa izin lebih dulu. Tetapi, selama uang tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Yang dimaksud kebutuhan sehari-hari sifatnya pokok dan mendesak untuk dipenuhi. Contohnya makan, biaya kesehatan dan lain sebagainya.

Selain itu, kekikiran yang disebutkan dalam hadis di atas merupakan sifat suami. Bukan dalam rangka untuk menabung melainkan memang suami tidak mau memberikan uang lebih banyak kepada istrinya.

Hadis di atas memang membolehkan istri mengambil uang suami tanpa sepengetahuannya. Tetapi, hadis ini tidak bisa dipakai dasar jika kebutuhan dasar terpenuhi sementara istri merasa perlu mencukupi kebutuhan tersier yang sifatnya tidak mendesak.

Sumber: Bincang Muslimah.

Representasi Feminisme Versi Barli Asmara
Join Dream.co.id