Jangan Salah, Ini Bedanya Mani, Madzi, dan Wadhi

Your Story | Senin, 8 Februari 2021 09:00
Jangan Salah, Ini Bedanya Mani, Madzi, dan Wadhi

Reporter : Dwi Ratih

Berikut penjelasan lengkapnya!

Dream – Dalam Islam, wanita dan pria yang telah baligh harus melakukan mandi junub atau biasa disebut mandi wajib setelah mengalami hadas besar, seperti haid pada perempuan, dan keluarnya mani pada lelaki.

Namun apakah Sahabat Dream tahu bahwa cairan yang keluar dari kemaluan terdiri dari tiga jenis?

Tiga cairan itu adalah mani, madzi dan wadhi. Lalu apa bedanya? Apakah keluarnya mani, madzi, dan wadhi, membatalkan puasa?

Dikutip dari postingan Instagram ustaz Dr. Raehanul Bahraen, berikut paparannya:

1. Mani (Hukumnya Suci)

Mani keluar dengan syahwat, setelah keluar badan akan menjadi sedikit melemah (rileks). Warnanya putih kekuning-kuningan, tebal, tidak tipis/fragile.

Mani keluar dengan memancar (muncrat) dalam beberapa kali pancaran serta memiliki aroma yang menyerupai mayang kurma atau bau adonan. Jika kering, aroma mani seperti putih telur yang kering.

Bagaimana jika keluar mani ketika puasa?

Jika mani keluar karena ingin melampiaskan syahwat, seperti mencium istri atau melihat wanita secara terus-menerus, maka pendapat terkuat adalah membatalkan puasa sebab hakikat puasa adalah meninggalkan syahwat.

Syaikh Muhammad shalih Al-Munajjid hafidzahullah berkata:

“ Melakukan sebab keluarnya mani merupakan pembatal puasa seperti berjima’, mencium, mencumbu atau melihat wanita berulang-ulang. Kemudian keluar mani maka puasanya batal.”

Namun jika mani keluar tanpa sengaja seperti mengalami mimpi basah ketika sedang puasa maka tidak membatalkan puasa, namun wajib melakukan mandi junub.

Seperti fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah:

“ Barang siapa yang mimpi basah sedangkan ia dalam keadaan puasa, berihram, haji atau umrah, maka tidak ada dosa dan kafarah baginya dan tidak berpengaruh terhadap puasa, haji dan umrahnya. Wajib baginya mandi janabah jika telah keluar mani.”

2 dari 6 halaman

2. Madzi (Hukumnya Najis)

Cukup sulit untuk membedakan antara mani dan madzi, karena memiliki ciri yang menyerupai cairan tipis, kental dan tidak berwarna. Keluar ketika mencumbu atau mengingat-ingat jima’, menginginkan, melihatnya atau yang lain.

Madzi Keluar dalam bentuk tetesan pada kepala penis, bisa jadi ia tidak merasakan ketika keluarnya.

Bagaimana jika keluar Madzi ketika puasa?

Madzi tidak membatalkan puasa.

Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata:

“ Abu Hanifah dan As-Syafi’i berpendapat bahwa keluarnya madzi tidak membatalkan puasa secara mutlak baik dengan cara mencumbu atau yang lain yang membatalkan adalah keluarnya mani bukan madzi.”

3 dari 6 halaman

3. Wadi (Hukumnya Najis)

Cairan Wadi keluar setelah kencing dan teksturnya tidak kental, berwarna putih tebal menyerupai kencing dalam ketebalan tetapi berbeda dalam hal kekeruhan dan bau.

Bagimana jika keluar Wadi ketika puasa?

Wadi tidak membatalkan puasa.

Seperti fatwa dari Al-Lajnah Ad-Daimah:

“ Keluarnya cairan yang kental dan tebal setelah kencing tanpa rasa nikmat bukanlah mani, itu adalah wadi. Ini tidak membatalkan puasa, tidak wajib mandi janabah. Yang menjadi kewajiban adalah membersihkan (istinja’) dan wudu. Selama engkau belum berbuka dan belum berniat berbuka sebelum tenggelamnya matahari, maka puasamu sah dan tidak wajib bagimu mengqhada.”

(Laporan: Yuni Puspita Dewi, Sumber: @raehanul_bahraen)

4 dari 6 halaman

Surat Ali Imran Ayat 190-191 Beserta Tafsir dan Kandungannya

Dream – Surat Ali Imran merupakan surat ketiga dalam Al Quran. Banyak keutamaan yang terkandung dalam surat Ali Imran. Salah satunya dalam surat Ali Imran ayat 190-191.  

Surat Ali Imran ayat 190-191 menjelaskan tentang penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi ulul albab.

Ulil albab yang diterjemahkan sebagai orang-orang berakal memiliki dua ciri utama yakni dzikir dan pikir.

Bacaan Surat Ali Imran Ayat 190-191

Bacaan Arab

 Surat Ali Imran Ayat 190-191
© Dream.co.id

Bacaan Latin

Inna fii kholqis samaawaati wal ardli wakhtilaafil laili wan nahaari la-aayaatil l-ulil albaab. Alladziina yadzkuruunallooha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubihim wayatafakkaruuna fii kholqis samaawaati wal ardli robbanaa maakholatqa haaadzaa baathilaa, subhaanaka faqinaa ‘adzaaban naar

Terjemahan

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “ Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

5 dari 6 halaman

Tafsir Dari Para Ulama


 Ilustrasi Berdoa
© Foto : Shutterstock

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi yang tanpa ada contoh sebelumnya dan dalam pergantian malam dan siang dan perbedaan waktu keduanya dengan memanjang dan memendek benar-benar merupakan petunjuk-petunjuk dan bukti-bukti yang agung atas keesaan Allah bagi orang-orang yang mempunyai akal-akal yang selamat. (Tafsir Al-Muyassar)

Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, dari tidak ada menjadi ada serta tanpa ada contoh sebelumnya, dan di dalam pergantian malam dan siang serta perbedaan panjang dan pendeknya waktu, benar-benar terdapat bukti-bukti nyata bagi orang-orang yang berakal sehat yang menunjukkan mereka kepada Sang Maha Pencipta alam semesta, hanya Dia Yang berhak disembah. (Tafsir Al-Mukhtashar)

Sesungguhnya dalam penciptaan dan pembuatan langit dan bumi, pergantian malam dan siang hari dengan sangat rinci, pergantian keduanya dalam waktu yang lama maupun singkat, panas dan dingin, serta peristiwa lainnya itu mengandung dalil yang jelas atas keberadaan, kuasa dan keesaan Allah bagi orang-orang yang berakal sehat. Ayat ini diturunkan ketika suku uraisy meminta Nabi SAW dengan berkata: “ Berdoalah kepada Tuhanmu untuk menjadikan bukit Shafa menjadi emas” Lalu beliau berdoa kepada Tuhan. Kemudian turunlah ayat ini Inna fii khalqissamaawaati, Maka sebaiknya kalian memikirkan hal tersebut. (Tafsir al-Wajiz)

6 dari 6 halaman

Intisari Tafsir Surat Ali Imran Ayat 190-191


 Ilustrasi Berdoa
© Foto : Shutterstock

Surat Ali Imran ayat 190-191 menjelaskan bahwa dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi ulul albab. Ulil albab yang diterjemahkan sebagai orang-orang berakal memiliki dua ciri utama yakni dzikir dan pikir.

Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menjelaskan, melalui surat Ali Imran ayat 190, Allah SWT  mengarahkan hamba-Nya untuk merenungkan alam, langit dan bumi. Dia mengarahkan agar hamba-Nya mempergunakan pikirannya dan memperhatikan pergantian antara siang dan malam. Semuanya itu penuh dengan tanda-tanda kebesaran Allah.

Orang yang mampu memahami bahwa penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah, mereka itulah ulul albab. Yang menurut Ibnu Katsir, mereka adalah orang yang memiliki akal sempurna lagi memiliki kecerdasan. Sedangkan menurut Sayyid Qutb, mereka adalah orang-orang yang memiliki pemikiran dan pemahaman yang benar.

Surat Ali Imran ayat 191 menjelaskan ciri-ciri ulul albab. Bahwa ulul albab adalah orang yang banyak berdzikir dan berpikir. Ia berdzikir dalam segala kondisi baik saat berdiri, duduk ataupun berbaring. Ia juga mentafakkuri (memikirkan) penciptaan alam ini hingga sampai pada kesimpulan bahwa Allah menciptakan alam tidak ada yang sia-sia. Maka ia pun berdoa kepada Allah, memohon perlindungan dari siksa neraka.

   

Join Dream.co.id