Perjuangan Tukang Pos, 30 Tahun Keluar Masuk Hutan Lebat 15 Km

Your Story | Kamis, 9 Juli 2020 13:12
Perjuangan Tukang Pos, 30 Tahun Keluar Masuk Hutan Lebat 15 Km

Reporter : Sugiono

Dia sudah biasa dikejar binatang buas, mulai dari gajah hingga beruang.

Dream - Di era Internet dan ponsel pintar, banyak yang mungkin tidak mengetahui bahwa layanan kirim surat melalui tukang pos ternyata masih ada.

Seorang tukang pos dari Tamil Nadu, India dielu-elukan sebagai pahlawan atas pelayanannya yang penuh dedikasi.

D. Sivan yang pensiun minggu lalu banyak dipuji di media sosial karena berjalan melalui hutan lebat untuk mengirim surat.

2 dari 6 halaman

Tiap Hari Jalan 15 Km Lewat Hutan Lebat

Sivan biasa mengirim surat dan uang pensiun di pemukiman terpencil di hutan dekat Singara dan Marapallam.

Pria ini biasa berjalan 15 kilometer dari Kantor Pos Hillgrove dekat Coonoor. Dalam perjalanannya ke rumah-rumah warga di daerah terpencil, Sivan sering bertemu binatang liar.

Dia sudah terbiasa bertemu dengan gajah, beruang, dan beberapa hewan liar lainnya. Namun, hal itu tidak menyurutkan Sivan untuk melakukan tugasnya.

3 dari 6 halaman

Sudah Biasa Dikejar Binatang Buas

Setelah Sivan pensiun, pejabat layanan sipil India Supriya Sahu memposting foto tukang pos di dunia modern itu. Supriya berbagi tentang dedikasi Sivan terhadap pekerjaannya.

" Tukang pos D. Sivan berjalan 15 km setiap hari melalui hutan lebat untuk mengirim surat di daerah-daerah yang tidak dapat diakses di Coonoor.

" Dikejar gajah, beruang, dan binatang buas lainnya, menyeberangi sungai dan air terjun yang licin. Dia melakukan tugasnya dengan dedikasi tinggi selama 30 tahun hingga pensiun minggu lalu," tulis Supriya.

4 dari 6 halaman

Netizen Terharu dan Beri Pujian

Atas kecintaan dan dedikasi menjadi tukang pos lebih dari satu dekade membuat Sivan jadi pusat perhatian netizen.

Mereka menganggap Sivan adalah pahlawan nasional India karena komitmen yang dilakukannya sebagai tukang pos.

" Dedikasi tinggi orang seperti Sivan menghadirkan sosok pemerintah di tengah masyarakat bawah," tulis netizen dalam komentarnya.

" Tak sangka, di era Internet dan ponsel pintar, ternyata masih ada orang yang mau bekerja jadi tukang pos," timpal netizen lainnya.

Sumber: TimesNowNews.com

5 dari 6 halaman

Viral! Guru Gendong Bayi Lewat Jalan Lumpur untuk Mengajar

Dream – Beberapa hari yang lalu, beredar foto viral di media sosial tentang seorang guru yang menggendong anaknya untuk berangkat ke sekolah. Sang guru terpaksa melewati jalan berlumpur untuk menempuh perjalanan ke sekolah tempatnya mengajar.

“ Perjuangan seorang guru di salah satu pelosok Provinsi Aceh untuk memberikan ilmu kepada anak-anak yang semangat mencari ilmu. Semangat ibu guru, semoga jasamu berbuah ibadah yang berguna demi anak-anak yang semangat mencari ilmu demi masa depan,” tulis akun Facebook Atjeh Timeline, dikutip Dream, Sabtu 15 Februari 2020.

Foto-foto yang diunggah ini juga memperlihatkan sang guru yang mengajar sambil menggendong anaknya.

  Guru di Aceh© Akun Facebook Atjeh Timeline

Dikutip dari Aceh Trend, guru ini bernama Husnul Khatimah. Husnul adalah seorang guru di SMP Negeri 4 Pante Bidari, Aceh Timur. Jalan menuju sekolah yang beralamat di Gampong Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, sudah sejak lama susah dilalui.

Kalau hujan, jalan tanah menuju ke sana akan berlumpur. Hanya mobil jenis double cabin yang bisa menembus lumpur tebal tersebut.

“ Guru yang fotonya tayang di Facebook itu bernama Husnul Khatimah. Yang memotret adalah suaminya,” kata Kepala SMPN 4 Pante Bidari, Ishlahudin, kepada Aceh Trend.

6 dari 6 halaman

Makan Waktu 3 Jam Naik Motor

Islahuddin mengatakan, dari jalan Banda Aceh-Medan, jarak jarak tempuh menuju sekolah sekitar tiga jam bila ditempuh dengan sepeda motor. Lamanya waktu tempuh karena kondisi jalan yang sangat rusak. Motor tidak bisa digeber kencang.

Atas kondisi yang demikian buruk, Islahuddin tidak ingin itu menjadi kendala. Proses belajar mengajar untuk anak negeri tetap harus berjalan normal.

 Guru di Aceh© Facebook

Untuk mengantisipasi hal tersebut, di sekolah itu sebuah rumah dinas disulap menjadi penginapan. Jika musim hujan, guru-guru yang mendarmabaktikan dirinya di sana, akan menginap di rumah tersebut.

“ Terpaksa rumah dinas itu kami olah menjadi penginapan. Guru laki-laki dan guru perempuan dipisah. Pilihan tersebut untuk mengantisipasi agar proses PBM tetap berlangsung normal. Kasihan anak-anak jika gurunya terlambat datang karena persoalan buruknya jalan menuju ke sekolah,” ujar dia.

Islahuddin menyebutkan, untuk perbaikan jalan, pihak dinas sudah turun meninjau ke lokasi. “ Pelan-pelan ada kemajuan untuk ke pedalaman ini. Pak Bupati (Hasballah Thaib) juga sudah meninjau lokasi ini,” kata Ishaluddin. (mut)

Join Dream.co.id