Hukum Nikah dalam Islam Bisa Menjadi Haram, Inilah 7 Pernikahan yang Tidak Diperbolehkan

Your Story | Rabu, 1 Desember 2021 17:00

Reporter : Widya Resti Oktaviana

Meskipun pernikahan dianjurkan dalam Islam, namun ada beberapa jenis pernikahan yang tidak boleh dilakukan.

Dream – Dalam Islam, pernikahan antara laki-laki dan perempuan menjadi penyempurna agama sekaligus bernilai ibadah. Meski menikah dianjurkan dalam agama Islam, hukum nikah dalam Islam tidaklah selalu wajib dilakukan. Menikah bisa menjadi wajib, sunah, mubah, makruh, bahkan bisa juga haram, tergantung dengan kondisinya.

Ada banyak sekali dalil tentang pernikahan ini. Salah satunya adalah dalil dari sebuah hadis riwayat Al-Baihaqi yang mengatakan bahwa menikah adalah untuk menyempurnakan agama yang bunyinya sebagai berikut:

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

 Artinya: Jika seseorang menikah, makai a telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al-Baihaqi).

Meskipun menikah ini dianjurkan, tapi sahabat Dream juga perlu tahu bahwa ada beberapa jenis pernikahan yang sebenarnya diharamkan dalam Islam. Sehingga diharapkan pernikahan tersebut tidak dilakukan.

Berikut adalah jenis-jenis pernikahan yang haram untuk dilakukan oleh umat Islam sebagaimana dirangkum oleh Dream melalui berbagai sumber.

Hukum Nikah dalam Islam Bisa Menjadi Haram, Inilah 7 Pernikahan yang Tidak Diperbolehkan
Jenis Pernikahan Yang Diharamkan Dalam Islam (Foto Ilustrasi: Freepik.com)
2 dari 4 halaman

Pernikahan yang Diharamkan dalam Islam

 Pernikahan yang Diharamkan dalam Islam© Freepik.com

Nikah Mut’ah

Apakah sahabat Dream pernah mendengar tentang nikah mut’ah? Ya, nikah mut’ah adalah pernikahan yang dibatasi oleh waktu dan hukum nikah dalam islam untuk jenis nikah mut’ah ini adalah haram. Bahkan Nabi Muhammad saw sendiri telah melarang nikah mut’ah secara langsung karena saat itu di zaman Nabi SAW juga terjadi pernikahan mut’ah.

Dari Ali bin Abi Thalib RA berkata, “ Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah dan juga daging keledai peliharaan pada masa perang khabir.”

Dengan begitu, umat Islam seharunya menghindari pernikahan mut’ah ini karena tidak diperbolehkan dalam Islam.

Menikah dengan Wanita yang sedang Iddah

Perempuan yang sudah menikah lalu kemudian mengalami perceraian atau suaminya meninggal dunia, biasanya mereka akan menjalani masa iddah terlebih dahulu. Setelah masa iddah selesai, maka perempuan tersebut baru bisa menikah lagi jika memang menginginkannya. Namun hukum nikah dalam islam ini bisa menjadi haram saat perempuan tersebut belum selesai iddah, tetapi sudah menyelenggarakan pernikahan.

Syekh Kamil pernah mengatakan bahwa jika menikahinya sebelum masa iddah selesai, maka pernikahan tersebut adalah batal. Baik saat itu sudah melakukan hubungan suami-istri atau pun belum atau sudah berjalan dalam waktu lama atau pun belum.

Selain itu, dalam hal tersebut antara keduanya juga tidak ada warisan dan tidak ada tanggung jawab untuk memberikan nafkah dan mahar untuk pihak perempuan.

Syekh Kamil juga mengatakan bahwa jika salah satu pihak atau keduanya sudah mengetahui tentang tidak diperbolehkannya nikah saat masa iddah, maka mereka akan mendapatkan hukuman sebagai orang yang sudah melakukan zina. Hukuman tersebut adalah berupa rajam.

3 dari 4 halaman

Pernikahan yang Diharamkan dalam Islam

Nikah Syighar

Hukum nikah dalam islam yang diharamkan adalah jenis nikah syighar. Di mana pernikahan ini merupakan seseorang yang menikahkan anak perempuannya dengan syarat orang yang menikah dengan anaknya itu juga menikahkan anak perempuan yang ia miliki dengannya.

Pernikahan ini dilarang oleh Islam dan juga tidak ada tanggung jawab untuk memberikan nafkah atau kewajiban memberikan mas kawin dan warisan. Syekh Kamil mengatakan bahwa jika orang yang melakukan nikah syighar sudah mengetahui bahwa hal tersebut dilarang, tapi tetap melakukannya, maka ada hukuman yang diterima. Bahkan anak dari hasil pernikahan tersebut tidak diberikan untuknya.

Dilarangnya nikah syighar dalam Islam ini telah dijelaskan dalam sebuah hadis sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ، قَالَ : " نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشِّغَارِ ، وَالشِّغَارُ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ : زَوِّجْنِي ابْنَتَكَ وَأُزَوِّجُكَ ابْنَتِي ، أَوْ زَوِّجْنِي أُخْتَكَ وَأُزَوِّجُكَ أُخْتِي  

 Artinya: Rasulullah saw melarang pelaksanaan nikah syighar. ‘Nikah syighar itu adalah seorang laki-laki mengatakan kepada laki-laki lain: nikahkan aku dengan putrimu maka aku akan menikahkan kamu dengan putriku. Atau nikahkan aku dengan saudara perempuamu maka aku akan menikahkan kamu dengan saudara perempuanku.” (HR. Muslim)

Meski begitu, nikah syighar ini juga menimbulkan perdebatan. Menurut Ibnu Qasim, nikah syighar tetaplah sah jika sudah melakukan hubungan badan. Lalu menurut Imam Syafi’i, nikah syighar akan menjadi batal jika mahar tidaklah disebutkan di dalamnya.

Menurut Imam Syafi’i, keduanya diharuskan untuk membayar mahar dengan jumlah yang sama saat meninggal dunia atau sudah melakukan hubungan badan. Atau jika menceraikannya sebelum melakukan hubungan badan, maka harus membayar setengah dari mahar

Nikah Muhallil

Hukum nikah dalam islam yang diharamkan lainnya adalah jenis nikah muhallil. Nikah muhallil adalah seorang perempuan muslim yang sudah mendapatkan talak tiga oleh sang suami dan suaminya tersebut haram kembali lagi dengannya. Hal ini pun juga sudah dijelaskan dalam Al-Quran, lebih tepatnya dalam surat Al-Baqarah ayat 230 yang bunyinya sebagai berikut:

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّىٰ تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ ۗ

 Artinya: Jika suami telah mentalaknya (sesudah dijatuhkan talak yang kedua), maka perempuan itu tidaklah lagi halal baginya, hingga ia menikahi laki-laki lain.”

Selain itu, diharamkannya nikah muhallil ini juga dijelaskan dalam hadis riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi:

Rasulullah melaknat muhallil dan muhallal lahu.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

4 dari 4 halaman

Pernikahan yang Diharamkan dalam Islam

 Pernikahan yang Diharamkan dalam Islam© Freepik.com

Nikahnya Orang yang Ihram

Pernikahan bagi orang yang sedang menjalankan ibadah haji atau pun umroh dan melakukan tahallul, maka hukum nikah dalam islam tersebut adalah haram dan dianggap batal. Jika pun ingin melangsungkan pernikahan, maka hal tersebut bisa dilakukan setelah selesai menjalankan ibadah haji maupun umroh.

Tidak diperbolehkannya menikah saat sedang ihram ini dijelaskan dalam sebuah hadis:

Seorang yang sedang berihram tidak boleh menikah dan tidak boleh dinikahkan dan tidak boleh meminang.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi).

Pernikahan dengan Perempuan Non Muslim selain Yahudi dan Nasrani

Pernikahan yang juga tidak diperbolehkan dalam Islam adalah pernikahan dengan perempuan non muslim selain Yahudi dan Nasrani. Hal ini pun sudah dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 5:

اَلْيَوْمَ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۗ وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ ۖوَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖوَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الْمُؤْمِنٰتِ وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ مُحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسَافِحِيْنَ وَلَا مُتَّخِذِيْٓ اَخْدَانٍۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهٗ ۖوَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ࣖ - ٥

 Artinya: Pada hari ini, dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar mas kawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan. Barang siapa kafir setelah beriman, maka sungguh sia-sia amal mereka dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi."

Pernikahan dengan Perempuan yang Memiliki Hubungan Darah

Setiap umat Islam tentunya sudah mengetahui bahwa menikah dengan saudara kandung atau masih memiliki hubungan darah tidaklah diperbolehkan. Hukum nikah dalam islam ini adalah haram. Hal tersebut juga sudah dijelaskan dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 23:

وَخٰلٰتُكُمْ وَبَنٰتُ الْاَخِ وَبَنٰتُ الْاُخْتِ وَاُمَّهٰتُكُمُ الّٰتِيْٓ اَرْضَعْنَكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَاُمَّهٰتُ نِسَاۤىِٕكُمْ وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕكُمُ الّٰتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّۖ فَاِنْ لَّمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ ۖ وَحَلَاۤىِٕلُ اَبْنَاۤىِٕكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ اَصْلَابِكُمْۙ وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ۔

Artinya: Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anak perempuan, saudara-saudara perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusuimu, saudara-saudara perempuanmu sepersusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Join Dream.co.id