Hukum Berkurban untuk Orang yang Sudah Meninggal Dunia, Bolehkah?

Your Story | Sabtu, 4 Juli 2020 06:01
Hukum Berkurban untuk Orang yang Sudah Meninggal Dunia, Bolehkah?

Reporter : Arini Saadah

Bagaimana hukum berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia?

Dream – Seseorang disunnahkan untuk berkurban pada hari Raya Idul Adha bagi orang yang sudah mampu. Namun ada beberapa orang yang berkurban diperuntukkan untuk orang yang sudah meninggal.

Banyak orang mungkin melakukan hal yang sama, yaitu berkurban untuk orang tua yang sudah meninggal, karena selama hidup belum pernah berkurban.

Lantas apakah tindakan tersebut dibolehkan? Bagaimana hukum berkurban untuk orang yang sudah meninggal menurut pandangan Islam? Mari kita simak ulasan selengkapnya berikut ini: 

2 dari 5 halaman

Hukum Berkurban Bagi Umat Muslim

 Ilustrasi© freepik.com

Menurut Ilmu Fiqih, hukum berkurban adalah sunnah muakkad. Sunnah Muakkad merupakan amalan sunnah yang dilakukan untuk melengkapi dan menyempurnakan suatu ibadah wajib.

Sementara khusus untuk Rasulullah saw hukum berkurban adalah wajib. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan olehh Imam at-Tirmidzi berikut ini yang artinya:

Aku diperintahkan (diwajibkan) untuk berkurban, dan hal itu merupakan sunnah bagi kalian.” (HR At-Tirmidzi).

Maksud sunnah di sini adalah sunnah kifayah. Artinya jika di dalam sebuah keluarga salah satunya sudah menjalankan ibadah kurban, maka gugurlah kesunnahan anggota keluarga yang lain. Sunnah berkurban ini ditujukan bagi orang muslim yang merdeka, baligh, berakal, dan mampu.

Seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Iqna’ fi Halli Alfazhi Abi Asy-Syuja’ karya Muhammad al-Khatib asy-Syarbini.

“ Hukum berkurban adalah sunnah muakkad yang bersifat kifayah, apabila jumlahnya dalam satu keluarga banyak, maka jika salah satu dari mereka sudah menjalankannya maka sudah mencukupi untuk semuanya jika tidak maka menjadi sunnah ‘ain. Sedangkan mukhatabah (orang yang terkena khitab) adalah orang islam yang merdeka, sudah baligh, berakal, dan mampu.”

(Muhammad al-Khatib asy-Syarbini, al-Iqna’ fi Halli Alfazhi Abi Asy-Syuja’, Bairut Maktab al-Buhuts wa ad-Dirasat, tt, juz, 2, h. 588).

3 dari 5 halaman

Pendapat yang Tidak Membolehkan

 Ilustrasi© freepik.com

Biasanya, banyak keluarga yang berkurban diperuntukkan untuk anggota keluarganya yang sudah meninggal dunia. Karena sewaktu hidup belum pernah berkurban sama sekali.

Menurut Imam Muhyiddin Syarf an-Nawawi dalam kitab Minhaj ath-Thalibin secara tegas menyatakan tidak ada kurban untuk orang yang telah meninggal dunia kecuali semasa hidupnya pernah berwasiat.

 Ilustrasi© dream.co.id

Tidak sah berkurban untuk orang lain (yang masih hidup) dengan tanpa seijinnya, dan tidak juga untuk orang yang telah meninggal dunia apabila ia tidak berwasiat untuk dikurbani.” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, Minhaj ath-Thalibin, Bairut Dar al-Fikr, cet ke-1, 1425 H/2005 M, h. 321).

Ibadah kurban merupakan sebuah ibadah yang membutuhkan niat, karenanya niat orang yang berkurban mutlak diperlukan.

4 dari 5 halaman

Pendapat yang Membolehkan

 Ilustrasi© freepik.com

Pandanga lain menyebut bahwa berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia adalah diperbolehkan. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Abu al-Hasan al-Abbadi. Argumentasi dari pendapat yang membolehkan ini adalah dengan alasan bahwa berkurban termasuk sedekah.

Sementara itu, sedekah untuk orang yang sudah meninggal dunia adalah sah dan bisa memberikan kebaikan kepadanya. Selian itu pahalanya juga bisa sampai kepadanya sebagaimana yang sudah disepakati oleh para ulama.

Hal itu sesuai dengan kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Muhyiddin Syarf an-Nawawi berikut ini:

 Ilustrasi© dream.co.id

“ Seandainya seseorang berkurban untuk orang lain tanpa seizinnya maka tidak bisa. Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia maka Abu al-Hasan al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah, sedang sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijma` para ulama.” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Bairut Dar al-Fikr, tt, juz 8, h. 406).

5 dari 5 halaman

Argumentasi Pandangan

 Ilustrasi© freepik.com

Menurut mazhab Syafi’i, pandangan yang pertama di atas dianggap sebagai pandangan yang lebih sahih dan dianut mayoritas ulama dari kalangan mazhab Syafi’i. Meskipun pandangan kedua tidak mayoritas, namun pandangan kedua di atas didukung oleh mashab Hanafi, Maliki, dan Hambali.

Adapun jika (orang yang telah meninggal dunia) belum pernah berwasiat untuk dikurbani kemudian ahli waris atau orang lain mengurbani orang yang telah meninggal dunia tersebut dari hartanya sendiri maka mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali memperbolehkannya. Hanya saja menurut mazhab Maliki boleh tetapi makruh. Alasan mereka adalah karena kematian tidak bisa menghalangi orang yang meninggal untuk ber-taqarrub kepada Allah sebagaimana dalam sedekah dan ibadah haji.” (Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu’un al-Islamiyyah-Kuwait, Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Bairut Dar as-Salasil, juz 5, h. 106-107).

(Sumber selengkapnya)

Join Dream.co.id