Tragis! Ditolak 18 Rumah Sakit, Pasien Covid-19 Tewas di Depan Pintu RS ke-19

Your Story | Jumat, 3 Juli 2020 13:30
Tragis! Ditolak 18 Rumah Sakit, Pasien Covid-19 Tewas di Depan Pintu RS ke-19

Reporter : Sugiono

Pasien meninggal pada Rabu dini hari di depan pintu rumah sakit. Kisah penjahit tua ini benar-benar tragis.

Dream - Seorang pria berusia 52 tahun yang dinyatakan positif Covid-19 meninggal pada Rabu dini hari di depan pintu Rumah Sakit Victoria, Bengaluru, India.

Pria yang bekerja sebagai penjahit itu meninggal setelah belasan rumah sakit menolak untuk menerimanya sebab tidak membawa surat yang menyatakannya positif Covid-19.

Menurut salah seorang keluarganya, warga Cholurpalya itu awalnya menderita demam, flu, dan batuk pada 26 Juni yang lalu.

Di hari yang sama, dia melakukan swab test dengan biaya sendiri di sebuah laboratorium klinik yang tak disebutkan lokasinya.

2 dari 6 halaman

Harus Ada Laporan Resmi

Dua hari kemudian, klinik menghubungi keluarga pria itu yang menyatakan dia positif Covid-19. Padahal aturan di India melarang klinik untuk memberi informasi langsung ke pasien.

Klinik seharusnya mengirim hasil swab test di situs resmi BBMP, sehingga kasusnya bisa langsung ditangani oleh pemerintah.

" Masalah kami berawal ketika menghubungi beberapa rumah sakit swasta agar menanganinya. Tetapi mereka menolak kami, dengan alasan harus disertai surat dari BBMP," kata keluarga penjahit itu.

3 dari 6 halaman

Mengisolasi Diri di Rumah

Karena tidak ada rumah sakit yang mau menerimanya, pria itu mengisolasi dirinya di salah satu kamar di lantai satu rumahnya.

Selama dua hari isolasi, tidak ada satu pun tenaga kesehatan yang datang untuk menjemput dan membawa pria tua itu ke rumah sakit.

Pada hari Selasa, sekitar pukul sepuluh malam waktu setempat, keluarga mendobrak pintu kamar pria itu karena tidak menjawab saat dihubungi melalui nomor ponselnya.

Mereka menemukan pria itu sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamarnya. Mereka memanggil ambulans yang butuh dua jam untuk mencapai rumah pria itu.

4 dari 6 halaman

Sudah di Pintu Gerbang, Ditolak Rumah Sakit

" Akhirnya ambulans datang dan kami membawanya ke RS Victoria. Tapi satpam dan tenaga kesehatan di sana tidak mau membuka pintu gerbang rumah sakit," kata keluarga pria itu.

Meski sudah diberitahu bahwa ambulans sedang membawa pasien Covid-19 yang kritis, pihak rumah sakit tetap menolak membukakan pintu gerbang.

" Mereka bilang baru bisa menerima kami jika ada laporan dari BBMP yang dikirim ke RS Victoria bahwa ada pasien Covid-19 butuh penanganan," katanya.

5 dari 6 halaman

Meninggal di Dalam Ambulans

Sementara keluarganya berdebat dengan pihak rumah sakit, penjahit itu terus berjuang untuk hidup di dalam ambulans.

" Kami terus memohon untuk membiarkan kami masuk, tetapi tidak berhasil. Sekitar pukul dua pagi, dia meninggal karena tidak bisa bernapas," kata menantu pria itu.

Keluarga tidak punya pilihan selain tinggal di rumah sakit dan jenazah pria itu berada di ambulans sampai pukul 12.30 malam pada hari Rabu.

" Selama negosiasi, kami sudah ke BBMP untuk mengambil surat laporannya, tapi semua sia-sia. Belakangan, wakil CM Ashwath Narayan memanggil staf BMRCI untuk menyiapkan kremasi jenazah. Padahal kami belum mendapatkan laporan Covid-19 dari BBMP secara resmi," kata menantu penjahit itu.

6 dari 6 halaman

Rumitnya Prosedur Penanganan Pasien Covid-19

Keluarga lainnya menyayangkan rumitnya prosedur bagi pasien positif Covid-19 mendapat perawatan di rumah sakit.

" Kami kehilangan dia hanya karena kebijakan yang mengatakan laporan hasil tes Covid-19 tidak boleh diberikan ke pasien atau keluarganya.

" Jika saja mereka (klinik) memberikan laporan di hari sama mereka memberitahu kami, dia mungkin masih bisa diselamatkan," ujarnya.

Menurutnya, pria itu tidak punya riwayat perjalanan yang bisa membuatnya tertular virus corona.

" Dia sehat. Dia keluar hanya untuk membeli sayur dan susu. Mungkin dia terinfeksi saat melakukan itu," tambahnya.

Sumber: Times of India

Join Dream.co.id