Suami Meninggal, Istri Menikah Lagi, Siapa Pasangan di Akhirat?

Your Story | Jumat, 21 Februari 2020 08:02
Suami Meninggal, Istri Menikah Lagi, Siapa Pasangan di Akhirat?

Reporter : Ahmad Baiquni

Konsep pernikahan dalam Islam berlaku hingga di akhirat.

Dream - Kematian tidak ada yang bisa memastikannya. Dia datang kapan pun, bahkan ketika seseorang sedang dalam kondisi tubuh yang sangat sehat.

Kematian juga jadi salah satu sebab cerai pasangan suami istri. Sudah banyak kasus istri harus hidup sendiri lantaran ditinggal meninggal suaminya.

Ketika sang suami sudah meninggal, berlaku masa iddah bagi para istri. Setelah itu, seorang wanita dibolehkan menerima pinangan dan menikah dengan pria lain.

Konsep pernikahan dalam Islam tidak hanya mengikat di dunia namun hingga ke akhirat. Ketika istri menikah lagi, lantas siapa pasangannya di akhirat kelak?

Dikutip dari NU Online, wanita yang menikah beberapa kali karena cerai maupun ditinggal mati maka tetap bertemu dengan suaminya kelak di akhirat. Tetapi mengenai siapa pasangannya nanti, terdapat empat pendapat mengenai hal ini.

 

2 dari 5 halaman

4 Pendapat Mengenai Pasangan di Akhirat

Pendapat pertama disampaikan Syeikh Abdul Wahab Asy Sya'rani dalam kitabnya Mukhtasar Tadzkiratul Qurthubi.

Ulama ini menyebut pasangan di akhirat dari seorang wanita yang menikah lebih dari satu kali adalah suami pertamanya.

Dasar pendapat ini adalah riwayat dari Abu Bakar As Shiddiq yang menasehati putrinya, Asma binti Abu Bakar dalam menghadapi sang suami, Zubair bin Awwam.

Zubair dikenal sebagai ahli ibadah namun ringan tangan kepada istrinya.

" Putriku, sabarlah. Zubair adalah laki-laki shaleh. Bisa jadi dia adalah suamimu kelak di surga. Sebuah hadis sampai kepadaku, 'Laki-laki yang mengambil keperawanan seorang perempuan kelak akan menjadi suaminya di surga',"  demikian kata Abu Bakar kepada Asma.

Pendapat kedua, si wanita dibolehkan memilih salah satu dari pria yang pernah kawin dengannya untuk menjadi pasangan di akhirat kelak. Ini adalah pandangan Imam Abu Bakar Ibnul Arabi.

Imam Ibnul Arabi mendasarkan pandangannya pada hadis Rasulullah Muhammad SAW yang artinya demikian, " Perempuan yang memiliki beberapa suami dipersilakan untuk memilih salah satu dari mereka untuk menjadi pasangannya (di akhirat)."

 

3 dari 5 halaman

Suami Yang Mana?

Pendapat ketiga menyebutkan wanita menikah beberapa kali kelak akan berpasangan dengan suami terakhirnya di akhirat. As Sya'rani menyebutkan dasar pandangan ini adalah riwayat dari Hudzaifah Ibnul Yaman.

" Hudzaifah Ibnul Yaman mengatakan kepada istrinya, 'Jika kau ingin aku menjadi suamimu di surga, jangan kau menikah sepeninggalku karena perempuan di surga adalah bagian dari suami terakhirnya di dunia'."

Juga terdapat hadis dari Rasulullah Muhammad SAW yang menjelaskan pandangan ini. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

Perempuan yang ditinggal mati suaminya, lalu menikah lagi sepeninggal suaminya, maka ia (di akhirat) adalah bagian dari suami terakhirnya di dunia.

Sedangkan pandangan keempat menyebut wanita menikah beberapa kali akan berpasangan dengan pria yang paling baik akhlaknya ketika di akhirat kelak.

Dasar pandangan ini adalah hadis riwayat Imam Thabrani dan Al Bazzar dari Ummu Habibah yang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW.

Ummu Habibah bertanya kepada Rasulullah, " Ya Rasul, seorang perempuan memiliki dua suami di dunia. Keduanya wafat dan berkumpul di akhirat. Siapakah yang akan menjadi suami perempuan itu?" Rasul menjawab, " Perempuan itu akan menjadi istri laki-laki yang paling baik akhlaknya terhadap perempuan itu saat di dunia." Rasul kemudian melanjutkan, " Wahai Ummu Habibah, laki-laki dengan akhlak yang baik pergi membawa kebaikan dunia dan akhirat."

Sumber: NU Online

4 dari 5 halaman

Doa Usai Santap Makanan yang Terjamin Kehalalannya

Dream - Bisa mengonsumsi makanan adalah kenikmatan yang begitu besar. Kita bisa merasakan betul bagaimana rahmat Allah yang diberikan tanpa syarat.

Makan juga merupakan salah satu kebutuhan utama setiap makhluk, terutama manusia. Kebutuhan ini menuntut dipenuhi sesegera mungkin karena dapat menimbulkan dampak buruk pada tubuh.

Memang, tidak selamanya kita makan di rumah sendiri. Ada kalanya, kita mengonsumsi makanan yang dibeli dari warung, kedai, restoran, apalagi saat bepergian ke suatu daerah.

Patokan utama bagi seorang Muslim dalam mengonsumsi makanan adalah kehalalan. Kita akan menemukan kesulitan mencari makanan halal saat bepergian ke daerah penduduknya non-Muslim.

Menemukan makanan halal di daerah pemukiman non-Muslim tentu jadi kebahagiaan tersendiri bagi seorang Muslim. Menyantapnya bisa mendatangkan kepuasan.

Ketika telah mengonsumsi makanan yang kehalalannya sudah terjamin, kita dianjurkan untuk membaca doa ini.

Tujuannya untuk bersyukur tidak hanya karena sudah makan namun juga mengonsumsi makanan yang kehalalannya sudah terjamin.

 

5 dari 5 halaman

Doa Makan Makanan Terjamin Halal

 Doa Makan Makanan Halal© Dream.co.id

Alhamdulillahil ladzi bi ni'matihi tatimmush shalihatu wa tanzilul barakatu. Allahumma ath'imnaa thoyyiban wasta'milnaa shalihan.

Artinya:

" Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna dan berkahan turun. Ya Allah, berilah kami makanan yang baik dan bantulah kami berbuat amal shaleh."

Sumber: Bincang Syariah

Join Dream.co.id