Demi Hidupi 12 Anak, Kakek Ini Jualan Roti Goreng

Your Story | Rabu, 6 November 2019 16:20
Demi Hidupi 12 Anak, Kakek Ini Jualan Roti Goreng

Reporter : Ahmad Baiquni

Satu roti dia jual dengan harga Rp350.

Dream - Usia senja mungkin identik dengan hidup tenang tanpa beban. Sayangnya, masih banyak para lansia yang terpaksa harus mencari nafkah hanya untuk menyambung hidup.

Seperti kisah kakek 73 tahun asal Kluang, Johor, Malaysia, yang biasa dipanggil Pak Mail berikut ini. Pada usia senja itu, dia harus berjualan roti goreng di tepi jalan.

Kisah Pak Mail diunggah di akun Youtube FS Channel. Setiap hari, Pak Mail berjualan roti goreng yang dikenal dengan nama lokal Jemput-jemput.

Lapak Pak Mail berada di Jalan Kampung Melayu. Dalam video itu, Pak Mail terlihat mengaduk adonan roti yang akan digoreng di wajan.

Dikutip dari World of Buzz, ada kisah haru di balik keseharian Pak Mail. Ternyata, dia tetap jualan roti goreng untuk menghidupi 12 anaknya, setelah sang istri meninggal 23 tahun lalu.

2 dari 7 halaman

Banyak Isiannya

Jemput-jemput adalah jajanan seperti donat mini tanpa lubang. Biasanya, roti goreng itu dibuat dengan buah pisang.

Tetapi, Jemput-jemput buatan Pak Mail berbeda. Dia telah membuat inovasi dengan tidak lagi menggunakan pisang.

Pada roti gorengnya, Pak Mail mengisinya dengan buah naga, nangka, nanas dan jagung. Tiap satu roti dijual dengan harga 10 sen ringgit, setara Rp350.

Dalam sehari, dia bisa menjual 2.000 Jemput-jemput. Tetapi saat Ramadan, dia selalu menggratiskan dagangannya.

 

3 dari 7 halaman

Bisa Cicip Gratis, Meski Tak Jadi Beli

Video Pak Mail pun disukai banyak netizen. Banyak dari mereka mengaku sangat terkesan dengan kebaikan Pak Mail lantaran pernah berinteraksi dengan kakek itu.

" Paman ini sangat ramah. Setiap kali saya datang ke gerobaknya saya akan beli Jemput-jemputnya 2 atau 3 ringgit (setara Rp6.700 atau Rp10 ribu). Anak sekolah yang mendatangi gerobaknya mendapat Jemput-jemput gratis," tulis seorang netizen.

" Bagi yang belum pernah mencicipi makanannya mereka bisa mencobanya secara gratis, meskipun akhirnya mereka tidak mau membelinya," kata netizen lainnya.

4 dari 7 halaman

Tak Ingin Anak Marah, Kisah Kakek Jalan Jauh ke Klinik Ini Bikin Terenyuh

Dream - Menjadi tua adalah kepastian. Tetapi, tentu tak ada orang yang ingin menjalani masa tua dengan penderitaan apalagi sampai ditelantarkan oleh anak-anaknya.

Seorang kakek usia 60 tahun asal Malaysia terpaksa berjalan kaki untuk periksa kesehatan. Padahal, rumahnya cukup jauh dari tempat praktik dokter langganannya.

Kisah pilu ini diunggah oleh pemilik akun Twitter @hausofhilton. Akun milik pria berprofesi dokter dan beridentitas Nimelesh ini menceritakan bagaimana situasi yang dialami kakek tersebut.

Pemilik akun sempat bertanya mengapa kakek itu datang terlambat dari jadwal periksa. Padahal, biasanya si kakek tidak pernah terlambat.

5 dari 7 halaman

Alasan Si Kakek Bikin Terenyuh

" Maaf dokter, tidak ada kendaraan. Jadi saya jalan sendiri hari ini. Tidak sempat menumpang orang," kata kakek itu seperti ditirukan Nimelesh.

" Jauhnya Bapak jalan!!! Mana anak Bapak? Mengapa tidak minta diantarkan anak?" tanya dokter itu.

Jawaban kakek itu membuat sang dokter kaget.

" Maaf, Pak Dokter. Saya tidak punya kendaraan, jadi saya harus jalan kaki. Saya tidak punya orang untuk mengantarkan saya," kata kakek itu.

 

6 dari 7 halaman

Hidup Sendirian Ditinggal Anak-anak

Mendengar jawaban tersebut, dokter pun terus menanyakan anak si kakek. Jawaban yang diberikan semakin membuat perasaan dokter itu hancur.

" Semua anak saya pindah ke Kuala Lumpur. Mereka mengunjungi saya saat liburan," kata kakek itu.

Si kakek juga mengaku kini hidup sendiri. Istrinya sudah meninggal dunia.

" Saya beruntung karena para tetangga selalu menengok saja sekarang dan nanti, jadi saya tidak merasa kesepian," kata dia.

7 dari 7 halaman

Tak Mau Bikin Marah Anak

" Mengapa bapak tidak tinggal saja dengan anak-anak?" kata dokter.

" Mereka tidak pernah mengajak saya untuk tinggal bersama. Saya sudah tua dan sedikit lambat. Jika saya membuat kesalahan, anak-anak saya akan marah. Saya tidak ingin itu terjadi," jawab kakek tersebut.

Kakek itu menangis saat bercerita soal anak-anaknya. Nimelesh juga mengatakan ini bukan kali pertama dia bertemu dengan pasien lansia yang diabaikan anak-anaknya.

Nimelesh mengatakan anak-anak dari para pasien lansia itu ada yang berprofesi dokter, pengacara, juga guru. Tetapi, terlepas dari profesi, tidak berarti mereka bisa mengabaikan orangtuanya.

(Sah, Sumber: World of Buzz)

Terkait
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik
Join Dream.co.id