Cerita Haru Istri Minta Maaf Berulang Kali Sebelum Suami Diintubasi

Your Story | Kamis, 28 Januari 2021 14:45
Cerita Haru Istri Minta Maaf Berulang Kali Sebelum Suami Diintubasi

Reporter : Sugiono

Ini momen penuh air mata antara seorang pasien dan istrinya di rumah sakit.

Dream - Ajal adalah rahasia Allah. Hanya Allah yang tahu kapan seorang manusia akan meninggal. Kita sebagai manusia hanya mampu berusaha, tetapi Allah yang menentukan.

Begitu juga dengan seorang dokter, yang hanya mampu berusaha untuk merawat pasien. Dokter hanya bisa berharap bisa memberikan kesembuhan sehingga pasien kembali sehat.

Seorang dokter di Malaysia merasa terharu saat membagikan kisahnya yang menyaksikan 'momen penuh air mata' antara seorang pasien dan istrinya di rumah sakit.

2 dari 5 halaman

Momen Menguras Air Mata Pasien dan Istrinya

" Baru saja aku terangkan kepada sang istri, jika pasien perlu diberi bantuan pernapasan karena keadaan semakin kritis.

" Sang istri mengangguk paham dan setuju. Tapi matanya sudah berkaca-kaca. Aku beri kesempatan padanya untuk bertemu si suami sebelum diintubasi," tulis Dr Ahmad Samhan Awang di Facebook.

Sambil memeluk tubuh suami yang tergeletak lemah di tempat tidur, wanita itu berulang kali mengatakan permintaan maaf kepadanya.

" 'Maafkan Ida bang, maafkan Ida bang. Halal makan minum Ida bang'. Tangan suaminya mengusap lembut kepala istri sambil berkata, 'Abang relakan Ida'," kata Dr Ahmad Samhan mengulang kembali perbincangan suami istri itu.

3 dari 5 halaman

Minta Persetujuan Pasien dan Keluarga

Menurut Dr Ahmad Samhan, sudah jadi kebiasaan tim dokter untuk memberi penjelasan dan mendapat persetujuan dari pasien dan keluarganya sebelum melakukan intubasi.

Dr. Ahmad Samhan mengatakan pasien akan diberi obat tidur dan dimasukkan selang yang disambungkan pada alat bantuan pernapasan (ventilator).

" Setelah diintubasi, mereka akan dipantau di ICU. Jika keadaan pasien semakin baik, maka selang tersebut akan dicabut," jelas dokter berusia 35 tahun itu.

4 dari 5 halaman

Dibimbing Baca Kalimat Syahadat

Tetapi jika keadaan semakin kritis, pasien biasanya tidak sadarkan diri dan kemungkinan meninggal tanpa sempat berkata-kata lagi.

Karena itu, sebelum memberi obat tidur, Dr Ahmad Samhan membimbing pasien tersebut untuk mengucapkan kalimat syahadat.

Dr Ahmad Samhan yang berada di kepala tempat tidur dapat melihat pergerakan dada pasien yang tersengal-sengal saat berusaha berbicara.

" Dada pasien turun naik. Mulutnya tersengal-sengal untuk mendapat lebih banyak oksigen memasuki paru-paru.

'Ikut saya mengucap Lailahaillah muhammadurrasullah'. 'Pak, kami akan masukkan obat tidur ya'. Dia mengangguk,"  kata Dr Ahmad Samhan.

5 dari 5 halaman

Banyak Berdoa Semoga Kematian Husnul Khatimah

Walau bagaimanapun, Dr Ahmad Samhan berkata, setiap manusia tidak akan tahu apa yang bakal dihadapi ketika ajal datang menjemput.

" Kita tidak tahu pasti apa yang bakal kita hadapi. Ada orang meninggal di jalan raya. Ada orang meninggal tenggelam. Ada orang meninggal saat di atas tempat tidur.

" Yang pasti kita semua akan mati. Yang paling kaya pun mati. Yang paling miskin pun mati. Yang sehat mati, yang sakit apalagi.

" Kita cuma perlu berdoa, semoga dipermudahkan saat-saat roh kita terpisah dari tubuh. Mengucap kalimat syahadah dengan baik dan diampunkan segala dosa sebelum diambilnya nyawa kita... dan berharap kita tidak menyusahkan siapa-siapa dan tidak meninggalkan beban pada mereka yang masih hidup," pungkas Dr Ahmad Samhan.

Sumber: mStar.com.my

Join Dream.co.id