Cara Rasulullah Melawan Hegemoni Ekonomi, Damai Tapi Efektif

Your Story | Senin, 2 September 2019 20:02
Cara Rasulullah Melawan Hegemoni Ekonomi, Damai Tapi Efektif

Reporter : Ahmad Baiquni

Rasulullah tidak pernah mengobarkan permusuhan, tapi mengajarkan cara berdagang penuh kejujuran kepada umat Islam.

Dream - Di masa-masa awal Rasulullah Muhammad SAW dan umat Islam berada di Madinah, gangguan masih kerap dialami. Salah satunya dari komunitas Yahudi lewat ekonomi.

Komunitas Yahudi sempat menguasai perekonomian Madinah. Mereka menjalankan praktik ekonomi yang tidak manusiawi. Salah satunya menjebak orang dengan utang berbunga sangat tinggi.

Selain itu, komunitas Yahudi Madinah juga suka memantik perselisihan antara Suku Aus dan Suku Khazraj. Sehingga, kondisi perekonomian Madinah kala itu benar-benar merugikan penduduk terutama umat Islam.

Begitu tiba di Madinah, Rasulullah kemudian mendirikan pasar dan mengajari umat Islam mengenai tata krama dalam perdagangan, mendorong para sahabat untuk berbisnis, serta mencari rezeki dengan jalan halal.

Kabar pendirian pasar oleh Rasulullah membuat komunitas Yahudi Madinah kala itu gusar. Apalagi, umat Islam kala itu bisa menumbangkan hegemoni ekonomi komunitas Yahudi yang menyengsarakan

 

2 dari 6 halaman

Komunitas Yahudi Madinah Terpuruk

Alhasil, komunitas Yahudi kala itu menjadi terpuruk. Mereka juga tidak bisa lagi meneror masyarakat Madinah dengan bunga pinjaman yang tinggi dan praktik perdagangan yang memeras.

Komunitas Yahudi tidak terima dan menuding Rasulullah serta umat Islam menghancurkan bisnis mereka.

Tudingan itu memicu perang komunitas Yahudi melawan umat Islam, baik perang dagang maupun pertempuran fisik. Sayangnya, komunitas Yahudi tidak pernah sekalipun menikmati kemenangan.

 

3 dari 6 halaman

Pasokan Gandum ke Mekah Dicegat

Di lain waktu, umat Islam mendapat perlakuan jahat dari kaum Musyrik Mekah. Tetapi, hal itu tidak dibalas Rasulullah dengan kekerasan namun tindakan dapat disertai strategi jitu.

Suatu waktu, pemimpin Bani Hanifah, Tsumamah bin Utsal, mendapat caci maki dari kaum musyrik Mekah lantaran memutuskan memeluk Islam. Merasa tidak terima, Tsumamah yang hendak umroh mencegat pengiriman gandum Yamamah menuju Mekah.

Kondisi ini menyebabkan masyarakat Mekah mengalami kelaparan berat lantaran pasokan makanan habis. Mereka terpaksa makan ilhis (makanan yang terbuat dari campuran darah dan bulu unta) sekadar untuk bertahan hidup.

 

4 dari 6 halaman

Kaum Quraisy Mekah Kelaparan Hebat

Kondisi ini berlangsung hingga beberapa hari. Lama-lama, kaum Quraisy Mekah tidak betas dan mengirim surat kepada Rasulullah.

" Kau menyerukan silaturahmi, tapi kau sendiri yang memutus silaturahmi dengan kami. Kau telah membunuh ayah-ayah kami dengan pedang dan anak-anak kami dengan kelaparan," demikian isi surat tersebut.

Setelah mendapat surat itu, Rasulullah segera mengirim surat kepada Tsumamah, memerintahkan dia untuk tidak menahan pasokan makanan kepada kaum Quraisy Mekah. Tsumamah patuh dengan perintah itu dan membolehkan rombongan pemasok gandum ke Mekah lewat.

Beberapa saat kemudian, turunlah wahyu dari Allah SWT kepada Rasulullah berupa Surat Al Mukminun ayat 76.

Dan sungguh Kami telah menimpakan siksaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mau tunduk kepada Tuhannya dan (juga) tidak merendahkan diri.

(ism, Sumber: NU Online)

5 dari 6 halaman

Kisah Rasulullah dan Kaumnya Alami Boikot Ekonomi

Dream - Dakwah Rasulullah Muhammad SAW dalam menyampaikan Islam kepada dunia tidaklah berjalan dengan mudah. Ada saja rintangan yang dihadapi Rasulullah, tidak hanya pribadi namun hingga keluarga besarnya.

Masyarakat Mekah kala itu sangat membenci Rasulullah. Mereka melakukan berbagai cara demi menghentikan Rasulullah menyebarkan ajaran Islam yang bertentangan dengan keyakinan leluhurnya.

Salah satu cara yang dilakukan yaitu dengan memboikot Rasulullah secara ekonomi. Pemboikotan ini juga diberlakukan kepada Bani Hasyim dan Bani Muthalib, klan Rasulullah.

Para petinggi suku-suku musyrik di Mekah kala itu membuat pengumuman pemboikotan agar dipatuhi semua orang. Pengumuman itu digantung pada dinding Kabah, seperti tertuang dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Alquran dan Hadis-hadis Shahih karya Quraish Shihab.

" Tidak ada bantu membantu, tidak ada jual beli, tidak juga kawin-mawin, tidak ada damai sampai pendukung-pendukung Muhammad bersedia menyerahkannya secara sukarela untuk dicegah berdakwah atau untuk dibunuh," demikian bunyi pengumuman itu, seperti tertera dalam beberapa riwayat.

Satu riwayat menyebutkan pengumuman itu ditulis oleh Manshur bin Ikrimah. Tetapi, riwayat lain menyebutkan penulisnya adalah Baghid bin Amir.

6 dari 6 halaman

Keluarga Rasulullah Melawan

Lewat pengumuman itu, siapapun dilarang memberikan makan kepada Rasulullah dan keluarga besarnya. Termasuk juga mengadakan transaksi jual beli dengan mereka.

Namun demikian, ada saja yang tidak tega dan secara diam-diam memberikan makanan kepada Rasulullah dan keluarga besarnya. Meski pada akhirnya makanan itu tetap saja diberikan kepada anak-anak yang kelaparan.

Pemboikotan itu memang menimbulkan kesengsaraan pada Rasulullah dan keluarga besarnya. Tidak hanya di Mekah, boikot juga terjadi saat Rasulullah tinggal di Madinah.

Tetapi, harapan kaum Quraisy untuk memberi " pelajaran" kepada Rasulullah dan keluarganya ternyata meleset. Seluruh anggota Bani Hasyim dan Bani Muthalib, kecuali Abu Jahal, justru bersatu melawan pemboikotan dan berhasil.

 

Join Dream.co.id