Kisah Pilu Solehuddin dan Dua Anaknya, Setahun Tinggal di Pos Kamling Dekat Kantor Bupati Tak Tersentuh Bansos

Your Story | Rabu, 6 Oktober 2021 11:45

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Bahkan terkadang mereka hidup berpindah-pindah, menjajaki emperan rumah warga.

Dream - Kisah pilu datang dari Solehuddin, seorang ayah asal Jember, Jawa Timur. Pria 32 tahun itu setahun belakangan harus tinggal di pos kamling bersama dua anaknya, Zahra Fitriani, 9 tahun, dan Salsabilla Putri, 8 tahun.

Pos kamling yang mereka tinggali pun amat tak layak huni. Lokasinya di Kecamatan Patrang, tak jauh dari kantor Pemkab Jember, Jawa Timur. Bahkan mereka terkadang hidup berpindah-pindah, menjajaki emperan rumah warga.

“ Sebelumnya, kadang tinggal di emperan rumah warga. Dulu pernah kita numpang di rumah kosong, kita bantu bersih-bersih. Tetapi setelah pemiliknya datang, kita tahu diri sehingga pergi,” ujar Solehuddin, dikutip dari Merdeka.com, Rabu 5 Oktober 2021.

Kisah Pilu Solehuddin dan Dua Anaknya, Setahun Tinggal di Pos Kamling Dekat Kantor Bupati Tak Tersentuh Bansos
Solehuddin (Foto: Merdeka.com)
2 dari 6 halaman

Masih Memiliki Keluarga

Menurut informasi, Solehuddin sebenarnya masih memiliki keluarga yang memiliki rumah di daerah Jember. Namun sejak istrinya meninggal setahun lalu, Solehuddin merasa segan tinggal di sana.

“ Ada saudara ipar yang mendiami rumah mertua. Kalau mertua sudah meninggal juga,” ujar Solehuddin.

Lantaran tempat tinggalnya terus berpindah, sekolah kedua anaknya pun ikut terganggu. Sejak setahun terakhir, Zahra dan Salsabilla tidak bersekolah. Sebelumnya, mereka sekolah di salah satu SD tempat mereka menumpang tinggal.

“ Ada kendala ekonomi, jadi tidak bisa bersekolah. Mereka sering ikut saya kerja,” paparnya.

3 dari 6 halaman

Tidak Masuk Program Bansos Pemerintah

Solehuddin bekerja serabutan. Terkadang membantu bekerja di bengkel. Di musim kemarau, Solehuddin menjual layangan untuk anak-anak.

Keluarga ini juga tidak pernah menikmati bantuan sosial dari pemerintah. Sebab, nama mereka tidak masuk dalam daftar resmi pemerintah.

Untuk keperluan mandi dan buang air, keluarga kecil ini biasanya menuju ke sungai terdekat.

“ Kalau makan, kadang ada warga yang kasih sumbangan. Kadang juga beli di warung,” tutur Solehuddin.

4 dari 6 halaman

Dinsos Cari Alternatif

Kisah hidup Solehuddin kemudian viral di media sosial. Selang beberapa jam, Pemkab Jember pada Selasa, 5 Oktober 2021, langsung mendatangi pos kamling tersebut.

“ Setelah kami cek, memang benar ada warga yang tinggal di pos kamling. Ini memang tidak layak untuk dihuni, tidak sehat. Kita langsung cari solusi hari ini juga,” ujar M. Haidori, Camat Patrang yang datang bersama jajaran Polsek dan Koramil.

Dinas Sosial Pemkab Jember juga langsung memberikan bantuan.

“ Lewat musyawarah, tadi kita sempat ajak untuk pindah di sebuah rumah milik Gus Syaif karena lebih layak,” ujar Plt Kepala Dinsos Jember, Widi Prasetyo.

5 dari 6 halaman

Tinggal di Rumah Warga

Gus Syaif atau KH Saiful Ridjal Chalim Shiddiq merupakan pengasuh Pondok Pesantren Islam (PPI) Asshiddiq Putri (Ashri). Kebetulan, kiai yang juga aktivis sosial ini memiliki rumah kosong tidak jauh dari pos kamling tersebut.

“ Tapi dua anaknya ternyata tidak mau tinggal di sana. Karena tidak punya teman main, sepi,” papar Widi.

Akhirnya diputuskan, Solehuddin dan kedua putrinya ditampung di rumah warga yang memiliki kamar kosong. Rumah tersebut tidak jauh dari lokasi pos kamling di Kelurahan Baratan.

“ Yang terutama, kita memastikan bahwa dua anak ini bisa kembali melanjutkan sekolah. Ini penting sekali,” tegas Widi.

 

6 dari 6 halaman

Akhirnya Menerima Bantuan Dinsos Jember

 Dinsos Jember beri bantuan© Dream

Dinsos Jember memberikan bantuan berupa jaminan pangan selama 20 hingga 30 hari ke depan untuk keluarga ini. Dinsos juga akan mengupayakan mereka mendapatkan rumah melalui program bantuan rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Widi mengakui, keluarga Solehuddin tidak pernah tersentuh program bantuan sosial apapun dari pemerintah. Seperti PKH ataupun BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai).

“ Karena memang mereka tidak masuk di dalam data pokok sosial. Sehingga sampai kapanpun, tidak akan bisa terima bantuan. Jadi tadi kita upayakan untuk masuk data. Juga kita berikan jaminan kesehatan,” pungkas Widi.

Sumber: merdeka.com

Join Dream.co.id