Berhubungan Intim Malam Ramadan, Mandi Junub Dulu atau Langsung Santap Sahur?

Your Story | Rabu, 14 April 2021 03:46
Berhubungan Intim Malam Ramadan, Mandi Junub Dulu atau Langsung Santap Sahur?

Reporter : Cynthia Amanda Male

Terdapat contoh kasus, seseorang bangun untuk makan sahur. Sementara dia dalam keadaan junub. Apakah dia harus mandi janabah dulu atau langsung makan sahur?

Dream - Salah satu larangan berpuasa adalah dalam kondisi junub dengan segala sebab. Baik karena berhubungan suami istri maupun karena mimpi basah.

Kondisi junub menyebabkan seseorang terhalang untuk ibadah. Dia diwajibkan mandi janabah dulu untuk menyucikan diri sebelum sholat maupun puasa.

Terdapat contoh kasus, seseorang bangun untuk makan sahur. Sementara dia dalam keadaan junub. Apakah dia harus mandi janabah dulu atau langsung makan sahur?

Dikutip dari NU Online, sebenarnya orang junub tidak dilarang makan sahur. Tidak ada keharusan mana yang didahulukan antara mandi janabah atau makan sahur.

2 dari 7 halaman

Bagi orang junub, mereka terlarang melakukan beberapa hal. Seperti dijelaskan oleh Syeikh Al Qadli Abu Syuja' dalam kitab Matn Al Taqrib.

" Haram bagi orang junub lima hal, sholat, membaca Alquran, memegang dan membawa mushad, thowaf, serta berdiam diri di masjid."

Dalam penjelasan di atas tidak terdapat larangan bagi orang junub untuk makan sahur. Tetapi, dianjurkan untuk mendahulukan mandi janabah, meninggat sahur adalah sunah dalam puasa.

Aktivitas sahur adalah termasuk ibadah. Maka anjuran mandi janabah lebih dulu dimaksudkan untuk menghormati aktivitas sahur.

3 dari 7 halaman

Apabila waktu yang tersedia cukup pendek sehingga tidak memungkinkan untuk mandi janabah lebih dulu, maka dianjurkan untuk membersihkan kemaluan lalu berwudhu. Setelah itu dibolehkan makan sahur.

Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami dalam kitabnya Minhaj Al Qawim Hamisy Hasyiyah Al Turmusi memberikan penjelasan sebagai berikut.

" Dimakruhkan bagi junub, makan, minum, tidur dan bersetubuh sebelum membasuh kemaluan dan berwudhu. Karena ada hadis shahih yang memerintahkan hal demikian dalam permasalahan bersetubuh, dan karena mengikuti sunah Nabi dalam persoalan lainnya, kecuali masalah minum, maka dianalogikan dengan makan."

Selengkapnya...

4 dari 7 halaman

Ini Hukum Berhubungan Suami Istri Saat Sahur

Dream - Saat bulan Ramadan, tentu kita disibukkan dengan ibadah dan berlomba-lomba melakukan kegiatan positif untuk meraih pahala.

Tetapi, jangan sampai melupakan untuk memenuhi kebutuhan biologis dari pasangan hidup, yang juga memilki nilai ibadah.

Ketika bulan Ramadan, ada waktu yang diharamkan untuk melakukan hubungan badan, yakni pada siang hari.

Melakukan hubungan badan dengan suami atau istri saat siang hari di bulan Ramadan mendatangkan dosa dan membatalkan puasa. Sehingga waktu yang tepat untuk melakukan hubungan suami istri adalah saat sahur.

Dilansir dari Ummi Online, ada kajian mengenai hukum berhubungan suami istri saat sahur.

“  Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (Qs. al-Baqarah: 187).

5 dari 7 halaman

Jangan Sampai Lewat Fajar

 Ilustrasi Hubungan Intim
© shutterstock

Ayat ini menunjukkan bolehnya berhubungan suami istri di malam bulan Ramadan, baik di awal, tengah atau di akhirnya, walaupun telah makan sahur, selama belum muncul fajar subuh yang menjadi awal waktu puasa.

Bila telah masuk waktu fajar, tentu saja pasutri wajib menghentikannya dan segera mandi junub.

Namun sebaiknya berhati-hati, sebab kalau sampai melewati waktu fajar belum mandi junub bisa membatalkan puasa. Bahkan kafarat yang harus dibayarkan sungguh sangat berat.

6 dari 7 halaman

Apa Karafatnya?

 Mual dan Pusing Setelah Berhubungan Intim, Ternyata Ini Sebabnya
© MEN

Bila tidak mendapatkan budak untuk dibebaskan, maka beralih kepada puasa dua bulan berturut-turut.

Bila itu pun tidak mampu, maka wajib memberi makan 60 orang miskin, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Abu Hurairah yang artinya, “  Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘slaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seseorang sambil berkata, ‘Celaka, wahai Rasulullah!’

Beliau menjawab, ‘Ada apa denganmu?’

Ia berkata, "  Aku berhubungan dengan istriku dalam keadaan aku berpuasa."

Dalam riwayat lain berbunyi, "  Aku berhubungan dengan istriku di bulan Ramadhan."

Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, "  Apakah kamu bisa mendapatkan budak untuk dimerdekakan?"

Ia menjawab, ‘Tidak.’

Lalu beliau berkata lagi, ‘Mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?’

Ia menjawab, ‘Tidak.’

Lalu beliau menyatakan lagi, ‘Mampukah kamu memberi makan enam puluh orang miskin?’

Ia menjawab, ‘Tidak’

7 dari 7 halaman

Rasul Tertawa

Lalu Rasulullah diam sebentar. Ketika kami dalam keadaan demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi satu ‘Irq berisi kurma – Al-Irq adalah alat takaran –. Beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tadi?’

Ia menjawab, ‘Saya.’

Beliau menyatakan lagi, ‘Ambillah ini dan bersedakahlah dengannya!’

Kemudian orang tersebut berkata, ‘Apakah ada yang lebih fakir dariku wahai Rasulullah? Demi Allah tidak ada di dua ujung kota Madinah satu keluarga yang lebih fakir dari keluargaku.’

Mendengar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi taringnya, kemudian berkata, ‘Berilah makan keluargamu!’” (HR. Muttafaqun ‘alaihi).

(Sumber: ummi online)

Join Dream.co.id