Cara Rumah Ori Bangkit dari Pandemi

Your Story | Jumat, 20 November 2020 06:02

Reporter : Ulyaeni Maulida

“Bagaimana pun kita harus cari inovasi-inovasi agar tetap bertahan di masa-masa sulit seperti ini.” – Mas Ori, 2020.

Dream – Pandemi Covid-19 menyerang hampir seluruh sektor kehidupan. Mulai dari ekonomi, sosial, hingga pariwisata.

Tak jauh berbeda dengan dampak yang dirasakan para pengusaha kuliner. Salah satunya, pengusaha muda pemilik Rumah Ori, Muhammad Imam Bukhori.

Pria lulusan Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini, berhasil membangun bisnisnya sejak kuliah.

Hobinya di bidang kuliner membuat ia begitu tekun dan pantang menyerah. Kisah perjuangannya pun tak mudah.

Banyak hal yang harus dikorbankan untuk mencapai kesuksesannya. Ia pun menjadi salah satu pemuda inspiratif di Yogyakarta.

Dan kini, memasuki usia bisnisnya yang ke-8 tahun, pria yang akrab disapa Mas Ori ini harus kembali menghadapi perjuangan sulit. 

Cara Rumah Ori Bangkit dari Pandemi
Muhammad Imam Bukhori, Pemilik Rumah Ori (Foto: Instagram/bukh.oriazen)
2 dari 9 halaman

Awal Berdiri Rumah Ori

 Rumah Ori© Foto: Instagram/rumahori

 

Rumah Ori berdiri dari tahun 2012. Konsep awalnya berupa service door to door. Yaitu menawarkan langsung makanan kepada dosen dan teman-teman mahasiswa.

Baru kemudian, pada 2016 Mas Ori mulai membuka outlet pertamanya dengan memberikan tambahan melalui pemesanan via ojek online.  

Pada tahun yang sama, service door to door dihentikan sementara, fokus pada service melalui ojek online. Terlebih di tahun itu, penggunaan jasa ojek online semakin menggeliat.

Rumah Ori merupakan rumah makan yang menyediakan makanan nusantara. Tak ayal, pilihan menu di Rumah Ori pun beragam.

“ Kita kombinasi. Mas Ori sendiri asalnya dari Sumatera, keluarga juga Jawa Timur. Nah, Jadi kita kombinasi masakan Jawa Timur dan Sumatera yang pedas. Tapi memang spesialnya masakan pedas,” ungkapnya.

3 dari 9 halaman

Terpukul Pandemi

Meskipun sudah berjalan selama 8 tahun, Rumah Ori tetap kena pukulan telak akibat pandemi Covid-19. Dari empat cabang yang sudah berjalan, dua outlet harus ditutup. 

Kini hanya terdapat Rumah Ori 1 di Jalan Wates, Gamping dan Rumah Ori 2 di Jalan Tirta Martan Mlati. Keduanya berada di Sleman, DIY.

Ia terpaksa mengambil keputusan berat karena sirkulasi keuangan yang kian tersendat. Pelanggan semakin berkurang,  daya beli konsumen terus menurun.

Terlebih, Rumah Ori yang biasanya banyak didatangi mahasiswa, semakin sepi karena banyak kampus yang mulai memberlakukan pembelajaran jarak jauh. 

Ia pun berusaha sekuat mungkin untuk tetap mempertahankan 2 outlet yang hingga kini tetap berjalan. Meskipun semakin mendekati akhir tahun, belum banyak perubahan yang terjadi.

4 dari 9 halaman

Inovasi dan Zero Order

 Rumah Ori© Foto: Instagram/rumahori

Mas Ori pun mencoba membuat berbagai inovasi-inovasi terbaru agar bisa bertahan di tengah pandemi covid-19.

Awalnya menawarkan frozen food. Karena melihat peluang di tengah imbauan pemerintah untuk tetap berada di rumah. Sehingga para pelanggannya dapat memesan secara online tanpa harus datang ke outlet.

Selain itu, Mas Ori juga sempat membuat sambal dalam kemasan botol. Agar bisa dikonsumsi lebih lama.

Namun, nyatanya kedua inovasi itu tidak berjalan lancar. Bahkan ia sempat merasakan zero order atau tidak ada pemesanan sama sekali.

Mas Ori pun kembali memutar otak. Mencari solusi terbaik di tengah keterpurukan. Hingga pada awal September 2020, ia kembali membuka katering service door to door yang sempat ditutup beberapa waktu lalu.

Secara perlahan, Mas Ori menemukan cahaya terang yang kembali menghidupkan harapannya. Katering service door to door nyatanya membuahkan hasil. Meskipun masih terbilang jauh dari target yang direncanakan.

" 8 Minggu lalu kita mulai dengan 2 customers. Saat ini sudah memenuhi 15 persen dari kuota yang kita targetkan. Meski ini masih jauh dari target, namun ini langkah konkret dan sebagai solusi sampai pandemi  berakhir,” ungkap Mas Ori.

 

5 dari 9 halaman

PHK Besar-besaran

 Rumah Ori© Foto: Instagram/rumahori

 

Mas Ori juga belum melakukan promosi besar seperti melalui foodgram, endorse, dan lainya. Karena hingga kini timnya masih terus mencari model bisnis dan sistem terbaik dari katering service door to door. Sementara ini, ia hanya melakukan promosi melalui sosial media milik Rumah Ori.

Namun, hal yang sangat disyukuri, ia mampu menemukan solusi yang menjanjikan sebelum tahun 2020 berakhir. Dia memprediksi, efek dari pandemi covid-19 akan terus hingga awal tahun 2021. Dan katering service door to door ini menjadi awal yang baik bagi Rumah Ori ke depannya. 

Mas Ori juga terpaksa memutuskan hubungan kerja dengan para pegawainya yang berjumlah 30 orang. Dan kini ia hanya bergerak dengan 9 orang pegawai yang seluruhnya berasal dari internal atau keluarga.

“ Kan kita 30 pegawai eksternal udah ngga ada. Jadi sekarang ini 2 outlet kita running dengan 9 orang. Tapi dari 9 orang ini dari internal semua. Seperti ibu, bapak, adik-adik, nenek, dan om. Karena bener-bener kita ngga bisa gerak. Karena semuanya berdasarkan orderan. Kalau ngga ada orderan sama sekali, ya wassalam,” ungkapnya saat ditemui Dream, Selasa, 17 November 2020. 

6 dari 9 halaman

Banyak Kolaborasi

 Rumah Ori© Foto: Instagram/rumahori

Selama masa pandemi Covid-19, Rumah Ori bersama komunitas Food & Beverage (F&B) pun banyak melakukan kolaborasi bersama.

Seperti Salad Nyoo, Tempo Gelato, Panties Pizza, Salad Moi, Blended Beverages, Kue Balok Parikesit Jogja dan Chacha milktea. Banyak kegiatan yang mereka lakukan untuk saling mendukung.

Seperti membuat voucher bersama dan saling mempromosikan satu sama lain. Namun, upaya-upaya itu tidak begitu berjalan maksimal, karena konsumen Yogyakarta yang juga berkurang akibat banyak mahasiswa yang masih berada di daerah asal.  

“ Karena kita tahu banyak kampus yang meliburkan mahasiswa. Kebanyakan segmen kami itu mahasiswa, jadi ngga berjalan begitu maksimal,” jelasnya.  

Namun hal baiknya, sejak adanya kolaborasi bersama itu, mereka yang bergabung merasa lebih kuat. Karena mereka tak merasa sendiri ditengah keterpurukan akibat pandemi ini.

“ Setelah kolaborasi itu, mereka udah ada yang mulai bisa jalan sendiri-sendiri. Ada yang mulai nambah outlet, ada yang mulai buka lagi outlet yang dulunya tutup, dan kayak Rumah Ori menemukan solusi yaitu katering service door to door,” pungkasnya.

Para penggiat di bidang F&B pun semakin kesini semakin menemukan model bisnisnya masing-masing. Terutama dengan kembali dibukanya sektor pariwisata khususnya di Yogyakarta. Selain itu, mahasiswa sedikit demi sedikit mulai kembali ke Yogyakarta.

“ Katering Rumah Ori juga udah mulai banyak yang nanyain dari mahasiswa. Posisinya dimana, saya mahasiswa baru, tapi udah penasaran sama katering Rumah Ori, yah kayak gitu sih,” lanjutnya.

 

7 dari 9 halaman

Ada Cahaya di Balik Penurunan Omzet

Untuk omzetnya sendiri, pemilik Rumah Ori ini mengakui sempat merasakan penurunan hingga 90 persen. Sangat jauh dari omzet yang diharapkan pada saat sebelum terjadinya pandemi.

Namun, berkat adanya katering service door to door, ia mengaku mulai mengalami peningkatan walaupun masih perlahan.

“ Dengan adanya katering kita sudah mulai menggeliat diangka 25 persen. Yah naik sekitar 15 persen. Meskipun masih jauh dari target. Tapi setidaknya kita melihat cahaya, seperti harapan,” tuturnya bersemangat.

8 dari 9 halaman

Cabang di Luar Yogyakarta

 Rumah Ori© Foto: Instagram/rumahori

 

Saat ditanya tentang rencana untuk membuka cabang di luar Yogyakara, Mas Ori pun menceritakan niatannya untuk memperlebar usaha Rumah Ori. Bahkan ia juga sudah melalukan survei terkait rencananya itu.

“ Insya Allah ada. Sebenarnya itu juga on-list di tahun 2020. Karena waktu itu kita juga sudah survei ke Solo. Kayaknya mobilisasi Jogja-Solo masih dekat. Jadi kita bisa ekspansi kesana. Tapi yah malah kayak gini. Dan untuk sekarang kita benar-benar fokus mengurus cabang di Jogja dulu,” tambahnya.

Dia memiliki rencana untuk menggeluti bisnis lain di luar F&B. Seperti fashion dan properti. Namun, lagi-lagi rencananya harus tertunda akibat covid-19.

“ Tiba-tiba aja semua rencana gagal. Bahkan kita start-nya harus mulai lagi dari nol. Rencananya juga pengen bisnis di bidang lain. Jogja banyak tuh kos-kosan. Selain itu juga ada rencana buat buka penginapan yang lucu-lucu selama ada lahan. Itu semua kayaknya menjanjikan ya. Yah tapi semua harus ditunda dulu karena pandemi ini,” ungkapnya.

 

9 dari 9 halaman

Pesan Buat Anak Muda

 Rumah Ori© Foto: Instagram/rumahori

Menjelang akhir, Mas Ori pun memberikan pesan untuk tetap bersemangat dan pantang menyerah di saat terpuruk seperti ini.

“ Aku pesan buat teman-teman baik yang bergelut di bidang F&B atau bidang lainnya. Dalam masa pandemi ini kita sebenarnya lagi diuji. Ini ujian untuk semuanya. Ini seperti sebuah sekolah. Kita mempelajari banyak hal. Mulai dari manajemen stop atau manajemen exit. Jadi sekarang itu, kita jangan patah semangat. Covid-19 bakalan berakhir. Kita semangat, kita kumpulin amunisi buat berjuang kembali di tahun 2021,” pesannya.

Selain itu, Mas Ori juga memberikan pesan bagi mereka yang berniat untuk membuka usaha baru.

“ Buat teman-teman yang mau memulai usaha, bisa dipikirin lagi gimana konsepnya, gimana cara menghadapi sesuatu hal besar yang tidak bisa diprediksi sebelumnya. Biar disiapin konsepnya matang-matang,” ungkapnya sekaligus mengakhiri obrolan. 

 

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

 

Join Dream.co.id