Luruskan Niat, Hati-Hati 4 Penyakit Hati Ini Saat Berhaji

Your Story | Jumat, 12 Juli 2019 20:02
Luruskan Niat, Hati-Hati 4 Penyakit Hati Ini Saat Berhaji

Reporter : Ahmad Baiquni

Haji memang ibadah wajib bagi yang mampu.

Dream - Bisa melaksanakan haji bagi sebagian besar orang adalah keistimewaan. Pandangan ini wajar mengingat besarnya kebutuhan untuk bisa berangkat ke Tanah Suci, terutama soal finansial.

Namun demikian, orang yang berhaji perlu untuk mawas diri. Sebab, ada sejumlah penyakit hati yang muncul karena haji.

" Niat utama haji adalah mencari ridho Allah dengan mengenyampingkan niat lain. Jangan sampai terbersit dalam hati niat berhaji seperti ingin dipanggil haji, refreshing, atau berbelanja," ujar Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung, Taufiqurrohim, dikutip dari NU Online.

Dia mengingatkan para calon jemaah haji yang akan berangkat untuk meluruskan niat. Sebisa mungkin menghindar dari penyakit hati.

2 dari 6 halaman

Takabbur dan Egois

Ulama Pringsewu ini menjelaskan penyakit hati kerap muncul ketika berhaji yaitu takabbur atau sombong. Penyakit ini muncul akibat sifat diri yang merasa lebih dibandingkan orang lain.

Penyakit selanjutnya adalah egois. Mengutamakan diri sendiri dan tidak mau memikirkan orang lain. Contohnya, tidak mau antre saat melaksanakan haji.

" Para jemaah haji ini berasal dari berbagai latar belakang bangsa, suku, budaya. Sehingga biasa memunculkan ke'aku'annya. Penyakit ini harus dihindari," ucap Kiai Taufiq.

 

3 dari 6 halaman

Riya Amal Ibadah dan Dengki

Masih ada lagi penyakit hati lainnya yaitu pamer kelebihan diri atau riya. Sikap ini muncul dalam bentuk memamerkan amal ibadah selama di Tanah Suci.

" Memamerkan sedekah, sholat, dan bacaan Quran harus dihindari saat berhaji. Apalagi di era milenial saat ini mudah sekali bagi setiap orang untuk pamer melalui media sosial," kata dia.

Ketika melaksanakan haji, masih ada penyakit hati lain yang turut membayangi jemaah yaitu iri dan dengki. Orang berhaji yang memiliki sifat ini biasanya selalu tidak ingin disaingi orang lain.

Lebih lanjut, Kiai Taufiq mengajak umat Islam selalu optimistis bisa berangkat haji diiringi dengan ikhtiar dan doa. Ini agar keinginan menunaikan haji bisa terwujud.

Sumber: NU Online

4 dari 6 halaman

Kloter Awal Jemaah Haji Indonesia Tiba di Tanah Suci, 3 Wafat

Dream - Sebanyak 94.550 jemaah calon haji Indonesia tergabung dalam gelombang I pemberangkatan ke Tanah Suci. Mereka berasal dari 229 kloter.

" Kedatangan kloter awal, jumlah kloter yang tiba masih sedikit, setelah itu setiap hari kedatangan jemaah ke Madinah rata-rata per hari mencapai 14-18 kloter," ujar Kepala Daerah Kerja Madinah, Akhmad Jauhari, dikutip dari kemenag.go.id, Jumat 12 Juli 2019.

Puncak kedatangan jemaah haji gelombang pertama akan terjadi antara 14 hingga 16 Juli 2019. " Kedatangan jemaah haji gelombang I akan mencapai masa puncak pada hari ke-8, 9 dan 10," ucap dia.

Berdasarkan data Sistem Informasi Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), per 11 Juli 2019, sudah ada 32.138 jemaah haji Indonesia tiba. Jemaah yang berasal dari 79 kloter itu ditempatkan di Madinah.

Sebanyak 79 kloter itu berasal dari beberapa embarkasi, yakni Lombok (LOP), 4 kloter; Padang (PDG), 5 kloter; Ujung Pandang (UPG), 6 kloter; Banjarmasin (BDJ), 2 kloter; Batam (BTH), 7 kloter; Jakarta-Bekasi (JKS), 15 kloter; Jakarta-Pondok Gede (JKG), 5 kloter; Solo (SOC), 16 kloter; Surabaya (SUB), 14 kloter; dan Palembang (PLM), 5 kloter.

Selain itu, Siskohat juga mencatat ada tiga jemaah haji yang meninggal dunia yakni Khairil Abbas Salim dari Batam, Mudjahid Damanhuri Mangun dari Solo, dan Sumiyati Suwikromo Sutardjan dari Solo.

5 dari 6 halaman

Ini Fitur Canggih untuk Jemaah Haji Saat di Saudi

Dream - Sekitar 25 ribu jemaah haji di Mina akan menggunakan kartu canggih berteknologi tinggi. Program percobaan ini telah diluncurkan Kementerian Haji dan Umroh, Arab Saudi.

Kartu canggih itu akan mengirim informasi personal jemaah haji, berupa status kesehatan, detail perjalanan haji, dan tempat tinggalnya.

Dilaporkan Arab News, kartu itu juga akan dilengkapi pemindai lokasi. Fungsinya, untuk memantau perjalanan ibadah jemaah haji, yang dikontrol dari ruangan di Mina.

" Ini merupakan tahap eksperimental dari inisiatif haji cerdas yang sedang kami kerjakan, dan kami akan mempelajari sejauh mana teknologi ini menguntungkan jemaah haji," kata Kepala Perancana dan Strategi, di Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, Amr Al-Maddah, Kamis, 11 Juli 2019.

Amr mengatakan, uji coba ini untuk mengantisipasi banyaknya jemaah di masa mendatang. Selain kartu canggih, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi juga mengeluarkan 200.000 kartu identitas jemaah haji yang punya fitur serupa.

Kartu ini dapat dipindai. Sehingga, memungkinkan penyedia layanan haji mengidentifikasi jemaah haji, riwayat kesehatan mereka dan menetapkan bantuan apa yang dibutuhkan.

Amr, mengatakan, kartu-kartu tersebut akan dilengkapi dengan aplikasi Smart Haji ID.

" Kartu ini akan menawarkan fitur yang sama dengan kartu ID pintar, termasuk lokasi pelacakan, mengidentifikasi tempat ramai di peta, dan jadwal transportasi," kata dia.

Amr menyebut, kartu pintar dan aplikasi seluler itu memungkinkan Kementerian Arab Saudi mensimulasi dan memprediksi perilaku jemaah haji.

" Teknologi baru ini akan membantu kami mengumpulkan data melalui kartu, kamera, dan sensor yang disebar di sekitar lokasi ziarah," ucap dia. (Ism)

6 dari 6 halaman

Mendaftar Sejak Kelas 3 SD, Remaja Pamekasan Kini Berangkat Haji

Dream - Wajah Mohammad Al Jufri Ahyi Singgit, 17 tahun, tampak berbeda di antara para jemaah haji lain di kloter SUB 11. Di antara para jemaah yang sudah tampak lanjut dan dewasa, Singgit tampak lebih muda.

Dia tercatat sebagai salah satu jemaah haji termuda Indonesia. Singgit sudah mendaftar haji sejak umur sembilan tahun.

" Usia sembilan tahun didaftarkan, pergi sama orang tua," kata Singgit, dikutip dari Liputan6.com, Kamis 11 Juli 2019.

Saat ini, Singgit tinggal di Hotel Mather Al Tayiba, Madinah, bersama orang tuanya.

Remaja yang menempuh pendidikan di Pesantren Gontor, Jawa Timur, itu pandai berbahasa Arab. Dia sangat bersyukur dapat berhaji bersama orang tuanya.

" Alhamdulillah bahagia (pergi haji). Untuk ibadah ini, saya izin sekolah selama dua bulan," kata dia.

Singgit ingin keberangkatannya ke Tanah Suci dapat menjadi contoh anak-anak muda Indonesia. " Jadilah orang yang selalu mencari rida Allah, membahagiakan orang tua, bisa meluruskan umat," kata dia.

Ibunda Singgit, Suhartini, sudah tiga kali naik haji. Dia menyebut, kemampuannya memberangkatkan Singgit ke Tanah Suci karena pertolongan Allah SWT.

Suhartini berharap sang putera dapat beribadah dengan baik. " Saya berdoa buat Singgit semoga jadi anak yang soleh, punya ilmu, sukses, dan diridai Allah," kata Suhartini.

Terkait
Belajar Jadi Orangtua yang Lebih Baik di Fimelahood #MindfulParenting
Join Dream.co.id