Ada yang Anggap Dilarang, Ini Pandangan Ulama Soal Makanan Belut

Your Story | Jumat, 29 November 2019 20:00
Ada yang Anggap Dilarang, Ini Pandangan Ulama Soal Makanan Belut

Reporter : Ahmad Baiquni

Belut jadi bahan pangan yang cukup digemari.

Dream - Belut sudah banyak digunakan sebagai bahan pangan dan banyak digemari masyarakat. Sudah banyak sajian kuliner ditawarkan menggunakan belut sebagai bahan utamanya.

Bahkan tiap daerah punya cara sendiri-sendiri dalam mengolah. Cara tersebut menghadirkan kuliner belut yang menggugah selera.

Tidak hanya di Indonesia, belut juga jadi bahan pangan favorit di beberapa negara. Terutama di Jepang dan Korea Selatan yang punya menu belut unik.

Meski sekilas tampak seperti ular, belut hidup di di dalam air. Karena bentuknya itulah banyak orang yang menganggap belut tidak boleh dimakan. Benarkah demikian?

 

2 dari 6 halaman

Jumhur Ulama: Halal

Dikutip dari Bincang Syariah, perlu diketahui lebih dulu belut berbeda dengan ular. Belut memiliki ciri yang sama dengan ikan yaitu bernafas dengan insang.

Para ulama memandang belut termasuk ikan sehingga boleh dimakan. Dan belut bukan digolongkan sebagai hewan melata.

Syeikh Wahbah Al Zuhaili menjelaskan hal ini dalam kitabnya, Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu.

" Hukum kehalalan yang berlaku pada bagian potongan tubuh dari ikan, mencakup seluruh spesies jenis-jenis ikan yang ada, di antaranya adalah belut, yaitu ikan yang berwarna hitam dan berbentuk bulat."

Belut memiliki habitat di tanah lembap dan berair. Hewan ini mudah ditemukan di persawahan.

 

3 dari 6 halaman

Alasan Bagi Yang Melarang Belut Dimakan

Selain itu, belut bisa didapatkan di sejumlah negara kawasan Asia, terutama Asia Tenggara. Tetapi, hewan ini tidak hidup di kawasan Timur Tengah khususnya di Arab Saudi.

Karena tidak ada di Tanah Arab, maka kamus Lisanul Arab menyebut belut dengan istilah ajami. Artinya, hewan non-Arab atau hewan yang tidak hidup di Arab.

Hal ini menimbulkan konsekuensi hukum tersendiri. Bagi orang Arab, belut memang dilarang dimakan karena menyerupai ular, bukan karena haram.

Hal ini seperti dijelaskan dalam riwayat yang bersumber dari Ammar, yang menjelaskan sahabat Ali bin Abi Thalib melarang makan belut. Riwayat itu menyebutkan Ali mengutus seseorang pergi ke pasar dan mengatakan kepadanya, " Janganlah memakan belut."

Riwayat tersebut menunjukkan larangan dari sahabat Ali untuk memakan belut. Tapi, alasan yang digunakan adalah karena bentuknya yang menyerupai ular dan bukan karena keharaman.

Sumber: Bincang Syariah

4 dari 6 halaman

Cara Agar Aktivitas Makan dan Minum Bernilai Ibadah

Dream - Makan dan minum jadi aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Tidak ada satupun orang yang mampu bertahan hidup dalam jangka waktu lama tanpa makanan apalagi minuman.

Namun demikian, dalam Islam makan dan minum tidaklah berkaitan dengan aktivitas syariat. Karena ini merupakan kebutuhan dasar setiap makhluk yang bermakna aktivitas biasa. Hukumnya juga sebatas mubah, sehingga tidak berdampak pada pahala dan dosa.

Meski begitu, makan dan minum bisa diubah menjadi aktivitas ibadah. Sehingga makan dan minum bisa menghasilkan pahala. Bagaimana caranya?

Dikutip dari Islami, kunci mengubah makan dan minum dari aktivitas mubah jadi ibadah adalah pada niat. Ketika kita berniat makan untuk ibadah, aktivitas tersebut sudah mengandung pahala.

 

5 dari 6 halaman

Niat

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya 'Ulumuddin menjelaskan bagaimana generasi salafush shalih membiasakan diri menjadikan makan sebagai aktivitas ibadah.

" Sesungguhnya aktivitas makan merupakan bagian dari agama. Untuk melakukannya, Tuhan Pemilik semesta slam telah membeberkan tuntunan, dengan firman yang Maha Benar dalam segala Firman-nya: 'Makanlah kalian dari segala yang baik-baik. Lalu lakukan amal yang baik.' Berbekal firman ini, maka barangsiapa yang mendahului aktivitas makannya, karena niat mencari pertolongan dalam menuntut ilmu dan beramal kebaikan, serta niat mencari kekuatan untuk melaksanakan suatu ketaatan, maka tidak patut baginya membiarkan dirinya, aktivitas makannya, sebagai yang kosong dari niat kebaikan itu, sehingga lepas kendali menyerupai aktivitas makannya hewan di tempat gembalaan. Makan merupakan bagian dari sarana yang penting bagi agama. Ia bisa menjadi instrumen terbitnya sinar-sinar agama."

Dalam pandangan Imam Al Ghazali, sinar agama yang dimaksud yaitu menjaga adab dan memperhatikan sunah dari makan dan minum. Semua itu akan menjadi pengendali diri bagi orang-orang bertakwa.

" Sesungguhnya yang dimaksud dengan sinarnya agama adalah penjagaan adab saat makan dan minum, memperhatikan sunah-sunah dalam makan dan minum, yang kesemua itu merupakan tugas penting bagi seorang hamba dan menjadi pengendali diri bagi orang-orang yang bertakwa, sehingga hidupnya seolah bertimbangkan pedoman syariat, bergerak mengendalikan syahwat makannya khususnya dari serangannya. Akhirnya jadilah ia sosok yang berhasil mempertahankan diri dari dosa akibat syahwat makan itu, sehingga menariknya kepada memperoleh pahala, bahkan meski harus mengikuti dorongan keinginan itu."

 

6 dari 6 halaman

Agar Tak Menyamai Hewan

Karena hukumnya mubah, bisa jadi makan dan minum menimbulkan dua dampak, pahala atau justru kesia-siaan. Makan minum yang tidak berpahala menyerupai aktivitas hewan.

Pandangan ini semata bukan hendak menjelekkan aktivitas makan dan minum, melainkan mengingatkan akan pentingnya niat ibadah. Niat itulah yang akan membedakan aktivitas makan minum manusia dengan hewan.

Hal yang dibenarkan dalam syariat adalah membawa makan minum ke atas ibadah. Aktivitas ini dapat menjadi perangkat kuatnya menjalankan ibadah dan melakukan amal kebaikan serta ketaatan.

Sumber: Islami.co

4 Januari, Hari Bahagia dan Paling Sedih Rizky Febian
Join Dream.co.id