Angker, Rumah di Jalur Tengkorak Ini Hanya Dihuni Wanita Tua

Your Story | Sabtu, 17 April 2021 04:02
Angker, Rumah di Jalur Tengkorak Ini Hanya Dihuni Wanita Tua

Reporter : Widya Resti Oktaviana

Berada di jalur tengkorak, Rembang yang terkenal angker, Sri Haryati sudah tinggal sendirian selama 10 tahun.

Dream – Beberapa daerah di Indonesia masih memiliki jalur yang dikelilingi oleh hutan. Hal ini biasanya turut berkembang cerita yang berbau misteri serta sering terjadi kecelakaan yang merenggut korban jiwa.

Hingga akhirnya wilayah tersebut semakin dikenal oleh masyarakat luas sebagai wilayah yang angker. Hal tersebut salah satunya terletak di ruas jalur Pati-Rembang.

Lebih tepatnya di Kecamatan Bulu, Rembang sampai perbatasan Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Di mana sebagian besar jalan di daerah tersebut masih berupa hutan lebat.

Selain itu, jalur tersebut juga dikenal oleh masyarakat sebagai “ jalur tengkorak”, karena seringnya terjadi kecelakaan yang memakan banyak korban dan warga setempat pun menganggap tempat tersebut angker.

Meski begitu, bukan berarti di tempat itu sama sekali tidak ada warga yang menetap. Ada seorang warga bernama Sri Haryati berusia 68 tahun tinggal di tempat tersebut dan itu adalah satu-satunya rumah yang berdiri.

Ia tinggal sendirian karena sang suami sudan meninggal, sedangkan keenam anaknya sudah berumah tangga.

Berkembangnya kabar-kabar mistis di daerah itu membuat rumah tersebut selama ini tidak ada yang mau untuk menempatinya.

Sehingga hanya Sri Haryati sajalah yang masih bertahan. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut, berikut sebagaimana dilansir melalui Merdeka.com dan YouTube Musyafa Musa.

 

2 dari 6 halaman

Hanya Ada Satu Rumah dan Diapit Hutan Lebat

 Hanya Ada Satu Rumah di Jalur Tengkorak, Rembang
© Merdeka.com/YouTube Musyafa Musa

Melalui kanal YouTube Musyafa Musa, dalam video tersebut ia merasa heran dengan keberadaan rumah yang berdiri tepat di pinggir tikungan jalan, jalur tengkorak yang dikelilingi oleh hutan lebat.

Rumah sederhana itu hanya berdiri sendiri tanpa adanya tetangga. Posisinya tepat berada di utara gapura perbatasan Blora.

Kanan kiri diapit oleh hutan yang masih cukup lebat. Tampak ada satu rumah di pinggir jalan, dekat tikungan tajam, sebelah utara gapura perbatasan. Tikungan ini terkenal sebagai jalur tengkorak. Karena kerap terjadi kecelakaan lalu lintas yang merenggut korban jiwa,” terang Musyafa Musa di videonya.

3 dari 6 halaman

Tidak Takut Tinggal Sendirian

 Sri Haryati Tinggal Sendirian
© Merdeka.com/YouTube Musyafa Musa

Sebenarnya rumah tersebut adalah milik kakek dari Sri Haryati. Lalu sebelumnya pernah dijual pada orang lain dan juga mendirikan rumah dengan tujuan untuk menjaga tandon air yang ada di sebelahnya.

Sudah beberapa kali rumah tersebut mencoba dititipkan, namun sayangnya tidak banyak orang yang bertahan. Hanya Sri Haryati sajalah yang masih bertahan dan merasa nyaman tinggal di rumah tersebut.

Ia pun juga tidak masalah karena harus tinggal sendirian. Padahal jika Sri Haryati ingin ke pusat desa, ia harus berjalan kaki sejauh dua kilometer.

Siapa sangka rumah satu-satunya dekat tikungan tersebut dihuni oleh seorang wanita pemberani namanya Sri Haryati, berusia 68 tahun. Secara administratif, rumah berdiri di Desa Kadiwono, Bulu, Rembang, Jawa Tengah. Namun jaraknya ke pusat desa lumayan jauh, sekitar dua kilometer,” jelas Musyafa Musa.

4 dari 6 halaman

Sudah 10 Tahun Tinggal di Rumah Itu

 10 Tahun Tinggal di Jalur Tengkorak
© Merdeka.com/YouTube Musyafa Musa

Melalui video milik Musyafa Musa tampak Sri Haryati tidak merasa terbebani tinggal di rumah itu sendirian. Apalagi semua anaknya sudah berumah tangga dan suaminya juga sudah meninggal.

Namun, sebelumnya ia sempat ingin pulang ke daerah asalnya. Hal itu pun tidak diperbolehkan kerabatnya yang meminta Sri menjaga rumah dan tandon.

Seiring berjalannya waktu, Sri Haryati pun merasa nyaman tinggal di rumah tersebut dan sampai saat ini ia sudah 10 tahun menempati rumah itu.

Dulunya itu saya mau pulang ke rumahku sendiri sama anakku. Omnya nggak boleh, rumah ini aku buatke mbah, bukan buat siapa-siapa. Saya sudah suruh cari orang untuk nunggu di sini, nggak mau, nggak berani. Saya berani, ini sudah mau sepuluh tahun,” papar Sri Haryati sembari tertawa.

5 dari 6 halaman

Cukupi Kebutuhan dengan Jualan Peyek

 Sri Haryati Jualan Peyek untuk Cukupi Kebutuhan
© Merdeka.com/YouTube Musyafa Musa

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, Sri Haryati mendapatkan penghasilan dengan berjualan peyek.

Ia membuat sendiri peyek tersebut dan dijual dengan cara dititipkan pada warung terdekat atau ke arah desa. Tapi ada juga yang langsung beli ke rumahnya.

Meski begitu, tidak tampak ada rasa khawatir atau takut hidup kesulitan dalam diri wanita paruh baya tersebut. Ia sangat yakin bahwa Tuhan akan selalu ada untuk menjaganya dan mencukupkan hidupnya meskipun ia hanya tinggal sendirian.

Nggak kerasan (tidak nyaman). Milih di sini, kerja di sini, tenang. Saya buat rempeyek itu kan buat kesibukan badanku sendiri, tak titipke ke warung gitu sak kerdus (satu kardus). Nanti kalau ada yang beli di sini, ya tak layani. Nggak pernah ada, besok nggak ada saya makan nggak susah. Gusti Allah itu nggak tidur, pasti kasih aku makan,” jelasnya dengan penuh keyakinan.

6 dari 6 halaman

Bagian Dalam Rumah Sangat Sederhana

 Bagian Dalam Rumah Sri Haryati
© Merdeka.com/YouTube Musyafa Musa

Kesederhaan memang sangat melekat pada Sri Haryati. Tidak hanya bagian luar rumahnya saja, tetapi juga bagian dalam rumah. Saat memasuki rumahnya ada ruang tamu secara lesehan dan di samping ruang tamu ada kamar mandi.

Lalu di dekat ruang tamu adalah kamar tidur. Kemudian menuju ke arah belakang adalah dapur yang biasa ia gunakan untuk memasak dan juga membuat peyek jualannya. Walaupun semuanya serba sederhana, namun rumah Sri Haryati terasa tenang, nyaman, dan asri.

Join Dream.co.id