Aleppo `Memerah Darah`, ACT Kirim Tim ke Suriah

Your Story | Senin, 9 Mei 2016 08:29
Aleppo `Memerah Darah`, ACT Kirim Tim ke Suriah

Reporter : Ahmad Baiquni

Pemerintah Suriah, dengan dalih merebut kembali Aleppo dari tangan pemberontak, melancarkan serangan. Banyak korban tewas akibat bombardir bom, kebanyakan adalah warga sipil.

Dream - Gempuran senjata yang menimpa warga sipil Suriah, terutama di Aleppo, menjadi tragedi besar dunia. Serangan yang menyasar fasilitas publik setara aksi genosida.

Gencatan senjata yang diberlakukan sebelumnya ternyata tidak menghentikan kekerasan bersenjata di Suriah. Bahkan dalih memadamkan pemberontakan sipil, menjadi pembenar rezim untuk tak segan menghantamkan rudal udara dan bom mematikan ke tengah sasaran warga sipil.

Atas insiden kemanusiaan ini Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali mengirim Tim Sympathy of Solidarity (SOS) Syria gelombang ke VII sejak krisis kemanusiaan Suriah mengemuka lima tahun silam. Pemberangkatan berlangsung di Kantor ACT di Menara 165 Jakarta, Rabu 4 Mei 2016.

Presiden ACT Ahyudin mengatakan masyarakat Indonesia sesungguhnya dikenal sebagai bangsa pecinta damai yang hidup dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Krisis Suriah lebih dari cukup untuk membuat nurani guncang.

" Saatnya kita berbuat nyata. Mungkin tim yang kita kirim tidak bisa menghentikan krisis, tapi setidaknya kami mewakili bangsa ini, menolak absen dari kepedulian global," ujar Ahyudin melalui keterangan tertulis diterima Dream.

" Bagaimana mungkin bangsa Indonesia bungkam Suriah banjir darah, warga sipilnya dibombardir bertahun-tahun, tak peduli korbannya anak-anak, perempuan bahkan manula tak bersenjata. Suriah memanggil begitu nyaring! Selamatkan rakyat Suriah!" kata dia.

Hanya dalam hitungan jam sejak serangan terakhir di hari Jumat pekan lalu, serangan berdarah yang menerjang Aleppo sudah menuai kecaman jutaan publik dunia. Tagar #AleppoIsBurning dan #saveAleppo pun memenuhi ragam linimasa di media sosial.

Serangan atas fasilitas publik paling vital yakni sebuah rumah sakit sipil di Al Quds yang merenggut kurang lebih 30 korban jiwa dan sedikitnya 62 luka-luka.

Bahkan 24 jam sebelum serangan fatal ke rumah sakit sipil ini, pesawat milik militer Rusia melepas roket kendalinya dan menargetkan markas tim keamanan sipil di wilayah Atarib, Aleppo. Lima personil keamanan meregang nyawa dalam serangan udara yang tak imbang ini.

Aleppo, kota paling utara dan salah satu yang terbesar di Suriah, kini makin hancur tak berbentuk. Gempuran rezim Assad selama lebih dari dua pekan tanpa henti meluluhlantakkan ratusan fasilitas sipil di kota ini.

Rezim Assad berkilah bahwa bombardir Aleppo sengaja dilakukan untuk merebut kembali kota terbesar di Suriah itu dari kontrol pihak oposisi yang menentang pemerintah.

Hingga hari ini, walau kecaman dunia memuncak hebat, Assad bergeming untuk tidak menghentikan serangannya ke Aleppo.

Dari balik bangunan sipil yang runtuh, tembok yang hancur, dan puing-puing sisa gempuran bom, Aleppo tampak jelas sedang memerah darah. Belasan ribu keluarga sipil di Aleppo kini sedang tertatih, terjebak dalam gempuran perang.

Data UNHCR pada April 2016 menyebutkan jumlah orang yang tewas akibat konflik berdarah di Suriah mencapai 10.381 jiwa. Sedangkan jumlah pengungsi yang tersebar di beberapa negara mencapai 4.842.896 jiwa, dengan rincian di Turki 2.749.140 jiwa, Lebanon 1.055.984 jiwa, Yordania 642.868 jiwa, Irak 246.123 jiwa, Mesir 119.665 jiwa, Afrika Utara 29.116 jiwa, dan Eropa 972.012 jiwa.

ACT akan segera menyalurkan bantuan senilai Rp1 miliar dalam bentuk bahan pangan, obat-obatan, serta kebutuhan darurat lainnya secara bertahap. Bantuan tersebut akan disalurkan oleh Global ACTion Team #SOSSyria.

Senior Vice President Global Philanhropy and Communications, N Imam Akbari, mengatakan masyarakat dunia harus melihat penderitaan rakyat Suriah ini dan menjadikan satu subyek isu kemanusiaan yang paling utama.

Keadaan di Suriah kini menjadi problem kemanusiaan yang sangat luar biasa. Jumlah korban begitu banyak dan potensi perdamaian yang masih jauh dari angan.

" Betapa luar biasa efek dari peperangan ini. Banyaknya eksodus warga Suriah meninggalkan tanah air tercintanya, merupakan pertanda bahwa keadaan di sana sudah teramat gawat. Tak ada pilihan lain kecuali harus menyelamatkan diri, sekian lama mereka hidup mencekam dengan tak ada jaminan hidup serta keamanan yang didapat mereka, tidak ada stok bahan pangan, tidak ada stok air bersih!” kata salah satu relawan saksi mata serangan Aleppo, Imam.

Derita yang membuncah di Aleppo sesungguhnya serupa dengan serangan teroris yang meneror Paris dan Brussel beberapa hari lalu. Sayangnya, banyak negara belum memberikan simpati atas insiden kemanusiaan ini.

Tim SOS Syria-ACT VII menunjuk Senior Vice Presiden ACT Syuhelmaidi Syukur sebagai Team Leader, didampingi Yusnirsyah Sirin dan Andika Rachman. Pekan ini, tim akan bertolak mengirimkan bantuan untuk pengungsi dan korban serangan atas warga Suriah.

" Kami tidak bergerak sendiri. IHH, sebuah lembaga kemanusiaan global dari Turki, mitra kami dalam menyampaikan bantuan kemanusiaan. IHH-pun dalam kiprah kemanusiaannya di Indonesia, bermitra dengan ACT. Misalnya dalam penanganan pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh. Di ranah global pun, sejumlah sinergi dilakukan dengan apik demi menjangkau para penyandang krisis,” jelas Syuhelmaidi.

Selain bermitra, di sejumlah lokasi yang memungkinkan, lanjut Syuhelmaidi, ACT ikut menyalurkan langsung bantuan, terutama pangan dan medis.

" Aksi Tim SOS Syria VII ini insya Allah juga berperan menjadi penyampai info terkini dan akurat untuk mengedukasi Indonesia dan dunia. Jangan lupakan saudara-saudara kita yang dirundung kesulitan hidup akibat konflik Suriah," tegas Syuhelmaidi.

Sampai hari ini, komunitas kemanusiaan internasional, termasuk ACT menyusun rencana efektif untuk mendistribusikan bantuan sesegera mungkin sampai di Aleppo.

" Syria is our country and we want to go back there. We don’t know who is right and who is wrong, but I know we civilians are paying the price," (Suriah adalah negara kami dan kami ingin kembali ke sana. Kami tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah, tapi saya tahu kami, masyarakat sipil, yang harus membayarnya) ungkap pengungsi Suriah di Damaskus, Hiba.

(Ism, Sumber: Humas ACT)

Terkait
Komentar
Beri Komentar
TOP 3 | Arab Saudi Investasi Rp 282 Triliun di Pakistan
Join Dream.co.id
Fashion Spread: Comfort Galore