Kisah Mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Larang Putranya Jadi Polisi

Your Story | Jumat, 22 Januari 2021 11:01
Kisah Mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Larang Putranya Jadi Polisi

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Salah satunya anak jenderal ini, tidak diperbolehkan menjadi anggota kepolisian oleh ayahnya. Kenapa?

Dream - Jika mengenang masa kecil, khususnya generasi di era 90-an, salah satu cita-cita yang sering disebutkan saat sekolah SD maupun Taman Kanak-Kanak adalah menjadi seorang polisi. Sosoknya yang gagah dengan seragam cokelat membuat banyak anak-anak bermimpi menjadi polisi. 

Tak heran jika lamaran menjadi seorang polisi baik untuk tingkat bintara sampai perwira selalu penuh pendaftar. Tak hanya orang awam, mereka yang berlatar belakang dari keluarga polisi juga berharap salah satu putranya yang akan meneruskan jejak mereka.

Namun keinginan itu tak pernah terbesit di pikiran Jenderal Hoegeng. Mantan Kapolri di masa presiden Soeharto ini dikenal sebagai penegak hukum paling jujur di Indonesia. Namanya harusm sebagai Kapolri yang tak pernah tergiur dengan korupsi.

Menjabat sebagai orang nomor satu di kepolisian, Hoegeng sama sekali tak ingin anaknya mengikuti jejaknya menjadi polisi. Daripada menjadi Polisi, Hoegeng lebih senang anaknya bekerja di bengkel.

2 dari 4 halaman

Tak Beri Izin

Mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso dikenal sebagai polisi yang jujur. Saat masih menjabat sebagai Kapolri, Hoegeng bahkan sampai melarang anaknya untuk masuk ke Akademi Kepolisian (Akpol).

Sang anak, Aditya sempat marah dengan ayahnya. Tetapi, kemudian ia paham maksud baik dari ayahnya yang mengajari soal integritas.

" Jadi tidak sama sekali. Saya kecewa sekali tapi saya bisa mengerti. Saya enggak pernah merasa anak pejabat," kata Aditya.

3 dari 4 halaman

Alasannya

Hoegeng rupanya memiliki alasan tersendiri mengapa ia melarang anaknya untuk masuk ke Akpol. Dia tak ingin ada keluarganya mendapat kemudahan lantaran jabatan Kapolri yang dijabatnya.

" Karena kamu tahu saya tengah menjabat. Apapun yang saya keluarkan akan mempermudah di dalam pendidikanmu," ujar Hoegeng seperti ditirukan Aditya.

Kala itu, Hoegeng Imam Santoso juga tak pernah mengistimewakan anak-anaknya. Jangankan mobil, motor saja ternyata mereka tak punya.

" Kami juga ingin punya kendaraan bermotor atau mobil. Namun pikiran seperti itu bisa kami atasi dengan cara hidup kami yang sederhana," ujar Aditya dalam sambutannya untuk buku Hoegeng, Oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa terbitan Bentang (hal 263).

4 dari 4 halaman

Restui Anak Kerja di Bengkel

Saat masih kuliah, anak Hoegeng, Aditnya, pernah bekerja di sebuah bengkel dan toko suku cadang milik Henky Irawan (pembalap ternama kala itu). Aditya tak malu karena uang tersebut halal.

Uang itu digunakan untuk menambah biaya kuliahnya. Selain itu, sang ayah juga tak melarangnya bekerja di bengkel.

" Bapak tak melarang saya bekerja di mana pun. Beliau hanya berpesan, dimana pun dan apa pun posisimu, bekerjalah dengan benar," kata Aditya menirukan Hoegeng.

Sumber: merdeka.com

Join Dream.co.id