Air Daur Ulang Limbah, Bisakah Dipakai Bersuci?

Your Story | Sabtu, 26 Oktober 2019 06:00
Air Daur Ulang Limbah, Bisakah Dipakai Bersuci?

Reporter : Ahmad Baiquni

Air limbah kini bisa diolah dengan mesin khusus.

Dream - Air merupakan unsur penting dalam kehidupan. Tidak hanya untuk minum, namun juga untuk mandi dan mencuci.

Bagi umat Islam, air juga memiliki peranan sangat penting untuk bersuci. Meski bersuci bisa dilakukan dengan debu, menggunakan air jauh lebih dianjurkan.

Seiring berkembangnya teknologi, kini muncul mesin pengolah air limbah. Dengan mesin itu, air limbah yang kotor bisa didaur ulang sehingga kembali bening, bau dan rasanya sirna.

Teknologi ini dipakai di sejumlah kota besar di dunia. Salah satunya di Dubai, yang menggunakannya untuk menyirami tanaman pada taman bunga terbesar di dunia.

Namun muncul masalah berkaitan dengan penggunaan air daur ulang limbah untuk bersuci. Karena bersuci mensyaratkan penggunaan air yang suci menyucikan

Dikutip dari NU Online, kategori suci menyucikan adalah air netral. Air tersebut tidak berwarna, berbau dan berasa.

Karena terdapat air yang masuk kategori suci tidak menyucikan. termasuk kategori ini adalah air laut, air kelapa, dan sebagainya yang tidak bisa digunakan untuk bersuci.

Terkait dengan air daur ulang limbah, perlu dipahami dulu pandangan ulama terkait air yang tampak kotor. Selama terdapat sifat yang berubah, maka para ulama menyebutnya dengan air najis (mutanajis).

Hal ini dijelaskan oleh Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki dan Syekh Hasan Sulaiman Al Nuri dalam kitab yang ditulis bersama, Ibanatul Ahkam.

" Para ulama sepakat jika ada air tercampur dengan najis kemudian salah satu sifat-sifatnya berubah, baik warna, rasa ataupun baunya, air tersebut hukumnya najis."

2 dari 8 halaman

Selama Sifat Netralnya Kembali

Sedangkan air najis yang kembali sifat-sifat netralnya hingga orang tidak bisa membedakannya lagi sebagai limbah, maka air tersebut kembali menjadi suci. Tetapi dengan catatan volume minimalnya mencapai dua kulah, setara 216 liter.

Juga sudah melewati dua kulah setelah itu volumenya menurun, air sudah bisa dihukumi suci menyucikan selamanya.

Penjelasan ini dapat ditemukan dalam kitab Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar Al Haitami.

" Jika air yang berubah tersebut kembali netral, bisa jadi karena diam dalam tempo lama, tidak ada benda atau zat yang dimasukkan, atau dengan cara ditambah air yang banyak walaupun dengan air najis, atau juga ada bagian air yang diambil sedangkan sisanya masih banyak seperti air yang ditaruh diwadah tertutup, setelah itu tutupnya dibuka lalu kemasukan angin, atau sebab benda yang jatuh kemudian berdampingan dengan air, atau bisa jadi karena tercampur dengan benda yang bisa menyegarkan seperti minyak za'faran yang tidak mempunyai rasa dan bau, maka hukumnya suci sebab sebab najisnya sudah hilang."

 

3 dari 8 halaman

Melihat Cara Air Kembali Suci

Sedangkan Imam An Nawawi dalam Al Majmu' Syarh Al Muhadzab menjelaskan air kotor yang kembali netral terdapat lima jenis didasarkan pada cara pengolahannya. Empat jenis dinyatakan oleh jumhur ulama menjadi suci kembali, sementara satu sisanya masih mengundang perdebatan.

" Air bisa menjadi suci dengan empat hal. Yang empat disepakati ulama, sedangkan yang kelima terjadi perbedaan pendapat ulama. Pertama, perubahan air hilang dengan sendirinya. Kedua, sebab dimasuki benda baru. Ketiga, perubahan air hilang karena ada benda yang tumbuh di dalam air tersebut. Misalnya lumut atau ganggang yang kemudian bisa menyerap perubahan air sehingga air menjadi bening kembali. Ketiga, sebab ada hal yang diambil dari air. Contohnya ada air yang berubah warnanya karena kejatuhan bangkai tikus. Bangkainya diambil lalu menjadikan air bening kembali. Seperti ini ulama sepakat air menjadi suci menyucikan. Kelima, air berubah lalu diberi tanah, ini ulama berbeda pendapat. Menurut qaul ashah, air berubah yang diberi tanah sifatnya tidak kembali netral, namun perubahannya tertutup dengan tanah."

Dalam penjelasan Imam An Nawawi, netralitas air menjadi kunci utama. Selama air bisa kembali netral dengan jumlah minimal dua kulah maka hukumnya suci dan bisa digunakan untuk bersuci.

Kecuali jika najisnya hilang karena rekayasa menggunakan sifat sejenis. Air seperti ini tidak bisa disebut suci.

Contohnya air kotor berbau diberi parfum sehingga menjadi wangi atau air keruh diberi pewarna makanan, maka cara ini tidak membuat air kembali suci menyucikan. Berbeda jika air direkayasa menjadi netral dan bening kembali.

Sumber: NU Online

4 dari 8 halaman

Sholat Sunah Dianjurkan di Tempat Tertutup, Ini Keutamaannya

Dream - Selain menjalankan sholat fardu lima waktu, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunah. Jenis sholat ini cukup banyak.

Ada sholat sunah yang mengiringi sholat fardu, ada juga sholat sunah dilaksanakan di waktu-waktu tertentu seperti dhuha, tahajud, hajat, dan lain sebagainya.

Terdapat anjuran melaksananakan sholat fardu di tempat terbuka dan bisa dilihat banyak orang. Bisa di masjid atau mushola sehingga dilaksanakan secara berjemaah.

Berbeda dengan sholat fardu, sholat sunah justru lebih dianjurkan di tempat tertutup. Bisa di rumah, kamar, atau ruangan lainnya yang tidak memungkinkan orang lain melihatnya.

Dikutip dari Bincang Syariah, ada sejumlah keutamaan dianjurkannya sholat sunah di tempat tertutup. Keutamaan pertama yaitu dibebaskan dari api negara, seperti terjelaskan dalam hadis riwayat Imam Suyuti dari Jabir RA.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, " Barangsiapa melaksanakan sholat dua rakaat dalam kesunyian yang hanya Allah dan malaikat saja yang melihatnya, maka dituliskan untuknya terbebas dari api neraka."

5 dari 8 halaman

Bisa Masuk Surga Tanpa Hisab

Keutamaan kedua, seseorang akan masuk surga tanpa hisab. Ketentuan ini tercantum dalam hadis Rasulullah berikut.

Tidak ada seorang hamba yang sholat dalam rumah yang gelap dengan rukuk dan sujud yang sempurna melainkan surga wajib baginya dengan tanpa hisab.

Keutamaan ketiga yaitu terbebasnya seseorang dari sifat munafik, kufur, bid'ah dan kesesatan. Ini seperti disebutkan dalam hadis berikut.

Siapa yang sholat empat rakaat sekiranya orang-orang tidak melihatnya, maka sungguh ia telah terbebas dari kemunafikan, kekafiran, kebid'ahan, dan kesesatan.

Begitu utamanya melaksanakan sholat sunah di tempat tertutup. Selain agar lebih khusyuk, juga agar terhindar dari riya.

Sumber: Bincang Syariah

6 dari 8 halaman

Dianjurkan Berjabat Tangan, Bolehkah Ucap Salam Cuma Lewat Lambaian?

Dream - Mengucap salam ketika bertemu teman sudah jadi kebiasaan seorang Muslim. Kebiasaan ini memang dianjurkan dalam Islam dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Selain mengucap salam, dianjurkan untuk berjabatan tangan. Ini untuk menguatkan persaudaraan dengan sesama.

Tetapi, ada sebagian dari kita melambaikan tangan dan mengucap salam ketika berjumpa dengan saudaranya. Meskipun sudah mendekat, dia tidak juga bersalaman karena merasa lambaian tangan sudah cukup.

Tentu, menjabat tangan adalah sunah setelah mengucap salam. Amalan ini juga mengandung keutamaan tersendiri.

Lantas bagaimana dengan mengucap salam sambil melambaikan tangan?

7 dari 8 halaman

Jabat Tangan Bisa Gugurkan Dosa

Dikutip dari Bincang Syariah, jabat tangan jauh lebih utama dilakukan ketika bertemu dengan orang lain. Amalan ini bisa menggugurkan dosa kita dan yang dijabat tangannya.

Keutamaan ini terdapat dalam hadis riwayat Imam Abu Daud, Imam Ibnu Maja, Imam Tirmdzi dari Al Bara' bin Azib. Rasulullah SAW pernah bersabda demikian.

Tidaklah dua muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya.

Karena itulah tidak mengherankan jika jabat tangan telah menjadi kebiasaan di masyarakat. Ini semata jabat tangan mengandung manfaat yang sangat besar.

 

8 dari 8 halaman

Melambaikan Tangan

Tetapi, ada kalanya kita dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk berjabat tangan. Misalnya, kita bertemu teman saat kita sedang mengemudikan sepeda motor sehingga hanya bisa melambaikan tangan.

Ternyata, hal ini juga pernah dilakukan Rasulullah. Saat itu, Rasulullah bertemu dengan sekelompok wanita sehingga tidak bisa menjabat tangan mereka satu per satu. Akhirnya Rasulullah melambaikan tangan.

Hal ini tertuang dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi.

Rasulullah SAW pada suatu hari lewat menuju masjid, dan sekelompok wanita sedang duduk-duduk. Maka beliau melambaikan tangannya dengan mengucap salam.

Riwayat ini menunjukkan dibolehkannya melambaikan tangan saat mengucap salam. Tentu hal itu bisa dilakukan jika memang tidak memungkinan untuk jabat tangan.

Sumber: Bincang Syariah

Join Dream.co.id