Cara Agar Aktivitas Makan dan Minum Bernilai Ibadah

Your Story | Kamis, 28 November 2019 15:36
Cara Agar Aktivitas Makan dan Minum Bernilai Ibadah

Reporter : Ahmad Baiquni

Makan dan minum dalam Islam adalah aktivitas mubah.

Dream - Makan dan minum jadi aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Tidak ada satupun orang yang mampu bertahan hidup dalam jangka waktu lama tanpa makanan apalagi minuman.

Namun demikian, dalam Islam makan dan minum tidaklah berkaitan dengan aktivitas syariat. Karena ini merupakan kebutuhan dasar setiap makhluk yang bermakna aktivitas biasa. Hukumnya juga sebatas mubah, sehingga tidak berdampak pada pahala dan dosa.

Meski begitu, makan dan minum bisa diubah menjadi aktivitas ibadah. Sehingga makan dan minum bisa menghasilkan pahala. Bagaimana caranya?

Dikutip dari Islami, kunci mengubah makan dan minum dari aktivitas mubah jadi ibadah adalah pada niat. Ketika kita berniat makan untuk ibadah, aktivitas tersebut sudah mengandung pahala.

 

2 dari 6 halaman

Niat

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya 'Ulumuddin menjelaskan bagaimana generasi salafush shalih membiasakan diri menjadikan makan sebagai aktivitas ibadah.

" Sesungguhnya aktivitas makan merupakan bagian dari agama. Untuk melakukannya, Tuhan Pemilik semesta slam telah membeberkan tuntunan, dengan firman yang Maha Benar dalam segala Firman-nya: 'Makanlah kalian dari segala yang baik-baik. Lalu lakukan amal yang baik.' Berbekal firman ini, maka barangsiapa yang mendahului aktivitas makannya, karena niat mencari pertolongan dalam menuntut ilmu dan beramal kebaikan, serta niat mencari kekuatan untuk melaksanakan suatu ketaatan, maka tidak patut baginya membiarkan dirinya, aktivitas makannya, sebagai yang kosong dari niat kebaikan itu, sehingga lepas kendali menyerupai aktivitas makannya hewan di tempat gembalaan. Makan merupakan bagian dari sarana yang penting bagi agama. Ia bisa menjadi instrumen terbitnya sinar-sinar agama."

Dalam pandangan Imam Al Ghazali, sinar agama yang dimaksud yaitu menjaga adab dan memperhatikan sunah dari makan dan minum. Semua itu akan menjadi pengendali diri bagi orang-orang bertakwa.

" Sesungguhnya yang dimaksud dengan sinarnya agama adalah penjagaan adab saat makan dan minum, memperhatikan sunah-sunah dalam makan dan minum, yang kesemua itu merupakan tugas penting bagi seorang hamba dan menjadi pengendali diri bagi orang-orang yang bertakwa, sehingga hidupnya seolah bertimbangkan pedoman syariat, bergerak mengendalikan syahwat makannya khususnya dari serangannya. Akhirnya jadilah ia sosok yang berhasil mempertahankan diri dari dosa akibat syahwat makan itu, sehingga menariknya kepada memperoleh pahala, bahkan meski harus mengikuti dorongan keinginan itu."

 

3 dari 6 halaman

Agar Tak Menyamai Hewan

Karena hukumnya mubah, bisa jadi makan dan minum menimbulkan dua dampak, pahala atau justru kesia-siaan. Makan minum yang tidak berpahala menyerupai aktivitas hewan.

Pandangan ini semata bukan hendak menjelekkan aktivitas makan dan minum, melainkan mengingatkan akan pentingnya niat ibadah. Niat itulah yang akan membedakan aktivitas makan minum manusia dengan hewan.

Hal yang dibenarkan dalam syariat adalah membawa makan minum ke atas ibadah. Aktivitas ini dapat menjadi perangkat kuatnya menjalankan ibadah dan melakukan amal kebaikan serta ketaatan.

Sumber: Islami.co

4 dari 6 halaman

Jangan Terlena! Ini Dua Akibat Pujian Pada Diri Sendiri

Dream - Pujian dan sanjungan terkadang melenakan. Membuat kita merasa di atas angin. Tak heran banyak orang yang menganggap pujian adalah cobaan bagi seorang manusia.

Setiap muslim diingatkan agar selalu berhati-hati atas pujian. Karena pujian baik dari orang lain maupun diri sendiri bisa menjerumuskan kepada perilaku buruk.

Pujian dari orang lain membuat kita merasa riya. Sementara pujian bagi diri sendiri menjerumuskan pada kesombongan.

Setiap makhluk diciptakan dengan celah di dalamnya. Sebab kesempurnaan hanya milik Allah SWT, Sang Pencipta.

Dikutip dari Bincang Syariah, pujian merupakan perkara yang dibolehkan dalam Islam. Tetapi, seseorang perlu berhati-hati terhadap pujian.

 

5 dari 6 halaman

Akibat dari Pujian Pada Diri Sendiri

Dalam kitabnya, Al Adzkar, Imam An Nawawi menyebutkan ada dua akibat yang timbul dari dari pujian pada diri sendiri.

Akibat pertama, pujian diri sendiri bisa menjadi perbuatan tercela. Hal ini terjadi jika dilakukan untuk membanggakan diri sendiri serta sombong kepada orang lain.

Akibat kedua, bisa jadi perbuatan terpuji. Ini bisa terjadi jika dilakukan demi kemaslahatan seperti menasehati atau menunjukkan hal bermanfaat kepada orang lain.

Dalil mengenai hal ini cukup banyak. Seperti ucapan Nabi Yusuf AS yang tercantum dalam Surat Yusuf ayat 55.

" Jadikanlah aku bendahara Mesir, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga pengetahuan."

 

6 dari 6 halaman

Contoh Lainnya

Kalimat ini diucapkan Nabi Yusuf untuk membela diri agar lolos dari penjara. Isinya memang pujian atas kemampuan diri sendiri namun kalimat tersebut jadi perbuatan baik lantaran Nabi Yusuf adalah satu-satunya ahli ilmu di Mesir kala itu.

Dalil lain yaitu ucapan Usman bin Affan RA yang tertuang pada riwayat Imam Bukhari. Kala itu, rumah Usman dikepung rakyat yang menduga salah satu sahabat Rasulullah itu melakukan nepotisme.

" Bukankah kalian tahu, bahwa Nabi SAW bersabda, 'Siapa yang menyiapkan perbekalan tentara Usrah dalam perang Tabuk dan yang mendapatkan surga?' Maka akulah yang mempersiapkannya, bukankah kalian tahu bahwa Nabi SAW telah bersabda, 'Siapa yang mau menggali sumur umat dan mendapatkan surga?' Maka aku pun yang menggalinya."

Penjelasan ini menunjukkan dampak dari pujian terhadap diri sendiri. Seseorang perlu berhati-hati karena meskipun bisa muncul akibat baik, ada potensi terjadinya hal buruk dari pujian tersebut.

Sumber: Bincang Syariah.

Terkait
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya
Join Dream.co.id