Pilu! Bocah 11 Tahun Dirantai di Kandang Hewan, Ayah Hidup Mewah dengan 3 Istri

Unik | Rabu, 12 Agustus 2020 12:46
Pilu! Bocah 11 Tahun Dirantai di Kandang Hewan, Ayah Hidup Mewah dengan 3 Istri

Reporter : Syahidah Izzata Sabiila

Menurut pengakuan saudara tirinya, bocah tersebut menderita epilepsi dan keluarganya hanya mengikatnya di kandang hewan agar ia tak kemana-mana.

Dream – Kisah pilu dialami bocah laki-laki berusia 11 tahun di Negara Bagian Kebbi, barat laut Nigeria. Bocah malang itu ditemukan oleh polisi setempat setelah dirantai di sebuah kandang hewan oleh keluarganya. Mirisnya, sang ayah malah hidup mewah dengan tiga orang istri.

Menindaklanjuti perbuatan keji keluarganya, pihak kepolisian langsung menangkap para tersangka pada hari Minggu 9 Agustus di daerah Badariya, Birnin Kebbi, ibu kota Negara Bagian Kebbi.

Dari keterangan yang dihimpun kepolisian, bocah bernama Jubrin Aliyu itu telah dirantai di rumahnya hampir dua tahun. Untuk menyelamatkan bocah tersebut, pihak kepolisian langsung membawanya ke rumah sakit jiwa untuk dilakukan pengobatan intensif.

“ Setelah mendapat informasi tersebut, kami bergegas ke kediaman mereka. Bocah itu kini sudah dibawa ke rumah sakit jiwa daerah Birnin Kebbi untuk pengobatan," ungkap juru bicara kepolisian, Abu Bakar.

2 dari 5 halaman

Terlihat Kekurangan Gizi

Karena perilaku kejinya, sang ayah beserta ketiga istrinya kini sudah ditangkap dan dimintai keterangan lebih lanjut atas perbuatannya.

Saat disambangi di kandang, Jubrin terlihat kekurangan gizi, padahal Ayah dan ketiga istrinya hidup nyaman dan mewah di rumah mereka. Diketahui ibu kandung Jubrin telah meninggal sejak dua tahun lalu.

“ Jubrin menderita epilepsi, karena itu dia dirantai agar tak menghilang dari rumah,” ujar salah seorang saudara tirinya.

 

3 dari 5 halaman

Dirawat Intensif

Jubrin saat dalam perawatan di Rumah Sakit© Kepolisian Kebbi

Karena menunjukkan gejala kekurangan gizi, Jubrin segera dibawa ke rumah sakit Sir Yahaya untuk dirawat secara intensif.

“ Kami masih memeriksa kondisi bocah itu dan melakukan penangkapan pada para tersangka, investigasi masih berlangsung,” jelas Mr Abubakar.

Saat diperiksa, kondisi kesehatan Jubrin perlu diperhatikan. Oleh karenanya, pihak rumah sakit memindahkannya ke tempat lain di daerah Sokoto.

“ Bocah itu sedang mengalami kondisi kesehatan mental yang cukup memprihatinkan,”tambah Abu Bakar.

Sumber Daily Star

4 dari 5 halaman

Kasihan, Sang Juara Azan 6 Tahun Dikerangkeng di Sawah

Dream - Nasib tak beruntung dialami Dadan Danil. Pria warga Kampung Selakaso Desa Selawangi Kecamatan Sariwangi ini dikerangkeng di tengah sawah oleh orangtuanya sejak enam tahun yang lalu.

Dadan terpaksa dibelenggu dalam kurungan besi lantaran mengalami gangguan jiwa dan sering mengamuk. Menurut sang ayah, Solihin (60 tahun), anaknya mengalami gangguan jiwa bukan bawaan sejak lahir.

Dadan dulu pernah berjualan bakso gerobak di Karawang. Usahanya berjalan sukses. Namun, 6 tahun silam, pria berusia 34 tahun itu mendadak mengeluh pusing dan sakit kepala. Ia pun pulang ke kampung halamannya.

Setelah berada di rumah, Dadan sering mengamuk. Rumah dirusak, bahkan menyerang warga. Karena itu, dengan terpaksa Solihin mengurung Dadan di tengah sawah. Solihin tak pernah mencoba memeriksakan kondisi anaknya ke dokter lantaran tak memiliki biaya.

Namun pada 15 April 2016 lalu, atas inisiatif masyarakat Desa Selawangi dan UPTD Puskesmas Sariwangi, Dadan dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Jawa Barat, Cisarua, Bandung.

 

 

5 dari 5 halaman

Ibunda Dadan, Uum (59 tahun) menceritakan, di masa kecilnya, Dadan pernah membanggakan orangtua. Dia pernah meraih juara lomba azan. Ia pun merupakan anak yang rajin berolahraga.

Dikerangkeng© Diki Setiawan/ Radar Tasikmalaya

" Kadang kalau azan anak saya ketika dalam pasungan suka mengikuti azan," tutur Uum seperti dikutip dari Radartasikmalaya.com.

Uum senang anaknya bisa dibawa ke RSJ Bandung. " Mudah-mudahan setelah dibawa ke rumah sakit dan dirawat di sana sembuh," katanya.

Dari hasil pemeriksaan, Dadan mengalami gangguan jiwa akibat berbagai macam faktor. Seperti psikologis, ekonomi, dan lingkungan. " Sementara faktor turunan tidak ada," terang Kepala UPTD Puskesmas Kecamatan Sariwangi, H Duani SKep.

 

Join Dream.co.id