Spice Up The World, Mengokohkan Tradisi Indonesia di Kancah Dunia

News-travel | Rabu, 4 Agustus 2021 13:19

Reporter : Ahmad Baiquni

Bumbu masakan yang sangat beragam menjadi nilai tawar tersendiri Indonesia di mata dunia.

Dream - Spice Up The World, program yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini membawa misi besar. Selain pemulihan ekonomi, program ini juga digalakkan guna mengokohkan tradisi Indonesia di kancah dunia.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, dampak pandemi Covid-19 sangat terasa pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Terutama pada industri pangan di Indonesia yang lebih banyak merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah UMKM.

" Banyak masyarakat yang menaruh hidupnya pada bidang pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujar Sandi dalam International Conference of Food Agriculture and Natural Resources, Rabu 4 Agustus 2021.

 Swiss German University bersama Fanres International Network
© Istimewa

Terlebih, 12 hingga 15 persen Produk Domestik Bruto Indonesia disumbang sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Untuk mengatasi dampak lebih jauh, pihaknya terus berupaya mendorong parekraf untuk beradaptasi dengan berfokus pada personalize, customize, localize, dan smaller in size.

Bidang parekraf, kata Sandi, memiliki peran penting dalam memperkuat ekonomi negara di masa pandemi. Tidak hanya berjaya di dalam negeri namun juga menjadi modal untuk Indonesia merambah pasar global.

 

Spice Up The World, Mengokohkan Tradisi Indonesia di Kancah Dunia
Rempah-rempah Indonesia (Shutterstock.com)
2 dari 3 halaman

Merempahi Dunia

Untuk mewujudkan misi tersebut, Kemenparekraf telah menggagas program " Indonesia Spice Up The World" . Salah satu program utama Kemenparekraf yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga untuk perluasan pemasaran produk bumbu dan rempah khas Tanah Air.

Program ini melibatkan 4.000 restoran yang tersebar di seluruh dunia dan akan berlangsung hingga 2024 mendatang.

" Saya mengundang Fanres dan Swiss German University untuk ikut bergabung dalam program ini," kata Sandi pada konferensi yang diselenggarakan oleh Swiss German University bersama Fanres International Network.

 Swiss German University bersama Fanres International Network
© Istimewa

Melalui program ini, sejumlah makanan Indonesia akan diekspor ke mancanegara, meliputi gado-gado, soto, sate, nasi goreng, dan rendang. Sandiaga berharap program ini dapat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia, dengan menyumbangkan US$30 miliar atau sekitar Rp43 triliun dalam tiga tahun ke depan.

Selain itu, pariwisata yang sempat terkubur akibat pandemi akan dihadirkan kembali dengan kualitas yang lebih baik dan ramah lingkungan. Khususnya di lima Destinasi Wisata Super Prioritas.

" Lima destinasi wisata super prioritas yaitu Danau Toba, Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika, dan Likupang," kata Sandi.

3 dari 3 halaman

Tren Industri Pangan

Pandemi Covid-19 sudah berlangsung setahun lebih dan membawa dampak ke sektor ekonomi kreatif dan industri pangan di Indonesia. Keterbatasan karena pembatasan jalur transportasi membuat banyak orang terpaksa terisolasi di rumah dan daerahnya masing-masing.

 Swiss German University bersama Fanres International Network
© Istimewa

Menurut Professor Patricia Rayas Duarte dari Oklahoma State University, semasa dan paska covid-19 preferensi konsumen akan berubah dan tren industri pangan harus juga mengikuti untuk bisa bertahan.

Di balik itu, sebenarnya ini merupakan waktu bagi industri lokal memenuhi kebutuhan warga. Ketua Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI), Professor Umar Santoso, memberikan pandangan pandemi adalah saatnya untuk Indonesia justru akan bisa menunjukkan potensi pangan dan agroindustri lokal.

Professor Umar juga menyebutkan teknologi pangan memiliki peranan penting untuk memperkuat pangan dan pertanian Indonesia di masa pandemi.

Penguatan teknologi pangan masa pandemi tidak hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal, tapi akan jadi modal untuk Indonesia merambah pasar global.

" Swiss German University berfokus pada penelitian-penelitian yang memiliki dampak luas ke masyarakat. SGU mendorong dosen dan mahasiswa untuk berkolaborasi bukan hanya di level nasional, tapi juga dengan mitra internasional untuk menghasilkan karya inovatif yang mendorong berkembangnya produk berbasis bahan lokal, untuk pemberdayaan masyarakat dalam situasi pandemi ini,” ujar Dr Filiana Santoso, Rektor Swiss German University.

Konferensi ini bertujuan untuk menjadi wadah forum diskusi mengenai pengembangan dan inovasi terkini di bidang pangan dan sumber daya alam dalam pemberdayaan pertanian lokal untuk pasar global di masa pandemi.

Mengundang 15 pembicara internasional dari Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan juga Diaspora Indonesia untuk membawakan presentasi mengenai inovasi inovasi mengenai pangan dan sumber daya alam. Dan didukung oleh Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia dan Perhimpunan Penggiat Pangan Fungsional dan Nutrasetikal Indonesia.

Join Dream.co.id