Kisah Satu-satunya Toko yang Masih Bertahan di Pasar Suriah

News-travel | Jumat, 29 Desember 2017 17:11

Reporter : Puri Yuanita

Menyedihkan, toko milik Mohammad Shawash itu berdiri di tengah lautan jalan beton dan puing-puing bangunan yang hancur.

Dream - Dulu ini adalah salah satu pasar paling dinamis di Kota Aleppo, Suriah. Namun hari ini, jalan-jalan Khan Al-Harir yang dibom adalah rumah bagi sebuah toko yang menjual taplak meja.

Toko milik Mohammad Shawash itu berdiri di tengah lautan jalan beton dan puing-puing yang hancur. Pria berusia 62 tahun dengan jenggot putih dan kacamata hitam itu memutuskan untuk kembali ke souk (pasar) bersejarah tersebut sejak lima bulan lalu dan membuka kembali tokonya yang telah ia kelola selama bertahun-tahun.

" Saya menangis saat pertama kali kembali. Saya menemukan kehancuran total di sekitarku. Toko-toko hancur, jalanan ditutupi puing-puing dan bebatuan, dan bangunannya roboh," katanya kepada AFP.

" Jadi saya memperbaiki sendiri, untuk membuktikan kepada seluruh dunia bahwa kota tua Aleppo masih memiliki jiwa."

Khan Al-Harir atau Silk Market, terletak di kota tua Aleppo yang terkenal dan merupakan sebuah situs warisan dunia UNESCO.

Pasar bersejarah ini merupakan yang terbesar di dunia, dengan sekitar 4.000 toko dan 40 karavan di labirin gang yang menjual segala barang mulai dari peralatan rumah hingga produk kesenian.

Selama 4 tahun, kota tua berada di garis depan pertempuran antara pasukan pemerintah di barat kota dan pemberontak di timur. Namun sebuah serangan besar yang didukung Rusia membuat tentara Suriah merebut kembali wilayah tersebut, dan pada bulan Desember 2016 lalu pemerintah menyatakan kembali bahwa wilayah itu seluruhnya berada di bawah kendali mereka.

Sejak itu, sebagian besar toko tutup akibat hancur karena pertempuran. Tapi sebagian dibuka kembali bulan lalu. Pemilik toko perlahan mulai kembali untuk membenahi kerusakan yang terjadi.

 

 

Kisah Satu-satunya Toko yang Masih Bertahan di Pasar Suriah
(Foto: Youtube/Arab News)
2 dari 2 halaman

Membangun Kembali Tokonya Seorang Diri

Shawash, penduduk asli Khan Al-Harir, adalah salah satu dari mereka yang memutuskan untuk kembali.

" Saya dibesarkan di sini dan saya membuka tokonya dari jam 07.00 pagi sampai larut malam. Saya kenal semua orang di sekitar saya," katanya.

" Jalan-jalan penuh dengan orang yang lewat, warung, restoran, dan orang-orang yang menjual pakaian, karpet serta perabotan. Tapi sekarang tidak ada siapa-siapa."

Ketika dia kembali awal tahun ini untuk memeriksa tokonya, Shawash mendapati tembok tokonya runtuh, barangnya hilang dan terbakar serta jalanan kosong.

" Ini bukan hanya tentang kehilangan uang atau modal. Saya kehilangan tetangga saya, saya kehilangan teman-teman saya, saya kehilangan diri saya sendiri."

Selama seminggu, Shawash menumpuk bata, semen, dan batu di gerobak kecil lalu memperbaiki tokonya sendirian.

" Saya benar-benar kelelahan karena jalanannya sempit dan ada bekas puing dimana-mana, yang berarti mobil tidak bisa melewatinya," katanya.

Sejak itu, dia pun memulai ritual hariannya. Meletakkan taplak meja dan tikar plastik warna-warni untuk dipajang. Shawash kemudian duduk di kursi plastik dan menunggu pelanggan sembari memegang tasbih di tangan. Namun berjam-jam tak ada satu pun pembeli yang datang. Jadi, dia mengemasi barangnya, mengunci pintu toko, lalu pulang ke rumah.

" Aleppo adalah simbol peradaban," katanya. " Saya bangga menjadi orang pertama yang membuka kembali toko saya di souk ini, tapi saya berharap kehidupan kembali ke pasar ini."

(Sumber: arabnews.com)

Join Dream.co.id