Ketika Banyak Orang di Rumah Saja, Kualitas Udara Bumi Terus Membaik

News-travel | Rabu, 15 April 2020 13:10

Reporter : Arini Saadah

Lockdown membuat kualitas udara menjadi lebih sehat dan bersih.

Dream – Ketika jutaan orang memarkir kendaraan mereka dan memilih untuk tinggal di rumah karena 'dipaksa' oleh virus corona, ternyata memberikan dampak positif bagi lingkungan. 

Ketika hari normal tanpa wabah, banyak orang beraktivitas dan mengakibatkan kualitas udara buruk. Polusi udara terjadi di mana-mana.

Asap kendaraan membuat lapisan ozon semakin menipis. Cerobong asap pabrik-pabrik besar membuat udara semakin kotor.

Tetap sejak banyak negara mewajibkan warganya tetap berada di rumah selama beberapa waktu, kota-kota di seluruh dunia melaporkan kualitas udaranya semakin membaik.

Dikutip dari Lonely Planet, Inggris, Korea Selatan, China, dan Italia menjadi sebagian negara yang melaporkan kualitas udara di sana semakin baik. Polusi udara pun turun secara signifikan.

Ketika Banyak Orang di Rumah Saja, Kualitas Udara Bumi Terus Membaik
Ilustrasi Kota London, Inggris (Foto: Shutterstock)
2 dari 3 halaman

Polusi Udara Menurun 60 Persen

Di Inggris, kualitas udara telah meningkat secara eksponensial. Tingkat nitrogen dioksida (NO2) turun 60 persen di beberapa tempat selama periode yang sama dibandingkan tahun lalu. Polusi udara di kota-kota seperti London dan Glasgow turun setengahnya.

Penurunan polusi partikel kecil telah terlihat turun secara besar di London, Birmingham, Bristol dan Cardiff. Lalu diikuti oleh Manchester, New York, dan Belfast. Sementara di Glasgow dan Newcastle tidak memiliki dampak apapun.

Para ilmuwan meyakini level-level itu akan turun lebih jauh ketika angin berubah arah. Karena angin timur saat ini akan membawa tambahan polusi dari benua Eropa ke Inggris.

James Lee dari New York University mengatakan udara jelas jauh lebih sehat. Partikel kecil dan NO2 adalah polutan udara yang memiliki dampak kesehatan terbesar pada manusia. Ketika polutan itu menurun, maka kualitas udara jauh lebih sehat.

Sementara itu, di California, Los Angeles akhir-akhir ini baru memiliki kualitas udara bersih sejak 1980.

Sementara para penduduk menyatakan dapat melihat gunung Himalaya yang berada di India bagian Utara bisa terlihat untuk pertama kalinya setelah 30 tahun. Padahal jaraknya 200 km dari LA.

3 dari 3 halaman

Aktivis Lingkungan Berharap Masa Depan Bumi yang Lebih Sehat

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa polusi udara menjadi salah satu faktor yang diduga meningkatkan kasus kematian Covid-19. Para peneliti dari Harvard University menyoroti hubungan antara menghirup udara tercemar dalam jangka panjang dengan potensi tertular virus.

Para peneliti menyimpulkan hasilnya menunjukkan paparan jangka panjang terhadap polusi udara meningkatkan kerentanan seseorang untuk terinfeksi Covid-19 yang lebih parah.

Menurut Lee, apabila banyak orang tetap di rumah dan bekerja lebih banyak dari rumah di saat hari-hari normal, maka itu akan berdampak baik pada kualitas udara. Juga berperan besar mengurangi polusi udara.

Beberapa aktivis lingkungan berharap penurunan polusi udara ini berlangsung permanen.

Juru Kampanye Udara Bersih Friends of the Earth Jenny Bates mengatakan, setelah situasi wabah virus corona ini selesai, diharapkan masyarakat dunia tidak serta merta langsung beraktivitas seperti biasa.

Biarkan kondisi udara yang seperti ini permanen, sehingga kita bisa memiliki masa depan bumi yang lebih baik, lebih sehat dan lebih bersih.

Join Dream.co.id