Jangan Takut Naik Pesawat, Alasannya...

News-travel | Jumat, 2 November 2018 10:19

Reporter : Mutia Nugraheni

Moda transportasi udara jauh lebih aman ketimbang jenis kendaraan lainnya.

Dream - Berita kecelakaan pesawat seperti jatuhnya Lion Air JT610 membuat banyak orang jadi merasa takut. Kondisi pesawat dan korban semakin memunculkan kekhawatiran saat harus melakukan perjalanan udara.

Anda mengalaminya? Sangat wajar. Untuk kembali memunculkan ketenangan, penting diketahui kalau moda transportasi udara jauh lebih aman ketimbang jenis kendaraan lainnya.

Menurut seorang terapis psikologi kenamaan asal Inggris, Christopher Paul Jones, ada sejumlah pemicu mengapa seseorang takut terbang. Jones menjelaskan bahwa kemungkinan mengalami kecelakaan ketika terbang adalah 1 dibanding 11.000.000 kejadian.

Perbandingan tersebut jauh lebih kecil dari peluang kecelakaan mobil, yakni 1 dibanding 200, menurut versi Lembaga Kesehatan Dunia (WHO). Fakta tersebut mungkin akan membuat seseorang mengubah perspektif tentang perjalanan udara.

" Ketakutan naik pesawat atau aerofobia muncul akibat adanya pengaruh dari media massa. Sebuah kecelakaan pesawat yang menewaskan seluruh penumpang di dalamnya, termasuk para kru, bisa menjadi berita utama (headline). Tak hanya sehari. Tapi berhari-hari," ungkapnya.

Hal tersebut dikarenakan insiden semacam itu sangat jarang terjadi. Misalnya, jatuhnya Lion Air JT 610 di Tanjung Karawang pada 29 Oktober, yang disorot oleh media lokal dan mancanegara.

Kasus lainnya, kematian satu orang penumpang pesawat maskapai Southwest Airlines dengan nomer penerbangan 1380, yang melaju dari New York ke Dallas, Texas, pada 17 April 2018.

Burung besi yang membawa 144 penumpang dan 5 anggota awak itu mengalami kegagalan mesin, sehingga terpaksa melakukan pendaratan darurat di Philadelphia.

" Ada 100.000 penerbangan per hari. Bayangkan jika dibandingkan dengan berapa banyak kecelakaan yang terjadi di jalanan, masih banyak di darat ketimbang di udara," jelas Jones.

Jangan Takut Naik Pesawat, Alasannya...
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
2 dari 2 halaman

Mitos Perjalanan dengan Pesawat

Sementara itu, seorang sejarawan dan novelis Amerika, Noah Charney, juga turut mengeksplorasi mitos dan realitas seputar perjalanan udara, kengerian ketika membayangkan berada di ketinggian tertentu, dan sains di balik ketakutan irasional seseorang.

 Misteri 3 Pesawat Boeing Tak Bertuan di Bandara
© MEN

" Adrenalin adalah musuh bebuyutan saya, tapi saya tidak pernah takut terbang. Mungkin agak sedikit aneh, mengingat kekhawatiran saya terhadap apapun yang memicu adrenalin," ungkap pria bergelar Doktor itu, seperti dilansir dari situs Adventure.com.

Menurut Noah, perbandingan kemungkinan seseorang meninggal dalam kecelakaan transportasi darat di Amerika Serikat, misalnya, adalah 1 dibanding 6.800.

" Sedangkan kemungkinan tewas dalam kecelakaan pesawat? Lebih kecil, 1 dibanding 13 juta. Namun fakta ini masih saja tidak dapat menghentikan pikiran negatif mereka yang mengalami aerofobia. Saat hendak memesan tiket pesawat, ia harus berpikir dua kali. Namun ketika mengendarai mobil untuk bepergian jarak jauh, tak pernah terbesit sedikit pun angka tersebut," Noah menjabarkan.

Di Amerika Serikat, ada 0,07 korban jiwa per miliar mil penumpang pesawat terbang. Bila dianalogikan: Jika Anda terbang 500 mil setiap hari selama setahun, Anda memiliki risiko kematian 1 dibanding 85.000.

" Singkatnya, terbang sejauh ini adalah moda transit teraman," ungkap Jones.

Sumber: Afra Augesti/ Liputan6.com

Join Dream.co.id