Pulau Terbersih di Jepang, Traveler Wajib Bawa Kembali Kotoran

Destination | Senin, 8 Maret 2021 11:10

Reporter : Ahmad Baiquni

Kotoran buang air besar dapat membawa dampak buruk pada kelestarian pulau ini.

Dream - Tempat liburan dengan pepohonan kelapa, hutan bakau lebat, gemuruh suara ombak, kicauan burung dan serangga tropis, kolam batu kristal beserta gumpalan air terjun bisa kamu temukan di Pulau Iriomote, Jepang. Ditambah, pulau ini adalah rumah dari Air Terjun Pinaisara, air terjun tertinggi di Okinawa.

Pulau seluas 110 mil persegi berada di ujung selatan Jepang –lebih dekat ke Taiwan daripada Tokyo– terputus dari daratan sejauh 650 mil lautan, diperindah dua kali lipat oleh adanya hutan berbukti dan labirin sungai.

Sayangnya, pada surga ini pengunjung yang membutuhkan kamar kecil akan sulit menemukan toilet. Kamu menempuh waktu selama 45 menit dengan kayak dayung dan 50 menit dengan jalan kaki untuk menemukan toilet terdekat.

Susahnya dan sedikitnya toilet pada pulau ini akan membahayakan lingkungan bila pengunjung yang datang semakin banyak. Dengan populasi penduduk sebanyak 2.500 orang bila ditambah setidaknya 400 ribu pengunjung saja akan memperburuk keadaan hutan hujan tropis ini, apalagi bila nantinya pulau ini sudah menjadi situs warisan dunia dan pandemi telah usai.

Sementara pejalan kaki, orang berkemah, dan turis yang semakin banyak datang akan melakukan kegiatan buang air besar pada permukaan dekat Air Terjun Pinaisara dikarenakan penuhnya kapasitas jamban yang ada. Hal ini akan merusak lingkungan pulau tersebut.

" Ketika kamu datang bersamaan banyak orang, kamu akan sering mengangkat batu yang sama untuk dibuang di bawahnya. Kemudian mereka mulai buang air besar di permukaan, dan saat hujan, kamu akan mencuci kotoran dan patogen manusia ke dalam air," ujar Geoff Hill pakar pengelolaan limbah manusia dan pendiri ToiletTech.

" Ini akan menurunkan kualitas situs, dan membuatnya lebih mudah rusak di bagian hilir," tambahnya.

 

Pulau Terbersih di Jepang, Traveler Wajib Bawa Kembali Kotoran
Pulau Iriomote (Shutterstock.com)
2 dari 4 halaman

Kotoran Manusia Bisa Merusak Lingkungan

Dilansir dari Atlas Obscura, tentu saja kotoran hewan di hutan juga banyak, tetapi kotoran manusia bisa lebih merusak lingkungan.

" Bakteri terkadang dapat membuat lebih dari setengah dari total padatan dalam kotoran manusia," tutur Daniel Evans seorang ilmuwan tanah di Universitas Cranfield.

Saat kotoran dibiarkan membusuk di iklim subtropis yang lembab, kotoran akan melepaskan patogen berbahaya, bakteri, dan bahkan kemungkinan antibiotik ke dalam tanah, dan limbah buang air kecil dapat merusak ekosistem.

“ Kami memiliki kebiasaan buang air kecil dan buang air besar di toilet, saat air seni dan kotoran bercampur, pada dasarnya akan memproduksi amonia, dan itu membunuh semua mikroba yang seharusnya berurusan dengan kotoran," jelas Hill.

Oleh karenanya dibutuhkan solusi untuk melestarikan flora dan fauna Irimote yang tercancam punah serta reputasinya sebagai tempat yang belum terjamah.

Salah seorang pemandu wisata, Cue Ryusuke Matsushita yang kerap dipanggil ‘Ma-chan’ datang ke Iriomote hampir dua dekade lalu, jatuh cinta dengan lingkungan sekitarnya dan memutuskan untuk tinggal di sana.

Ma-chan telah bertindak sebagai pelindung lingkungan Irimote sejak saat itu, sebagai anggota asosiasi Kano Irimote, ia juga bekerja sama dengan penjaga taman setempat untuk memperbaiki masalah yang ada tersebut.

Tumpukan kotoran dan limbah pembuangan air kecil ini tidak hanya terjadi di Irimote, taman terpencil di Jepang, Islandia, Amerika, dan tempat lain serta kotoran yang ditinggalkan para pendaki misalnya di Everest, juga berjuang untuk memecahkan masalah ini.

3 dari 4 halaman

Solusi Terbaik

Cara terbaik yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan membawa kotoran tersebut saat kembali. Namun, akan sulit untuk melakukan itu, jadi Irimote memberikan solusi lebih sederhana dengan membuat toilet tenda

Tim pembuat toilet tenda ini mendapatkan dana dari Kementertian Lingkungan Hidup dan menghubungi perusahaan kebersihan yang memproduksi dudukan toilet, kantong sampah, daan bilik nilon. Yang awalnya cara ini dirancang untuk para pendaki tetapi ternyata dapat juga berguna secara praktis untuk hutan hujan tropis Irimote.

Toilet darurat ini dipasang pertama kali di Air Terjun Pinaisara pada Juli 2019 untuk uji coba dua bulan, dan masih ada hingga sekarang.

Saat tiba, nantinya pengunjung akan menerima penduan secara singkat mengenai segala hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam perjalanan wisatanya.

“ Sebagian besar pengunjung Pinaisara mengikuti tur berpemandu, jadi pemandu menjelaskan cara menggunakannya dan memberi mereka kantong sampanh,” tutur Ma-chan.

Saat pengunjung melakukan buang air besar, kotoran akan ditampung pada plastik yang telah di berikan, kegiatannya akan dilakukan di dalam tenda toilet yang telah disiapkan. Setelah kotoran keluar dan ditampung dalam plastik, nantinya plastik akan diikat dan dibawa hingga akhir tur, lalu dibuang ke tempat sampah yang telah disiapkan. Akhirnya, penjaga akan mengumpulkan plastik-plastik tersebut dan dakan dibakar.

“ Sejak toilet itu dipasang, saya menyadari lingkungan di sekitar air terjun Pinaisara menjadi lebih baik, dan ini lebih baik daripada melakukannya di semak-semak hutan” tutur Ma-chan.

 

4 dari 4 halaman

Toilet Tenda

Kotoran, bau tak sedap dan tisu toilet bekas hilang. Survei umpan balik dari pengunjung juga mengungkapkan bahwa mereka sebagian besar senang karena risiko kontaminasi tanah dan air berkurang dan lebih sedikit kotoran di permukaan Irimote yang mungkin saja dapat terinjak saat diperjalanan.

Namun tidak mengherankan jika ada keluhan juga. Beberapa wisatawan menyatakan bahwa mereka tidak ingin membawa plastik bekas sampai penghujung hari. Plastik bekas yang nantinya di bakar juga dapat menghasilkan CO2 dan limbah plastik yang mungkin saja berbahaya.

“ Meskipun pembakaran benar-benar menghilangkan patogen, sambil mempertahankan beberapa nutrisi penting tanah seperti fosfor dan kalium dalam abu, manfaat ini lebih besar daripada emisi karbondioksida yang dihasilkan dari pembakaran,” tutur Evans.

“ Dengan pembakaran, baru saja menghasilkan CO2 dari sesuatu yang mungkin akan menjadi tanah atau bahan organik,” tambah Hill.

Selain itu, membersihkan toilet dan mengosongkan kotak pengumpulan sampah tentunya membutuhkan SDM yang lebih, tapi tidak dimiliki Irimote. Hanya sekitar 25 orang yang bekerja di taman nasional Irimote dan sebagian besar sukarelawan atu magang dari Universitas di daratan Jepang.

Buruknya lagi, pembuangan sampah telah mencapai kapasitas maksimumnya. Ma-chan khawatir peningkatan wisatawan bersamaan dengan buang air besar mereka akan mendorong infrastruktur pulau melewati titik puncaknya.

Biaya yang dibutuhkan cukup mahal untuk setiap kantornya dibutuhkan US$5,50 setara dengan Rp77 ribu, belum lagi biaya pembakaran kotoran tersebut, sehingga staf taman setempat sedang mempertimbangkan adanya biaya masuk bagi para wisatawan yang hendak liburan.

Solusi lain sedang dieksplorasi, misalnya toilet pengomposan tanpa air dipasang di tempat parkir mobil akir tahun lalu. Meskipun itu membantu mengurangi tekanan pada toilet portabel dan lebih ramah lingkungan daripada palstik yang dibakar, jamban tanpa air memiliki kekurangan, termasuk risiko banjir saat badai.

Sementara itu, Ma-chan yakin tiga tenda toilet akan segara diluncurkan di seluruh Irimote, jadi pengunjung tidak perlu takut akan keinginan untuk membuang air besar atau kecil saat berada di lokasi.

Laporan: Josephine Widya

Join Dream.co.id