Permata Tersembunyi, Geylang Siap Menyambut dengan Sejarah dan Kulinernya

Destination | Kamis, 29 Juli 2021 20:19

Reporter : Ahmad Baiquni

Geylang harus didatangi ketika sedang berlibur ke Singapura.

Dream – Salah satu distrik di Singapura, Geylang punya banyak pesona untuk ditawarkan daripada kehidupan malam. Terletak di timur Sungai Singapura, lingkungan ini sering disalahpahami.

Menurut Cai Yinzhou pendiri Citizen Adventures, ada daya tarik tertentu di area ini karena diselimuti awan bahaya dan misteri. Pria 31 tahun itu mengatakan Geylang tidak aman kembali ketika dia tumbuh dewasa.

Ia teringat akan kejadian di mana harus pergi membantu saudara perempuannya atau menemani mereka pulang dari stasiun kereta jika pulang terlambat. Tapi, semua telah berubah.

Dari inisiatif sosial yang membantu pekerja migran dan ‘museum hidup’ yang melestarikan masa lalu Singapura, sampai kedai rujak milik selebriti yang memadukan makanan enak dengan sedikit kegembiraan, itulah wajah Geylang yang penuh kehidupan.

 

Permata Tersembunyi, Geylang Siap Menyambut dengan Sejarah dan Kulinernya
Geylang (Shutterstock.com)
2 dari 6 halaman

Gang Tukang Cukur

Didirikan oleh Yinzhou seorang agen perjalanan yang ingin membantu pekerja migran potong rambut.

" Banyak orang yang salah paham, seperti pekerja migran, pekerja seks, dan mereka yang terpinggirkan di masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan orang-orang ingin tahu tentang kehidupan mereka, tapi tidak ada kesempatan untuk berinteraksi atau memahaminya. Cerita tentang bagaimana dulu dia bermain bulu tangkis dengan sekelompok pekerja migran di belakang rumah, misalnya.

Ketika ia mengetahui salah satu pekerja tidak mampu bayar potong rambut karena tagihan media ayahnya meningkat, Yinzhou memutuskan untuk belajar cara memotong rambut lewat tutorial YouTube.

Inilah yang memulai Gang Tukang Cukur, di lorong 24A dekat rumah Yinzhou pada tahun 2014. Dengan kursi dan gunting, ia dan timnya segera menawarkan potong rambut kepada mereka yang membutuhkan – mulai dari kolektor kardus hingga pekerja migran.

Beberapa inisiatif lain seperti bantuan hukum dan medis mungkin tertunda karena pandemi tetapi ia dan timnya yang terdiri dari 80 sukarelawan terus menawarkan layanan perawatan. Baik kepada pekerja migran di asrama atau di mana pun jika butuh.

 

3 dari 6 halaman

Toko Budaya yang Melangkah ke Masa Lalu

Toko budaya Cina Eng Tiang Huat terpampang di Geylang Lorong 24A. Ketika masuk ke toko, kamu akan disambut oleh anjing putih ramah bernama Hugo dan pemiliknya Jeffrey Eng.

Toko ini dibangun oleh kakek Jeffrey untuk menjual barang-barang yang digunakan dalam opera Tiongkok – dikenal dengan wayang. Meski mulai sepi pelanggan, ia bertekad untuk mempertahankan toko dan nama kakeknya agar tetap hidup.

Menurutnya menjaga toko seperti ini penting untuk melestarikan sejarah Singapura. Dia juga ingin menghilangkan stigma Geylang sebagai kawasan prostitusi premium.

Saat ini pengunjung tokonya merupakan kelompok penyuka seni dan budaya, peneliti, mahasiswa, professor, fotografer, dan videografer. Bahkan ada turis yang ke Singapura untuk mengunjungi tokonya.

" Perasaan menjadi bahagia ketika orang datang – beli atau tidak – tetapi kita menemukan sesuatu. Tidak melalui produk saya, tetapi bahkan dokumen lama," katanya.

 

4 dari 6 halaman

Pasar Geylang Serai: Wajah Baru, Semangat Pedesaan

Serai adalah kata Melayu untuk lemongrass (sereh). Aroma ini pernah ada di mana-mana pada tahun 1840-an karena menjadi tanaman komersial bagi orang Melayu yang menetap di sana.

Sebuah pabrik serai bernama Kilang Serai akhirnya memunculkan nama Geylang Serai, menurut Roots.gov.sg.

Ketika kamu menerjang pasar ini, beberapa pemilik kios akan menonjol karena masih muda. Tampaknya generasi baru sedang bersiap mengambil alih bisnis orang tua mereka di pasar.

Seperti Alfred Goh, pria berusia 32 tahun yang sekarang membantu di pasar sambil menjadi pelatih debat.

Berjualan makanan laut, ia bercerita pandemi Covid-19 membuat makanan laut segar dibuang setiap harinya selama lockdown karena tidak ada yang beli.

Ia mengatakan sangat rugi dan merasa tidak enak karena membuang makanan. Akhirnya ia mengunggah foto di Facebook dan mengatakan situasi sebenarnya.

Ia juga menawarkan ke teman-temannya jika ada yang ingin kerang, ia bisa mengaturnya. Postingan tersebut viral dan ia mendapatkan ratusan pesanan.

Alfred mengungkapkan pasar offline tetap istimewa ditengah hadirnya Guang’s Fresh Market online. Orang-orang yang ramah dan rasa solidaritas yang nyata membuat pasar ini seperti rumah bagi Alfred.

 

5 dari 6 halaman

Rujak yang Enak dan Menyenangkan

Celebriti’s Corner adalah kedai rujak yang dijalankan oleh comedian, penyanyi, dan aktor Singapura Roslan Shah.

Berada di restoran kecil bernama Al-Nour Kitchen persimpangan Lorong 101 Changi dan Jalan Changi, kamu akan melihat Roslan meneriakkan pesanan rujaknya dan menghibur pelanggan dengan lelucon.

Dikenal sebagai Cik Lan, ia kembali ke Singapura dari Malaysia sesaat sebelum ibunya meninggal pada Desember 2019. Adanya penutupan perbatasan akibat pandemi, membuat ia merasa sulit kembali ke Malaysia.

Karena terjebak di Singapura, pria berusia 50 tahun ini banting setir dari sektor hiburan ke sektor kuliner. “ Kita tidak bisa terus-menerus meminta uang dari pemerintah. Kami harus bekerja untuk mencari uang sendiri,” katanya.

Berbekal resep rujak mendiang ibunya, ia mendirikan Celebriti’s Corner dibantu selebriti lokal lainnya Alias Kadir. Meski hanya memiliki tiga menu, kedai ini bisa menarik banyak pelanggan.

" Kalau kamu sangat sedih di rumah, sangat stres, datang ke sini. Aku bisa membuatmu bahagia," katanya.

 

6 dari 6 halaman

Dim Sum dan Durian: Kuliner Malam Terfavorit

Pada jam 11 malam sebagian besar tempat makan di Singapura akan tutup. Namun, tidak di Geylang.

Restoran Tasvee di jalan Geylang, sering direkomendasikan oleh warga setempat. Menyajikan makanan India dan tetap buka sepanjang malam, mereka menyediakan mie goreng dan roti prata.

Di sepanjang jalan yang sama terdapat Eminent Frog Porridge, makanan populer yang sering ditemui di lingkungan ini. Menjual banyak hidangan, pelanggan paling sering terlihat memesan kaki katak dengan bubur yang tertuang dalam pot tanah.

Dim Sum Wen Dao Shi di Sims Avenue 126 juga menjadi tempat makan yang wajib dikunjungi jika ke Geylang. Bahkan pada pukul 1 dini hari, pelanggan rela mengantri di ruang sempit demi mendapatkan dim sum seperti siew maid an har gao, hingga char siew bao.

Namun belum lengkap jika kamu tidak mencicipi durian di sepanjang jalan Sims Avenue. Setidaknya lima kios bisa kamu temukan, untuk mencoba durian yang bervariasi mulai dari red prawn hingga D24.

“ Saya rasa pesona Geylang adalah orang selalu melihat dari satu sudut pandang. Tetapi ketika kamu melihat lebih dalam, ada banyak hal yang bisa digambarkan,” tutup Yinzhou, dikutip dari Channel News Asia.

Laporan: Elyzabeth Yulivia

Join Dream.co.id