Menyusuri Jejak Sejarah Islam di Lamongan

Destination | Selasa, 8 Oktober 2019 11:11

Reporter : Siwi Nur Wakhidah

Lamongan, kota pesisir ini menyimpan banyak peninggalan Islam.

Dream - Penyebaran Islam di Tanah Jawa meninggalkan banyak sekali jejak sejarah. Jejak tersebut dapat ditemukan di sejumlah kota, salah satunya di Lamongan, Jawa Timur. 

Tersebarnya Islam kerap diidentikan dengan sembilan orang ulama yang dikenal dengan Wali Songo. Tetapi, peninggalan Islam di Lamongan ternyata memiliki usia lebih tua dibandingkan era Walisongo.

Pemerhati budaya, Supriyo, mengatakan jejak Islam di Lamongan lebih tua dibandingkan di Gresik yang ditandai dengan Makam Fatimah binti Maimun yang terkenal. Di Lamongan, terdapat kompleks Makam Mbah Mbarang dan Makam Hisyamudin yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-10 atau 11.

Selain dua kompleks makam itu, masih ada beberapa makam lain yang diperkirakan berusia lebih tua. Tetapi, temuan makam kuno ini membutuhkan penelitian lebih mendalam untuk memastikan jejak Islam di Lamongan.

Jejak-jejak sejarah Islam tersebut cukup penting untuk mengetahui penyebaran Islam di Jawa, khususnya Jawa Timur. Sahabat Dream yang penasaran dengan cerita sejarah penyebaran Islam ini bisa mengunjungi beberapa tempat wisata religius di Lamongan, seperti lima tempat ini.

Menyusuri Jejak Sejarah Islam di Lamongan
Sumber: Shutterstock
2 dari 6 halaman

Makam Sunan Drajat

Liburan tidak harus melulu ke pantai atau taman bermain. Bisa juga dengan berkunjung ke tempat-tempat religius yang menyimpan cerita sejarah.

Lamongan terkenal dengan wisata baharinya yang mempesona. Di balik itu, Lamongan juga menyimpan cerita sejarah penyebaran Islam, salah satunya cerita tentang Sunan Drajat.

 Wisata Religi Lamongan
© https://www.wisatajatim.info/makam-sunan-drajat/

Sunan Drajat merupakan satu dari sembilan wali yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Sunan Drajat dimakamkan di Desa Drajat, Paciran, Lamongan. Dalam menyebarkan Islam, Sunan Drajat punya metode sendiri yaitu lewat kebudayaan.

Ada tujuh filosofi yang digunakan Sunan Drajat dalam menyebarkan Islam. Tujuh filosofi tersebut bisa dijumpai ketika berkunjung ke Makam Sunan Drajat, tepatnya di tingkatan anak tangganya.

Sahabat Dream yang ingin berziarah sambil belajar tentang sejarah penyebaran Islam di Lamongan, bisa datang ke Makam Sunan Drajat yang dibuka 24 jam.

Banyak peziarah dan wisatawan datang ke kompleks makam ini, ada yang datang untuk mendoakan, ada juga yang datang untuk belajar mengenai sejarah perjuangan Sunan Drajat dalam menyebarkan Islam dulu.

3 dari 6 halaman

Makam Sunan Sendang Duwur

Selain Sunan Drajat, masih banyak tokoh bergelar sunan yang ikut berperan dalam penyebaran Islam di Lamongan. Salah satunya Sunan Sendang Duwur.

Nama Sendang Duwur ini diberikan oleh Sunan Drajat. Sedangkan nama asli Sunan Sendang Duwur ialah Raden Noe Rahman, putra Abdul Kohar bin Malik dari Baghdad.

 Wisata Religi Lamongan
© https://www.eastjava.com/east-java/tourism/lamongan/ina/sendang-duwur.html

Sunan Sendang Duwur cukup penting dalam penyebaran Islam di Lamongan, salah satu perannya yang terkenal ialah memindahkan masjid dalam semalam dari Mantingan ke Bukit Amitunon, kini masjid itu dikenal sebagai Masjid Sendang Duwur, terletak tak jauh dari makam Sunan Sendang Duwur.

Bangunan Makam Sunan Sendang Duwur berada di atas Bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran. Bangunannya sangat unik, perpaduan arsitektur Islam dan Hindu, terdiri dari gapura depan yang mirip Tugu Bentar, dan bagian dalamnya berbentuk paduraksa.

Penasaran dengan bangunan makam ini? Sahabat Dream bisa langsung berkunjung ke Desa Sendang Duwur, aksesnya cukup mudah walau berada di atas bukit.

4 dari 6 halaman

Museum Sunan Drajat

Sunan Drajat adalah tokoh penting dalam penyebaran Islam. Untuk menghormati sosok dan perjuangannya dalam menyebarkan ajaran Islam, dibangun sebuah museum khusus yang menyimpan peninggalan Sunan Drajat. 

 Wisata Religi Lamongan
© https://situsbudaya.id/museum-khusus-sunan-drajat/

Museum Sunan Drajat berlokasi di Jalan Sumberwudi, Paciran, ini berdiri di atas tanah seluas 4 hektar dan didirikan tahun 1991. Ada banyak koleksi, mulai dari barang-barang perunggu, keramik, kayu jati, batu besi, kuningan, bambu, logam, buku dan masih banyak lagi.

Ada tiga benda peninggalan Sunan Drajat yang terkenal, yaitu Gamelan Singo Mengkok, Batik Drajat, dan Daun Lontar bertuliskan Surat Yusuf.

Semua peninggalan tersebut bisa dilihat pengunjung di dalam museum satu lantai ini. Selain diisi dengan peninggalan Sunan Drajat, fasilitas museum cukup baik. Sudah ada area parkir yang luas, toilet umum yang terjaga, hingga rumah makan di sekitar area museum.

5 dari 6 halaman

Makam Dewi Sekardadu

Selain sosok para sunan yang berperan dalam penyebaran ajaran Islam, di Lamongan ada sosok wanita yang punya peran cukup penting. Ialah Dewi Sekardadu, ibu kandung Sunan Giri, tokoh Walisongo yang bertugas menyebarkan ajaran Islam di Gresik, Jawa Timur.

Makam Dewi Sekardadu ini memang tidak cukup dikenal karena Sunan Giri sendiri dimakamkan di Gresik. Kompleks makamnya juga sangat sederhana, luas bangunannya sekitar 64 meter dengan bangunan joglo bercat putih dan keramik warna serupa.

 Wisata Religi Lamongan
© https://lamongantourism.com/makam-dewi-sekardadu/

Meski tidak setenar anaknya, Dewi Sekardadu punya cerita tersendiri. Nama aslinya Dewi Atikah, anak dari Raja Minak Sembuyu, Penguasa Blambangan.

Dewi Sekardadu dipersunting Syekh Maulana Ishaq dan melahirkan putra, Raden Paku (nama kecil Sunan Giri).

Sahabat Dream yang ingin berkunjung ke makam ini bisa datang ke alamat Desa Gondang, Kecamatan Sugio, Lamongan. Bisa sekadar berziarah dan mendoakan, atau bisa juga mendengarkan cerita dari juru kunci pengelola makam.

6 dari 6 halaman

Masjid Agung Lamongan

Wisata religi terasa kurang kalau belum mengunjungi masjid agungnya. Begitu pula ketika berwisata religi ke Lamongan.

Masjid Agung Lamongan punya cerita sejarah yang tak kalah menarik dengan makam peninggalan tokoh-tokoh Islam terdahulu.

 Wisata Religi Lamongan
© https://situsbudaya.id/masjid-agung-lamongan/

Masjid ini sudah dibangun sejak 1908 dan memiliki arsitektur gaya Jawa dipadukan dengan corak Islam. Bangunan masjid yang sekarang sedikit berbeda dengan bangunan asli masjid yang dulu namun secara keseluruhan tidak mengubah bentuk dan bagian-bagian di dalamnya.

Keunikan masjid ini terletak pada model arsitekturnya. Masjid Jati dengan halaman bergapura China, dua genuk (tempat air) dan dua batu pasujudan. Ciri khas ini dikaitkan dengan sejarah Kedaton Giri tahun 1569, yang diduga ada keterkaitan di antara keduanya.

Dirangkum dari berbagai sumber

Join Dream.co.id