Jeddah, Kota Kuno Yang Ramah Pada Semua

Destination | Selasa, 20 Juli 2021 13:10

Reporter : Ahmad Baiquni

Jeddah merupakan gerbang masuk yang terkenal keramahannya.

Dream - Jeddah adalah kota yang tidak asing lagi di telinga umat Islam. Selain tempat transit untuk jemaah haji, Jeddah juga merupakan pintu gerbang masuk Saudi.

Sejak dulu, penduduk kota ini terkenal sikap mereka dalam memuliakan tamunya. Kebiasaan itu masih kental hingga saat ini.

Kerajaan Arab Saudi, bekerja keras untuk memfasilitasi pergerakan, akomodasi dan kenyamanan para peziarah dalam perjalanan mereka untuk ke Mekah dan Madinah

Pada 674, Khalifah Utsman bin Affan, seorang sahabat Nabi, menetapkan kota itu sebagai pintu gerbang bagi para jemaah haji dan umroh yang bepergian ke Mekah dan Madinah.

Kota ini terletak di tengah-tengah gerbang dua Kota Suci, Mekah dan Madinah. Jarak Mekah 40 mil di sebelah timur dan Madinah, 220 mil ke utara.

Jeddah menyediakan makanan dan penginapan bagi umat Islam dari seluruh penjuru bumi yang sedang dalam perjalanan mereka untuk melakukan ziarah suci. Tetapi kota ini menawarkan lebih dari sekadar tempat tinggal dan makanan.

Peziarah secara tradisional disambut dengan keramahan, solidaritas, dan persahabatan yang sangat menyentuh, tradisi yang membanggakan di antara warga Jeddah yang berlanjut hingga hari ini.

 

Jeddah, Kota Kuno Yang Ramah Pada Semua
Jeddah (Shutterstock.com)
2 dari 3 halaman

Tradisi Masyarakat

Mereka menyadari bahwa perjalanan ke sana tidaklah mudah, maka dari itu mereka selalu bersifat terbuka, agar peziarah merasa aman dan nyaman.

Masyarakat Madinah sering disebut sebagai " Muzawarin" , berasal dari kata Arab " ziarah," yang artinya " mengunjungi" . Hal itu menunjukkan kewajiban dari leluhurnya untuk membawa peziarah mengunjungi masjid dan makam Nabi.

Sedangkan Masyarakat di Mekah sering disebut " Mutawifin," yang berasal dari kata " tawaf," salah satu ibadah yang dilakukan selama haji dan umrah. Maka dari itu mereka wajib membimbing.

Lalu masyarakat Jeddah dikenal sebagai “ Wukala”, sebutan yang diberikan karena masyarakat Jeddah sering membantu peziarah yang sudah melaut untuk menuju penginapan.

Ahmed Badeeb, seorang sejarawan lokal dan penduduk lama kota tua bersejarah Jeddah, mengatakan bahwa ikatan khusus antara penduduk kota dan peziarah yang berkunjung tidak hanya membentuk geografi perkotaan tetapi seluruh cara hidupnya. Karena di Jeddah tidak ada hotel, maka penduduk asli akan menyediakan tempat tinggal bagi peziarah.

“ Penduduk asli kota Jeddah akan menyediakan penginapan bagi peziarah di rumah mereka sendiri. Peziarah akan merasa seperti bertamu di rumah kerabat mereka karena serasa mempunyai hubungan kekeluargaan

 

3 dari 3 halaman

Kebiasaan Masyarakat Jeddah

Pemilik rumah biasanya akan tidur di mabit, tempat tidur yang ditunjuk terletak di atap rumah, dan menyediakan penginapan bagi para peziarah di megad (ruang duduk) di lantai dasar.

Hal itu membawa keuntungan untuk masyarakat lokal. Selain meningkatkan perekonomian dan pembangunan kota. Masyarakat lokal mendapat kenalan baru yang akan tetap berkomunikasi dalam jangka waktu yang panjang.

Namun selama bertahun-tahun, jumlah peziarah terus bertambah, semakin sulit untuk menemukan penginapan. Untuk memastikan semua orang ditempatkan dan dirawat dengan aman, pihak berwenang Saudi menyadari bahwa mereka harus membangun fasilitas khusus yang baru.

Pada tahun 1950 pendiri Kerajaan, Raja Abdul Aziz, memerintahkan sebuah " kota peziarah" untuk didirikan dekat dengan Pelabuhan Islam Jeddah, di mana sekitar 70 persen peziarah tiba di negara itu dalam perjalanan mereka untuk melakukan haji.

Pada tahun 1971, kota dalam satu kota ini memiliki 27 bangunan, termasuk klinik kesehatan, toko, masjid, dan fasilitas lainnya.

Meskipun saat ini warga Jeddah tidak lagi menjamu pengunjung seperti yang pernah dilakukan nenek moyangnya, mereka tetap memberikan salam hangat dan keramahan yang sama, dikutip dari Arab News.

Laporan : Delfina Rahmadhani

Join Dream.co.id