5 Destinasi Religius Yogyakarta yang Wajib Dikunjungi

Destination | Jumat, 21 Juni 2019 11:11

Reporter : Siwi Nur Wakhidah

Masih menjadi bagian dari kerajaan Mataram Islam, Jogja dikenal memiliki banyak tempat wisata religi yang menarik untuk dikunjungi. Seperti masjid dan makam berikut ini.

Dream - Yogyakarta memiliki cukup banyak situs sejarah yang berkaitan dengan Islam. Di kota ini berdiri Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat, kerajaan penerus Dinasti Mataram Islam. 

Yogyakarta memegang peranan penting tidak hanya bagi Indonesia. Tetapi juga terhadap dakwah Islam di Nusantara. Ajaran Islam bisa tersebar di Indonesia hingga saat ini salah satunya berkat sokongan Keraton.

Sangatlah tepat jika Yogyakarta menjadi destinasi wisata, khususnya bidang religi. Ada banyak sekali situs bersejarah yang kental dengan nuansa Islam. 

Sebut saja, Masjid Gede Kauman tempat para ulama Jawa berdakwah menyebarkan Islam. Atau Makam Raja-raja Mataram di Kotagede yang begitu kental dengan perpaduan Jawa dan Islam.

Seperti yang tercatat dalam sejarah, Yogyakarta adalah penerus dari Kerajaan Mataram Islam. Di masa pemerintahan Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (1613-1645), Kerajaan Mataram Islam memiliki wilayah kekuasaan terluas meliputi seluruh Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur.

Berikut tempat-tempat religius yang kerap menjadi destinasi wisata di Yogyakarta.

5 Destinasi Religius Yogyakarta yang Wajib Dikunjungi
Masjid Gede Kauman
2 dari 6 halaman

Masjid Gede Kauman

Masjid yang menjadi ikon Kota Yogyakarta ini terletak sisi barat Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta. Masjid ini dibangun sejak awal berdirinya keraton, tepatnya pada 29 Mei 1773 Masehi.

Berdirinya masjid ini atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Arsitektur bangunannya dibuat oleh Kiai Faqih Ibrahim Diponingrat dan Kiai Wiryokusumo.

 Masjid Gede Kauman
© Shutterstock


Tak jauh beda dengan masjid raya pada umumnya, Masjid Gede Kauman ini juga memiliki ruang utama atau ruang inti untuk sholat jemaah. Selain itu, masjid ini juga memiliki beberapa ruang seperti Pawestren, Yakihun, Blumbang, dan Serambi.

Sampai sekarang, masjid ini masih aktif digunakan untuk ibadah umat Islam. Selain itu, takmir masjid juga kerap mengadakan berbagai acara keagamaan dan sosial terlebih ketika Ramadan tiba. Bahkan saat Ramadan, pengunjung masjid ini bisa mencapai 600 orang, lho.

3 dari 6 halaman

Masjid Agung Kotagede

Masjid Agung Kotagede memiliki usia lebih tua dibandingkan Masjid Agung Kauman, bahkan tertua di seluruh Yogyakarta. Masjid ini berlokasi di selatan Pasar Kotagede, Jagalan, Banguntapan, Bantul.

Masjid ini dibangun pada tahun 1640 oleh Sultan Agung bersama dengan masyarakat setempat yang kala itu masih menganut Hindu dan Budha. Oleh sebab itu corak Hindu Budha terlihat jelas pada arsitektur masjid ini.

 Masjid Gede Kotagede
© https://situsbudaya.id/masjid-gedhe-mataram-yogyakarta/


Bentuk masjid ini cukup unik berbentuk limasan. Terdapat dua gapura depan berbentuk Paduraksa, bentuk bangunan khas Hindu dan Budha.

Selain keunikan arsitekturnya, di dalam masjid ini juga terdapat bedug yang berusia tua. Bedug tersebut merupakan hadiah dari Nyai Pringgit dan sampai saat ini masih bisa digunakan.

4 dari 6 halaman

Masjid Syuhada

Destinasi wisata religi di Yogyakarta berikutnya adalah Masjid Syuhada. Meski jauh lebih muda dibandingkan dua masjid sebelumnya, Masjid yang terletak di Kotabaru ini juga mengandung nilai sejarah.

Masjid ini dibangun pada 1950 dan selesai dua tahun kemudian. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia.

 Masjid Syuhada
© http://simas.kemenag.go.id/index.php/profil/masjid/500/#prettyPhoto

Istimewanya, masjid ini memiliki arsitektur yang menggabungkan beberapa gaya antara Eropa dan Arab. Identitas yang melekat kuat pada masjid ini adalah kubahnya yang menyerupai bentuk bawang sehingga disebut 'Kubah Bawang'.

Selain itu, masjid ini juga banyak mengandung unsur-unsur nasionalis. Contohnya, anak tangga depan yang berjumlah 17 mewakili tanggal kemerdekaan RI.

Selain itu, ada 8 segi tiang gapura dan 4 kupel bawah, 5 kupel atas, yang apabila angka-angka tersebut digabung akan menunjukan tanggal kemerdekaan Indonesia. Bangunan ini juga dilengkapi dengan 20 jendela sebagai perwakilan 20 sifat Allah SWT.

5 dari 6 halaman

Makam Raja-raja Mataram

Selesai dengan masjid, ada lagi destinasi cocok untuk wisata religi di Yogyakarta. Destinasi tersebut yaitu Makam Raja-raja Mataram

Komplek makam ini kerap menjadi tujuan ziarah umat Islam dari seluruh Indonesia. Letaknya di Kotagede, yang merupakan pusat kota di masa Kerajaan Mataram Islam. 

 Makam Raja Mataram Kotagede
© https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/menikmati-suasana-magis-makam-raja-raja-matar


Sebelum memasuki kawasan makam, kita akan disuguhi bangunan dengan arsitektur bergaya campuran Islam dengan Hindu. Di kawasan dalam komplek makam, terdapat Masjid Agung Kotagede yang bersejarah.

Masuk lagi lebih dalam, kita akan menuruni tangga menuju sebuah kolam. Konon, kolam dipakai untuk mandi keluarga Kerajaan.

Untuk memasuki kawasan makam, kita diwajibkan untuk mengenakan busana adat Jawa dan sudah disediakan. Namun, komplek pemakaman ini tidak setiap hari dibuka.

Wisatawan dibolehkan berkunjung hanya pada Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat pukul 08.00-16.00 saja.

6 dari 6 halaman

Makam Kyai Nur Iman

Sosok Kyai Nur Iman Mlangi ini mungkin bagi masyarakat di luar Yogyakarta terdengar asing. Kyai Nur Iman Mlangi yang memiliki nama asli Raden Mas Sandeyo merupakan pendiri dusun Mlangi di Sleman yang menganut ajaran Islam taat. 

Kyai Nur Iman inilah yang mengajarkan agama Islam pada masyarakat Mlangi.

Menurut sejarah, Kyai Nur Iman merupakan putra dari Amangkurat IV, yang juga cucu dari Untung Suropati. Sebelum sampai ke dusun Mlangi, Kyai Nur Iman pergi nyantri ke daerah Jawa Timur.

 Makam Kyai Nur Iman Mlangi
© https://kelilingpesonawisata.travel.blog/2018/02/08/masjid-jami-dan-makam-kyai-nur-iman-di-desa-wisa


Kyai Nur Iman jugalah yang berperan mengajukan perjanjian Giyanti. Lewat perjanjian ini, Kerajaan Mataram Islam dipecah menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Walau masih memiliki darah ningrat Kyai Nur Iman lebih memilih tinggal di luar keraton dan menyebarkan ajaran Islam. Makamnya yang terletak di belakang Masjid Jami’ kini menjadi tempat ziarah berbagai kalangan.


Join Dream.co.id