AS Kembali Hidupkan Misi Pahlawan Siber

Techno | Kamis, 25 Juli 2019 10:48
AS Kembali Hidupkan Misi Pahlawan Siber

Reporter : Maulana Kautsar

Direktorat Keamanan Siber milik NSA diklaim lebih baik ketimbang Homeland Security dan FBI.

Dream - Badan Keamanan Nasional Amerikat Serikat (NSA) membuat Direktorat Keamanan Siber. Direktorat baru ini untuk menghidupkan kembali misi pahlawan siber (white hat).

Badan keamanan siber itu rencananya diluncurkan pada 1 Oktober. Direktur Senior NSA, Anne Neuberger, akan menjabat di direktorat baru ini.

Dilaporkan CNet, Anne sebelumnya menjabat asisten wakil direktur operasi NSA, chief risk officer dan kepala NSA / USCybercom Group Small Security Security. Institusi itu yang bekerja melawan keterlibatan asing selama pemilihan jangka menengah AS 2018.

" Pendekatan baru ini untuk keamanan siber lebih memposisikan NSA sebagai kolaborator dengan mitra kunci di seluruh pemerintah AS seperti Komando Cyber AS, Departemen Keamanan Dalam Negeri, dan Biro Investigasi Federal (FBI)," kata NSA.

NSA juga menyebut, kemungkinan berbagi informasi dengan mitra mengenai aktivitas keamanan siber yang berbahaya.

2 dari 6 halaman

Ada Hubungan Teroris Siber dan Hubungan Sejenis?

Dream - Analis keamanan digital terkemuka mengungkap fakta mengejutkan terkait kebiasaan pelaku terorisme cyber yang menginisiasi serangan ke Barat.

Konsultan digital di Errata Security, Robert Graham mengatakan, banyak peretas dari kelompok ekstrim yang mempelajari keterampilan digital. Tujuannya, mengatasi sensor di negara asal si hacker. 

Graham mengatakan, para calon peretas itu frustrasi menghadapi perbedaan seksualitas mereka. Dari sana, mereka belajar pada forum-forum komunitas gerakan bawah tanah.

Graham menyebut, untuk dapat masuk ke komunitas digital itu mereka harus mengunggah foto seronok.

" Saya telah menjelajahi laman gelap komunitas itu dan sampai pada beberapa kesimpulan," tulis Graham dikutip dari metro.co.uk, Senin, 5 November 2018.

Motivasi utama para peretas ini adalah hubungan sejenis.  Graham mengatakan, kemampuan itu diperlukan karena negara dan sosial masyarakat mereka melarang adanya hubungan sejenis.

Meski begitu, Graham tak dapat menyimpulkan motivasi sesungguhnya mengapa banyak terorisme cyber masuk ke komunitas hubungan sejenis itu.

" Sulit bagi kami untuk memahami motivasi mereka," kata Graham.

Tetapi, Graham punya asumsi lain. Dia menduga asumsi para terorisme cyber itu bukan untuk mendukung membela hak-hak kaum hubungan sejenis.

" Tujuan mereka ialah menikah dan memiliki anak," ujarnya.  (ism)

3 dari 6 halaman

Bukan Amerika, Indonesia Pilih India untuk Kerja Sama Siber

Dream - Indonesia akan membahas kerja sama keamanan siber dan alat utama sistem pertahanan (alutsista) dengan pemerintah India, akhir Januari 2018. 

WProses kerja sama itu akan dilakukan Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke India dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN Plus di India.

“ Jadi memperingati ulang tahun antara ASEAN ‎dan India, dan mengadakan pertemuan di sana,” ujar Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto di Jakarta pada Senin, 15 Januari 2018, kepada Anadolu Press Agency.

Wiranto mengatakan, kunjungan kerjanya ke India beberapa waktu lalu menghasilkan kerja sama di sejumlah bidang. Antara lain industri alutsista, penyeldikan kasus Laut China Selatan, serta pendanaan penangkalan terorisme.

“ Presiden akan hadir di sana, sehingga hasil evaluasi tadi akan kita laporkan ke presiden. Beliau punya satu pandangan yang sangat luas tentang hubungan antara Indonesia dan India,” ujar Wiranto.

Meski demikian, Wiranto mengaku tertarik dengan kerja sama industri alutsista dan sistem siber di India. India dinilai telah mandiri dalam industri alutsista.

Wiranto juga berharap Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bisa bekerja sama dalam sistem siber dengan India.

“ Di sana sudah maju, bahkan sudah bisa membuat kapal induk sendiri. Dan kalau kita bicara high teknologi, India sudah mengirimkan roketnya ke orbit bumi,” kata Wiranto. (ism) 

4 dari 6 halaman

Ngeri! Jutaan Serangan Siber Gempur Indonesia Tiap Hari

Dream – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengungkap fakta mengejutkan yang terjadi di dunia maya. Setiap hari, Indonesia digempur jutaan serangan siber. 

“ Indonesia selalu masuk menjadi 10 besar negara target serangan siber,” kata Rudiantara kepada Anadolu Agency, dikutip pada Kamis, 11 Januari 2018.

Rudiantara mengatakan temuan fakta ini didapat dari pemantauan tools secara langsung setiap hari. Tetapi, dia tidak bisa memastikan serangan itu berupa proxy atau bukan.

Untuk memudahkan, Rudiantara mengilustrasikan serangan siber ini dengan permainan karambol. 

“ Kalau dari Amerika Latin, yang terkenal itu dari Brazil yang mengirim. Dia nyerang ke Tiongkok, dari Tiongkok ke Indonesia. Nah, apakah yang dari Tiongkok itu benar-benar dari sana, atau ini dari Brazil. Jangan-jangan Tiongkok dipakai proxy, atau Indonesia dipakai proxy untuk menyerang negara lain,” kata dia.

 

5 dari 6 halaman

Pendekatan yang Komprehensif

Banyaknya serangan itu, kata Rudiantara, menjadi alasan pemerintah membentuk Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Meski sebenarnya, penanganan masalah siber sudah ada di beberapa kementerian sejak lama.

Di Kemenkominfo, permasalahan ini ditangani oleh Direktorat Keamanan. Begitupun di Kementerian Pertahanan.

“ Tapi ini tidak cukup karena berjalan masing-masing. Kita butuh yang terkoordinasi, butuh pendekatan yang lebih komprehensif,” kata dia.

Lebih lanjut, Rudiantara mengatakan meskipun BSSN sudah dibentuk, kementeriannya juga sudah memiliki divisi Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID SIRTII). Divisi yang dijalankan oleh para ahli non-PNS ini bertugas untuk memaksimalkan proteksi terhadap jaringan internet di Indonesia.

“ Tugasnya adalah memproteksi masyarakat. Tapi sebenarnya, masalah ini juga menjadi tugas yang harus diperhatikan masyarakat, karena di Indonesia pemikiran atau perhatian terhadap cyber security masih rendah,” kata dia.

(Sah/Anadolu Agency)

6 dari 6 halaman

AS dan Inggris Keluarkan Peringatan Serangan Siber Global

Dream - Amerika Serikat (AS) dan Inggris memeringatkan potensi serangan siber global yang menargetkan router, pemancar, dan perlengkapan jaringan lainnya. Peringatan ini dikeluarkan untuk membantu target serangan hacker untuk melindungi diri.

" Kami tak punya pandangan secara mendalam terhadap cakupan serangan itu," kata pejabat keamanan siber Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS, Jeanette Manfra.

Kedua negara adidaya itu menyalahkan dukungan pemerintah Rusia kepada peretas yang bekerja untuk agen pemerintah, pebisnis, dan operator infrastruktur penting. Peringatan ini juga diklaim tidak berhubungan dengan dugaan serangan senjata kimia di Suriah.

Diwartakan Gulf News, Kremlin tak merespons tuduhan serangan siber itu. Sementara itu, Moskow membantah tuduhan telah melakukan serangan siber ke AS dan negara lainnya.

Meski begitu, peringatan yang dikeluarkan Senin 16 April 2017 itu tetap menuai kritik. Beberapa pakar keamanan siber swasta mengkritik pemerintah AS yang terkesan lamban merilis informasi.

Seorang pejabat senior AS, yang enggan disebut namanya, mengatakan bahwa serangan siber Rusia dalam beberapa tahun terakhir memiliki keunikan. " Serangan ini lebih sulit dilacak dan dideteksi," kata pejabat itu.

Washington dan Inggris yang menerbitkan peringatan bersama ini mengatakan, serangan global itu telah dilakukan sejak 2015 dan dapat meningkat seiring serangan yang terjadi.

Kecurigaan serangan siber itu sebetulnya telah muncul dua bulan setelah AS dan Inggris menuduh Rusia melakukan serangan virus NotPetya pada 2017. Serangan virus NotPetya berdampak pada lumpuhnya sebagian infrastruktur Ukraina dan merusak komputer seluruh dunia.

Koordinator Keamanan Siber Gedung Putih, Rob Joyce, mengatakan, serangan itu memengaruhi berbagai organisasi, termasuk penyedia layanan internet dan perusahaan swasta.

" Ketika kami melihat serangan maya yang berbahaya, baik itu dari Kremlin atau negara lain, kami akan menyerang balik," kata Rob.

Terkait
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna
Join Dream.co.id